18 June 2022, 22:49 WIB

Kerasulan Awam Menghadirkan Gereja dalam Bidang Sosial Politik


Abdillah M Marzuqi | Politik dan Hukum

MI/ Abdillah M Marzuqi
 MI/ Abdillah M Marzuqi
Ketua KWI Ignatius Suharyo

KETUA Komisi Kerasulan Awam Konferensi Waligeraja Indonesia (Kerawam KWI) Vincensius Sensi Potokota mengungkapkan kerasulan awam harus bergerak, menginspirasi, terlibat langsung di tengah kehidupan umat. 

Hal itu diungkapkan saat menutup Pertemuan Nasional (Pernas) Komisi Kerawam KWI 2022 di Pusat Pastoral Samadi, Jakarta, Sabtu (17/6).

“Salah satu tugas kerasulan ini adalah menghadirkan gereja dalam bidang sosial politik kepada umat,” ujarnya.

Uskup Agung Ende itu juga mengungkapkan melalui kerasulan awam, umat didorong agar tanggap dan terlibat secara aktif dalam karya sosial-politik yang menginspirasi dan menghadirkan gereja di tengah masyarakat luas. 

Terutama, tatkala negara dan bangsa Indonesia bersiap menyongsong salah satu momentum penting demokrasi yang akan melahirkan pemimpin nasional melalui pemilu 2024. 

Ketua Konferensi Waligereja Indonesia Ignatius Suharyo menekankan pentingnya karya dan gerakan kerasulan awam. Menurutnya, inspirasi merupakan fundamenal bagi manusia untuk ke luar dari zona nyaman, aktif bergerak, tanggap, dan terlibat melalui keahlian serta profesi masing-masing. 

Sehingga gerakan kerasulan awam dapat membantu lingkungan yang menjunjung humanitas dalam kehidupan berbangsa dan semesta, termasuk bidang sosial dan politik. 

Ignatius juga menyinggung pentingnya karya kerasulan awam dari hulu ke hilir, dari membaca konteks sosial melalui analisis hingga bermuara pada gerakan nyata dalam menanggapi momentum sosial politik yang menjamin demokrasi dan keadilan.

“Kita tidak sekadar menjalankan tugas dengan motivasi tapi juga dengan inspirasi iman” ujarnya.

Pernas Kerawam KWI 2022 bertema Umat Katolik Tanggap dan Terlibat yang berlangsung selama 14 – 17 Juni. Pertemuan nasional itu menjadi salah satu upaya gereja menghadirkan dukungan persisten pada upaya negara menjaga Pancasila, UUD 1945 serta keutuhan bangsa dan negara dari segala bentuk intoleransi dan radikalisme. 

Terdapat dua agenda utama Pernas 2022 yakni, membaca peta ekosistem sosial politik dalam dua tahun menjelang Pemilu 2024, serta potensi polarisasi politik identitas. Kedua, melihat situasi riil terkini gerakan radikalisme dan intoleransi yang mengancam diversitas kehidupan umat lintas-iman di Tanah Air. 

Salah satu hasil rekomendasi Pernas 2022 kepada Konferensi Waligereja Indonesia serta umat Katolik adalah mendukung pelaksanaan Pemilu 2024 yang bersih, demokratis, berintegritas,dan tidak diwarnai politik identitas. 

Direktur Eksekutif Charta Politika Totok Yunarto memberikan paparan terkait peta kontestasi pemilu dan elektoral nasional dalam kegiatan tersebut. Totok mengatakan gerakan kerasulan awam perlu terus memperbarui pendidikan dan informasi politik yang aktual karena pemilu masih jauh dari proses yang bisa dikatakan berkualitas.

“Di masa kemarin pemilu kita masih bicara mengenai isu paling primitif yaitu SARA,” ujarnya.

Sebab itu, menurut Totok, sebelum berbicara mengenai program terbaik buat bangsa, penting untuk memastikan isu-isu primitif dalam pemilu harus dielimir terlebih dahulu

“Di sinilah peran kerasulan awam yang berhubungan langsung dengan rakyat banyak di setiap daerah untuk memberikan pendidikan dan informasi politik yang tepat,” pungkasnya. (OL-8)

BERITA TERKAIT