22 June 2022, 22:54 WIB

Refleksi Pidato Megawati, Puan Maharani Dinilai Kandidat Kuat Capres PDI Perjuangan


Thomas Harming Suwarta | Politik dan Hukum

Antara/ M. Risyal Hidayat
 Antara/ M. Risyal Hidayat
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Ketua DPP PDIP Puan Maharani memimpin Rakernas PDIP

PIDATO Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dalam pembukaan Rakernas PDI Perjuangan mengirim sinyal kuat bahwa Puan Maharani merupakan kandidat kuat Calon Presiden (Capres) yang hendak diusung PDI Perjuangan dalam kontestasi pilpres 2024. 

Sinyal itu dapat dibaca dari aksentuasi pidato Megawati sebagai pertanda keteguhan sikap politik seorang Ketua Umum PDI Perjuangan. Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Sekretaris NU Jawa Barat (2010-2021) Adlan Daie kepada wartawan di Jakarta, Rabu (22/6). 

"Bu Mega bilang, survei itu hanya boleh dilihat, tetapi tidak boleh bergerak mengikuti irama survei. Inilah prinsip yang dipegang ibu Mega. Berdaulat secara politik, kokoh secara ideologis dan legitimated secara sosial. Tidak mudah kaget (gumonan) atas framing media, lembaga survei dan kekuatan "mainan" politik dari luar PDI Perjuangan,” ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, aksentuasi pidato politik Megawati tersebut jelas dan tegak lurus dalam konteks menjaga konstitusi partai.

Bahwa amanat kongres PDI Perjuangan telah memberi mandat dan hak prerogatif tunggal kepada Megawati dalam menentukan Capres yang akan diusung PDI Perjuangan. Karena itu, Megawati tidak ragu-ragu untuk memecat siapa pun kader PDI Perjuangan yang menurutnya "coba-coba bermanuver di luar garis partai dan bermain dua kaki".

Tak hanya itu, tekanan lain dari pidato Megawati sengaja disampaikan tentang posisi Puan "sebagai anak tercintanya dan Puan mencintai ibunya". Pernyataan ini meskipun secara tersurat dalam konteks "trah" biologis Puan akan tetapi dalam konstruksi disampaikan dalam forum resmi setingkat Rakernas PDI Perjuangan yang sangat berwibawa dan dihadiri Presiden Jokowi jelas sebuah pernyataan berbobot politis dalam kerangka ideologi.

“Saya kira, ini sikap politik PDI Perjuangan,” tuturnya.

Baca juga : Simulasi Capres Litbang Kompas: Ganjar Ungguli Prabowo dan Anies

Dia menilai, pemaknaan pidato politik Megawati dalam pembukaan Rakernas PDI Perjuangan aktualisasinya dalam konteks Ganjar Pranowo tentu penting untuk segera mempertegas posisi politiknya atas dukungan para relawan terhadapnya yang berlangsung massif di berbagai daerah. 

“Berhenti bermanuver hendak mendekte keputusan Megawati dalam hal menentukan Capres PDI Perjuangan. Karena dalam konteks inilah dugaan bahwa Ganjar Pranowo 'bermain dua kaki' sebagaimana secara implisit dapat ditangkat dari pidato Megawati tersebut,” imbuhnya.

Dengan kata lain, spirit dari pidato Megawati dalam forum Rakernas tersebut hendak menegaskan bahwa kontestasi Pilpres 2024 bukan kontestasi elektoral ibarat 'idol', ajang mencari idola selebritis, melainkan sebuah pertaruhan ideologis bagi PDI Perjuangan dalam konteks transisi ideologis dari Megawati ke Puan Maharani. 

“Ini sebuah sikap politik dalam menjaga kesinambungan transisi ideologi kebangsaan PDI Perjuangan,” terangnya.

Dia menegaskan, dalam konteks pertaruhan ideologis itulah Puan Maharani menjadi pilihan tepat bagi PDI Perjuangan untuk diusung sebagai Capres dalam kontestasi pilpres 2024. 

“Itulah yang harus dipahami dari pidato politik Megawati dalam Rakernas PDI Perjuangan di atas baik oleh para politisi dan relawan politik "di luar" PDI Perjuangan maupun umumnya para pengamat politik,” pungkasnya. (OL-7)

BERITA TERKAIT