10 June 2022, 17:51 WIB

Soal Tiga Periode, Jokowi: Yang Ngomong Bahlil, yang Didemo Saya


Andhika prasetyo | Politik dan Hukum

ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
 ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
 Presiden Joko Widodo menyampaikan pemaparan saat peresmian Persemaian Rumpin di Bogor, Jawa Barat

PRESIDEN Joko Widodo meminta seluruh pihak berhati-hati dan menahan diri untuk tidak mengeluarkan komentar-komentar yang bisa memicu kegaduhan, terutama menjelang Pemilu 2024.

Hal tersebut ia sampaikan setelah Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Mardani Maming mendukung Jokowi untuk melanjutkan setelah 2024.

"Tadi banyak yang menyampaikan lanjutkan-lanjutkan. Hati-hati ini tahun politik. Bapak ibu yang menyampaikan lanjutkan-lanjutkan tapi saya yang didemo," ujar Jokowi dalam Perayaan 50 Tahun Hipmi di Jakarta, Jumat (10/6).

Kepala negara mengaku sudah seringkali menjadi sasaran unjuk rasa karena komentar-komentar nyeleneh orang-orang di sekitarnya, termasuk para menteri di Kabinet Indonesia Maju.

Baca juga: Jokowi Perpanjang Masa Tugas Anggota DKPP Tiga Bulan

Menteri Investasi Bahlil Lahadalia menjadi satu contoh. "Kan sudah tejadi. Pak mantan ketua Hipmi, Menteri Investasi, karena alesan ini, ini, ini, lanjutkan! Besoknya, tidak sampai sehari, saya didemo besar-besaran. Yang ngomong bukan saya tapi yang didemo saya. Demo Pak Bahlil, dong," ucap mantan wali kota Solo itu.

Sejatinya, Jokowi memahami makna dibalik kata 'lanjutkan' yang kerap disampaikan para menterinya. Itu bukan merujuk pada masa pemerintahan, melainkan program-program, kebijakan-kebijakan yang berorientasi pada kemajuan bangsa dan negara. Namun, itu seringkali ditanggapi atau diasumsikan berbeda oleh masyarakat.

"Sebetulnya saya menangkap. Yang dimaksud lanjutkan itu adalah programnya. Tapi karena ini tahun politik, hati-hati," tegasnya.

Jokowi pun menekankan bahwa siapapun pemimpin Indonesia di masa mendatang, program-program yang terbukti efektif dan membawa manfaat besar sudah semestinya dilanjutkan.

"Pemimpinnya siapapun, terserah. Tapi lanjutkan program-programnya supaya ada keberlanjutan. Jangan sampai pemimpin satu sudah kerja tapi tidak diteruskan oleh pemimpin selanjutnya. Kalau seerti itu, mulai dari TK terus. Sudah ke SMP, SMK, balik lagi ke TK. Kapan kita mau sampai lulus universitas?" tandasnya.(OL-4)

BERITA TERKAIT