22 May 2022, 11:38 WIB

Penjelasan Singapura Soal UAS Dinilai Cermat tapi Kurang Bijak


Theofilus Ifan Sucipto | Politik dan Hukum

Medcom/ Theofilus Ifan Sucipto
 Medcom/ Theofilus Ifan Sucipto
Pakar hubungan internasional Hikmahanto Juwana

PAKAR politik dan hubungan internasional Hikmahanto Juwana mengatakan penjelasan Singapura soal penolakan Ustaz Abdul Somad (UAS) sudah cermat. Namun, langkah tersebut dinilai kurang bijak sehingga masalahnya melebar.

“Muncul kegaduhan di Indonesia dan semakin panjang akhirnya. (Padahal) kalau tidak dijelaskan, (masalahnya) berhenti sampai situ,” kata Hikmahanto dalam diskusi virtual Crosscheck Medcom.id bertajuk ‘UAS Ditolak Singapura, Jangan Jadi Gaduh di Indonesia,’ Minggu (22/5)

Hikmahanto mafhum pemerintah Indonesia berupaya menghormati kedaulatan keimigrasian Singapura. Namun pemerintah akhirnya mengirim nota pada Singapura untuk menanyakan alasan menolak UAS atas desakan di dalam negeri.

“Sekarang isunya mereka-mereka (masyarakat Indonesia) tidak puas. Tidak hanya sekadar mempermasalahkan sikap Singapura, tapi mempermasalahkan pemerintah kita juga,” ujar dia.

Sebelumnya, UAS mengaku dideportasi dari Singapura. Ia tak tahu alasannya kenapa. "Info bahwa saya dideportasi dari Singapura itu sahih, betul, bukan hoaks," ucap dia dalam Youtube hai guys official.

UAS menjelaskan, dirinya pergi ke Singapura bersama lima orang lainnya. Yakni keluarga sahabatnya serta istri dan anaknya. "Saya berangkat Senin siang dari Batam pada 16 Mei 2022, sampai di Pelabuhan Tanah Merah pukul 01.30 waktu Indonesia," terang dia.

Kementerian Dalam Negeri (MHA) Singapura mengonfirmasi menolak kedatangan UAS. Alasannya karena ia dinilai kerap menyebarkan ajaran ekstremisme.

"Somad dikenal menyebarkan ajaran ekstremis dan segregasi (atau pemisahan), yang tidak dapat diterima di masyarakat multiras dan multiagama seperti Singapura," kata MHA dalam pernyataan tertulisnya, Selasa (17/5)

Misalnya, kata MHA, Somad mengatakan, bom bunuh diri adalah sah dalam konteks konflik Israel-Palestina, dan dianggap sebagai operasi 'syahid'. (OL-8)

BERITA TERKAIT