13 July 2022, 16:08 WIB

Penuhi Panggilan Polisi Keempat, Presiden ACT Ibnu Khajar Bawa Koper


Siti Yona Hukmana | Politik dan Hukum

MGN/Siti Yona Hukmana
 MGN/Siti Yona Hukmana
Presiden ACT Ibnu Khajar datang di Bareskrim Polri membawa koper

PRESIDEN Aksi Cepat Tanggap (ACT) Ibnu Khajar memenuhi panggilan pemeriksaan keempat terkait dugaan penyelewengan dana kompensasi korban kecelakaan Lion Air JT-610 di Bareskrim Polri. Ibnu datang membawa koper besar berwarna abu-abu.

Ibnu tiba pukul 15.20 WIB. Namun, tak sepatah kata pun keluar dari mulut Ibnu. Dia hadir bersama kuasa hukumnya, Wida, dan tiga orang lainnya. Selain koper, mereka juga membawa sejumlah tas jinjing. Wida mengaku belum bisa berkomentar terkait pemeriksaan. Dia memastikan akan menyampaikan keterangan, namun tidak hari ini.

"Gini teman-teman, izinkan kami fokus dahulu untuk pemeriksaan hari ini. Nanti ada waktunya kita akan bicara tapi enggak hari ini, biar kami fokus dulu," kata Wida di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Rabu (13/7).

Wida juga belum mau komentar terkait isi koper. Namun, dia menyebut koper itu diperlukan untuk pemeriksaan.

"Ya untuk pemeriksaan pastinya," ujar dia.

Baca juga: Presiden dan Eks Presiden ACT Kembali Diperiksa Siang Ini

Selain Ibnu, polisi juga mengagendakan pemeriksaan keempat terhadap mantan Presiden ACT Ahyudin. Ahyudin datang lebih dahulu, sekitar pukul 13.00 WIB.

Kasubdit 4 Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri Kombes Andri Sudarmaji belum mau membeberkan hasil pemeriksaan Ibnu dan Ahyudin yang telah dilakukan tiga hari. Namun, dia membenarkan pemeriksaan terkait dugaan penyelewengan dana kompensasi korban kecelakaan Lion Air JT-610.

"Ya (dugaan penyelewengan dana kompensasi korban Lion Air), termasuk penggunaan yang lainnya," kata Andri.

Polri mengungkap ketidakberesan lembaga filantropi ACT mengelola dana bantuan untuk ahli waris korban kecelakaan pesawat Lion Air JT-610 pada 2018. Dana tersebut diduga disalahgunakan oleh mantan Presiden ACT Ahyudin dan Presiden ACT Ibnu Khajar.

"Melakukan dugaan penyimpangan sebagian dana social/CSR dari pihak Boeing tersebut untuk kepentingan pribadi masing-masing berupa pembayaran gaji dan fasilitas pribadi," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan melalui keterangan tertulis, Sabtu, 9 Juli 2022.

Ketika dana bantuan tersebut masuk, Ahyudin menjabat merangkap ketua, pengurus, dan pembina di ACT. Sedangkan, Ibnu selaku ketua pengurus.

Selain itu, lembaga filantropi tersebut juga menampung donasi Rp60 miliar per bulan. Total donasi itu langsung dipangkas 10-20 persen oleh ACT. Jumlah tersebut setara dengan Rp6-12 miliar.

Pemotongan tersebut untuk membayar keperluan gaji pengurus dan seluruh karyawan ACT. Sejumlah pihak lain di dalam struktur ACT juga kecipratan uang tersebut. Pembina dan pengawas juga mendapatkan dana operasional yang bersumber dari potongan donasi itu.

Kasus telah naik ke tahap penyidikan, artinya polisi mengantongi unsur pidana. Polisi tengah mencari dua alat bukti guna menetapkan tersangka.(OL-5)

BERITA TERKAIT