29 June 2022, 15:33 WIB

Cegah Polarisasi, Pengamat: Peserta Pemilu Harus Buka Dialog


Yakub Pryatama Wijayaatmaja | Politik dan Hukum

ANTARA.
 ANTARA.
Mahasiswa ISI Surakarta membuat mural dengan tema pemilu di Pasar Gede, Solo.

PARTAI Politik kompak untuk menghilangkan polarisasi pada Pemilu 2024. Mereka tak ingin masyarakat terbelah akibat kontestasi pemimpin nasional tersebut.?

Direktur Eksekutif Perludem Khairunnisa Nur Agustyati mengatakan polarisasi terjadi salah satunya karena politik identitas yang diangkat saat kampanye pemilu. 

Baca juga: Kondisi Menpan RB Tjahjo Membaik 

“Isu ini digunakan karena isu politik identitas yang paling mudah digunakan untuk mendekati pemilih,” ungkap Nisa kepada Media Indonesia, Rabu (29/6). 

“Identitas melekat dengan publik, dan salah satu variabel yang digunakan pemilih untuk memilih adalah variabel kesamaan identitas,” tambahnya. 

Menurutnya, ada situasi di mana publik Indonesia tidak dekat dengan parpol yang ada. 

Sehingga, kata Nisa, membuat calon pemilih tidak tertarik untuk mengetahui visi, misi, dan program parpol.  “Situasi ini disadari oleh peserta pemilu oleh karena itu paling mudah adalah dengan menggunakan isu identitas,” teranganya. 

Maka, Nisa meminta para peserta pemilu tak menggunakan isu identitas guna menghindari polarisasi. 

“Peserta pemilu jangan menggunakan isu ini untuk menarik suara pemilih,” tegasnya. 

Nisa meminta agar pemerintah perlu segera mengeluarkan semacam kode etik bagi peserta pemilu. 

Selain itu, peserta pemilu juga harus mau membuka dialog dengan publik.

Hal itu wajib dilakukan sehingga tidak ada anggapan bahwa isu politik identitas ini sengaja digunakan untuk meraih suara pemilih.

Sebelumnya, Ketua Harian DPP Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad menyampaikan pihaknya berupaya mengambil jalan tengah dalam Pilpres 2024 nanti. Mereka ingin mengambil posisi lebih netral dalam kontestasi nanti, tidak terlalu ke kanan atau kiri.

"Saya pikir kami akan mengambil jalan tengah ini supaya kemudian tdk ada polarisasi-polarisasi," kata Dasco di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, hari ini. 

Upaya menghindari polarisasi juga tergantung kepada kandidat dan koalisi. Seluruh kontestan dan koalisi diminta menghindari kampanye yang menimbulkan pembelahan di tengah masyarakat. 

"Dan juga kepada semua calon nanti kita harapkan supaya tidak ada calon-calon kemudian (melakukan tindakan) yang bisa membuat polarisasi," ujar dia.

Keinginan menghilangkan polarisasi pada Pemilu 2024 juga diinginkan Partai Golkar. Partai lambang pohon beringin itu meyakini seluruh partai menginginkan pemilu damai.

"Ya kita ini kan untuk membangun, butuh soliditas, butuh kebersamaan, jangan saling gontok-gontokkan sesama anak bangsa," kata Wakil Ketua Umum (Waketum) Golkar Ahmad Doli Kurnia. (OL-6)

BERITA TERKAIT