24 June 2022, 18:38 WIB

Poros Koalisi Mulai Mengerucut


Indriyani Astuti | Politik dan Hukum

Dok.Medcom
 Dok.Medcom
Ilustrasi

KOALISI partai politik idealnya disatukan oleh faktor kedekatan ideologi. Meski demikian, beberapa waktu terakhir elit partai dan ketua umum di tanah air intens menjalin komunikasi demi menjajaki koalisi.

Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia Hanta Yuda menilai silaturahmi para elit dan tokoh politik belakangan ini bukan didasarkan pada kedekatan ideologis, namun pertimbangan taktis administratif.

"Agar tercukupi persyaratan ambang batas pencalonan presiden sebesar 20% pada pemilu 2024," ujar Hanta ketika dihubungi, Jumat (24/6).

Hanta merinci bahwa faktor lain yang menjadi alasan partai politik berkoalisi yakni kedekatan figur sentral utama partai. Ia mencontohkan, PDI Perjuangan enggan berkoalisi dengan Partai Demokrat karena secara historis hubungan kedua tokoh sentral yakni Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dan Pendiri Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, sangat dingin.

"Tetapi jika membaca pergerakan Golkar, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai Amanat Nasional (PAN) yang sudah bergabung membentuk koalisi, bisa diasumsikan bukan karena ideologi. Itu kedekatan antara tokoh partainya dan taktis untuk mengejar syarat ambang batas 20% seperti Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Demokrat dengan NasDem," papar Hanta.

Selain itu, Hanta menuturkan ada variabel lain yang menjadi alasan para elit partai bertemu yakni lobi-lobi politik antara kingmaker atau penentu sosok calon presiden yang akan diusung. Faktor lainnya, imbuh Hanta, ialah figur calon presiden yang akan diusung bersama-sama.

NasDem, dalam Rapat Kerja Nasional, beberapa waktu lalu, menyodorkan tiga nama yakni Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, dan Panglima TNI Andika Perkasa untuk ditawarkan sebagai calon presiden.

Baca juga: Megawati Tegaskan Elektabilitas Bukan Modal Utama Jadi Capres PDIP

"Meskipun Ganjar kuat di NasDem tetapi partai itu tengah menjajaki komunikasi dengan Demokrat dan PKS, paling potensial nama Anies yang nanti akan digulirkan dari kerja sama itu," ujar Hanta.

Sementara itu, Partai Golkar, PPP, dan PAN yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) belum memunculkan figur yang akan dicalonkan, tetapi Hanta meyakini Ganjar Pranowo berpeluang menjadi calon dari hasil kerja sama itu, sedangkan dari koalisi Gerindra dan PKB, menurutnya sosok yang paling mungkin diusung adalah Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Hanya PDI Perjuangan, ujar Hanta, partai politik yang dapat mengusung calon dari kader sendiri tanpa harus berkoalisi. Pasalnya, PDI Perjuangan memperoleh suara sekitar 22% pada pemilu 2019. "Bisa Puan Maharani yang diusung jika PDI Perjuangan tidak bergabung (koalisi)," terang Hanta.

Ia juga menyebut saat ini sudah terlihat jumlah poros partai politik pada pemilu 2024. Meskipun demikian, imbuh dia, koalisi politik masih cair. Pola itu menurutnya sudah mengerucut menjadi tiga poros ditambah satu poros apabila PDI Perjuangan akan mengusung calonnya sendiri.

"Polanya sudah mengerucut, tiga sampai empat poros. Poros pertama KIB (Golkar, PAN, PPP), poros kedua Kebangkitan Indonesia Raya terdiri atas Gerindra dan PKB. Ketiga, partai-partai saat ini sedang melakukan komunikasi yaitu NasDem, Demokrat, dan PKS. Poros keempat adalah PDIP bisa sendiri tanpa berkoalisi. Kalau PDI Perjuangan bergabung dengan Gerindra dan PKB menjadi 3 poros, tetapi bisa tripolar, bahkan dua poros saja," tukasnya. (OL-4)

BERITA TERKAIT