30 June 2022, 13:32 WIB

Iriana Jadi Bukti Perempuan Punya Peran Penting dalam Proses Perdamaian


Andhika Prasetyo | Politik dan Hukum

ANTARA/Puspa Perwitasari
 ANTARA/Puspa Perwitasari
Iriana Jokowi

Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden Siti Ruhaini Dzuhayatin mengungkapkan keikutsertaan Ibu Negara Iriana Joko Widodo dalam menjalankan misi damai Indonesia ke Ukraina memberikan sinyal penting bagi dunia.

Pelibatan perempuan dalam proses perdamaian tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Dengan kehadiran Iriana di tengah-tengah wilayah konflik, kunjungan Presiden Jokowi menjadi seperti sebuah lawatan yang didasarkan pada ketulusan karena persahabatan.

Situasi di setiap kunjungan pun terasa lebih hangat meskipun lokasi-lokasi yang dipijak penuh dengan kengerian.

“Kebersamaan Ibu Iriana dan Presiden Jokowi menampilkan keseharian nyata yang hangat dan apa adanya. Sikap itu membawa pesan damai yang kuat agar konflik segera berakhir dan rakyat dapat kembali pada kehidupan normal,” ujar Ruhaini melalui keterangan resmi, Kamis (30/6).

Dalam banyak kasus, lanjutnya, pelibatan perempuan dalam proses rekonsiliasi kerap membawa hasil yang positif. “Karena perempuan lebih memikirkan dan mementingkan aspek proteksi kemanusiaan ketimbang sekadar ambisi dan kepentingan politis,” jelasnya.

Pesan yang ditampilkan Iriana juga begitu penting karena, selama ini, perempuan kerap menjadi korban berlapis dalam setiap konflik atau peperangan. Mereka harus menanggung beban ganda. Kepentingan mereka pun selalu terlupakan.

Sebagaimana diketahui, Iriana Jokowi kut mendampingi kepala negara dalam misi perdamaian ke Ukraina.

Dalam kesempatan itu, ia secara simbolis menyerahkan bantuan kemanusiaan berupa obat-obatan kepada pusat Ilmiah dan Bedan Endokrin, Transplantasi Organ dan Jaringan Endokrin Ukraina, di Kyiv. Sebelumnya, Ibu Negara bersama Presiden juga melihat langsung kompleks apartemen Lipky di kota Irpin yang hancur akibat serangan pasukan Rusia.

Keikutsertaan Ibu Iriana dalam misi perdamaian ke Ukraina menjadi sorotan dan memunculkan beragam pertanyaan publik. Terlebih, kunjungan itu dilakukan di tengah peperangan. “Keputusan keikutsertaan Ibu Negara tentu memerlukan pertimbangan dan koordinasi yang intensif antara pihak Indonesia dengan pihak Ukraina, mengingat situasi dan kondisinya sangat dinamis dan tidak pasti,” tutup Ruhaini. (OL-12)

BERITA TERKAIT