26 March 2022, 18:40 WIB

Jokowi Tegaskan IKN Bukan Sekedar Proyek Gagah-gagahan


Indriyani Astuti | Politik dan Hukum

ANTARA FOTO/HO/Setpres-Agus Suparto
 ANTARA FOTO/HO/Setpres-Agus Suparto
Presiden Joko Widodo duduk di depan tenda saat bermalam di titik nol Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.

PRESIDEN Joko Widodo (Jokowi) mengatakan pemindahan ibu kota negara (IKN) ke Kabupaten Kutai Kartanegara dan Penajam Panser di Kalimantan Timur, bukan proyek mercusuar atau untuk pamer.

Tetapi pembangunan IKN diharapkan memberikan keadilan merata di seluruh wilayah Indonesia. Pasalnya, selama ini pembangunan hanya terpusat di Pulau Jawa.

"Pemindahan IKN bukan proyek mercusuar atau untuk gagah-gagahan.

Tapi sebuah perjuangan untuk mewujudkan indonesia yg berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia," ujar Jokowi ketika menghadiri acara pengukuhan Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Sabtu (26/3).

Gagasan pemindahan IKN, terang presiden, dimulai sejak 1957 pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Pada 20 Maret 2022, imbuh presiden, pembangunan IKN dimulai sebagai usaha besar pemindahan ibu kota negara dari Jakarta di Pulau Jawa ke Kalimantan Timur.

"Kita ingin indonesia bukan Jawa-sentris, tapi Indonesia-sentris," ucapnya.

Baca juga: Setelah Ramai Kursi Baru, DPR Anggarkan 48,7 Miliar untuk Ganti Gorden

Pulau Kalimantan, terang presiden, berada di zamrud khatulistiwa. Sehingga transformasi besar dengan adanya pembangunan IKN di sana, dimaksudkan bukan sekadar pemindahan ibu kota negara. "Kita harus menjadi negara ekonomi kuat dan mandiri karena itu juga kita telah memulai proses transformasi ekonomi secara besar-besaran," terang presiden.

Transformasi ekonomi yang dimaksudkan ialah mengubah jati diri dari negara pengekspor bahan mentah, menjadi negara industri yang berwawasan lingkungan. Karenanya, revitalisasi industri mulai dilakukan dengan tetap memerhatikan lingkungan.

"Itu sebabnya kita harus menyeimbangkan antara aspek kesejahteraan dengan aspek lingkungan dengan penerapan ekonomi hijau secara konsisten dan berkelanjutan.

Ini tentu tidak menyenangkan bagi yang suka impor karena semuanya dibuat di Indonesia," cetus presiden. (OL-4)

BERITA TERKAIT