03 June 2022, 21:01 WIB

FGD NasDem Soroti Isu Energi, Lingkungan dan Geopolitik Dunia


Putra Ananda | Politik dan Hukum

MI/M. Irfan
 MI/M. Irfan
NasDem Tower

FENOMENA perubahan iklim yang terjadi sejak 1950 akibat revolusi industri dan berkurangnya kemampuan hutan dalam menekan emisi, mengakibatkan meningkatnya pemanasan global. Fenomena ini tentu menjadi tanggung jawab bersama dalam mencapai zero emission di 2060.

Demikian disampaikan Ketua Koordinator Bidang Kebijakan Publik dan Isu Strategis DPP NasDem, Suyoto, saat mengantarkan Focus Group Discussion (FGD) dalam rangka menjaring masukan untuk menyambut Rakernas NasDem di NasDem Tower, Jakarta Pusat, Jumat (3/6).

Mantan Bupati Bojonegoro itu menyatakan, jika panas bumi terus naik dua derajat celcius akan berdampak langsung terhadap lingkungan dan keberlangsungan kehidupan. Mulai dari naiknya air laut hingga punahnya sejumlah tanaman dan hewan bahkan mengancam produksi pangan manusia.

"Karena itu ini bukan sesuatu yang bisa kita sepelekan sebagai umat manusia. Ini sangat serius yang kalau umat manusia gagal menurunkan panas bumi maka seluruhnya akan menderita," kata Suyoto dalam FGD bertajuk Energi, Lingkungan Hidup dan Geo Politik Dunia itu.

Lebih jauh Suyoto menekankan, saat ini dibutuhkan komitmen bersama untuk mengurangi tingkat emisi di masyarakat dan dia menilai Indonesia termasuk yang berkomitmen mencapai zero emission di 2060.

Hadir dalam FGD tersebut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif, Deputi Bidang Kemaritiman dan SDA BAPPENAS Arifin Rudiyanto, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Eddy Soeparno, Mantan Direktur Utama PT. Pertamina, Elia Massa Manik sebagai narasumber

Turut hadir Direktur Mitigasi Perubahan Iklim KLHK Emma Rachmawati dan Ketua Ikatan Alumni ITB Gembong Primadjaya sebagai penaggap.

Dalam acara yang dipandu Wakil Sekretaris Jendral DPP Garda Pemuda NasDem, Duwi Pratiwi, sebagai Moderator itu juga menghadirkan Wakil Ketua Dewan Pakar NasDem, Pieter F Gontha sebagai pembicara penutup.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif menegaskan, Indonesia memiliki potensi sumber daya energi terbarukan yang cukup besar. Dibutuhkan teknologi dan investasi besar dalam menggarap potensi tersebut. Pihaknya pun terus melakukan upaya berkelanjutan agar Indonesia mencapai zero emission di 2060.

"Kebijakan presiden untuk hilirisasi energi adalah kebijakan yang jitu. Sehingga ke depan kita tidak lagi menjual mentah tapi diolah dalam negeri untuk menjamin transisi energi dan berkontribusi pada dunia," kata dia.

Baca juga : Wapres: Lulusan Pesantren tidak Hanya Berkiprah di Ilmu Agama

Deputi Bidang Kemaritiman dan SDA BAPPENAS Arifin Rudiyanto mengupas cita-cita mencapai zero emission terus diupayakan dantaranya melalui perencanaan dan pembangunan rendah karbon, penanganan limbah dan pengembangan ekonomi hijau.

Menurut dia, Indonesia sampai hari ini masih bergantung kepada fosil sebagai energi utama. Padahal kedepannya kebutuhan akan semakin meningkat sehingga perlu perencanaan yang terampil agar semakin efisien.

"Bappenas terus melakukan skenario-skenario guna mencapai net zero emission di tahun 2060. Kita menghadapi tantangan seperti besarnya investasi yang dibutuhkan, hingga adanya risiko dan kebutuhan akan transfer teknologi," kata dia.

Kemudian Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Eddy Soeparno menuturkan energi merupakan aset dan isu strategis dunia. Kondisi itu membutuhkan jaminan ketersediaan distribusi dan harga yang terjangkau dari sumber energi.

Karena menurut dia saat ini animo masyarakat dalam menggunakan energi semakin tinggi sehingga permintaan melonjak. Menurut Edy saat ini ketergantungan yang sangat besar terhadap sumber daya energi konvensional fosil seperti batubara, gas bumi dan minyak bumi.

"Kita masih berhadapan dengan problem peningkatan kebutuhan energi meningkat dari peningkatan jumlah penduduk dan tuntutan atas standar hidup yang lebih baik. Masa Depan energi kita bisa dimanfaatkan dengan beriringan dengan pembangunan ekonomi melalui green energy," kata Eddy.

Mantan Direktur Utama PT. Pertamina Elia Massa Manik menawarkan optimisme dalam melihat permasalahan tersebut. Dia tidak ingin negara yang dulu bisa mengekspor minyak justru hari ini produksinya terus turun bahkan harus membeli dari negara lain untuk kebutuhan dalam negeri.

Menurut dia juga dibutuhkan pendekatan personal dan terpadu terutama tidak hanya memberikan tanggung jawab kepada Kementerian ESDM semata karena menurut dia dibutuhkan kebijakan fiskal dan diperlukan desain price policy yang baik dalam mendukung transformasi energi terbarukan.

"Diperlukan roadmap dan kebijakan yang jelas dan berkesinambungan. Saya mengusulkan paling tidak ini 15 sampai 20 tahun ini baru bisa. Jadi jangan setiap ganti pemimpin kita ganti kebijakan," demikian Elia.

FGD kali ini diselenggarakan sebagai rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) NasDem 2022 yang akan dilaksanakan pada 15 sampai 17 Juni di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta Pusat. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT