15 March 2022, 18:15 WIB

Temuan Ombudsman di 274 Pasar: Minyak Goreng Masih Langka


Insi Nantika Jelita | Politik dan Hukum

ANTARA FOTO/Jojon
 ANTARA FOTO/Jojon
Warga mencium minyak goreng kemasan yang dibelinya setelah mengantre di operasi pasar murah di kendari, Sultra.

OMBUDSMAN RI melakukan pemantauan harga minyak goreng di 274 pasar pada awal tahun ini. Hasilnya, stok komoditas pangan itu masih langka.

Ketersediaan minyak goreng berdasarkan hasil pemeriksaan per 15 Maret dibanding pemeriksaan pada 22 Februari 2022, ditemukan bahwa minyak goreng kemasan sederhana ketersediaanya turun 12,7%.

"Adapun untuk minyak goreng premium ketersediaannya turun 31,11%," kata Anggota Ombudsman RI Yeka Hendra Fatika dalam konferensi pers virtual, Selasa (15/3).

Sementara, untuk minyak curah ketersediaannya dilaporkan naik 2,5%. Data per 22 Februari 2022, harga rata-rata minyak curah di ritel tradisional Rp15.500.

Untuk minyak goreng kemasan sederhana sebesar Rp16.000, dan minyak goreng kemasan premium sebesar Rp20.500.

Baca juga: Ada Disparitas, Ombudsman : Harga Minyak Goreng akan Terus Naik

Dalam catatan Ombudsman, harga minyak goreng di Sumatera berkisar antara Rp13.650-25.100. Lalu, harga rata-rata tertinggi terjadi di wilayah Bali dan Nusa Tenggara dengan minyak premium di pasar tradisional yang berkisar pada harga rata-rata Rp32.000.

Ombudsman menerangkan penyebab terjadinya kelangkaan minyak goreng, yakni adanya disparitas harga, penimbunan stok, hingga perilaku panic buying yang dilakukan masyarakat atau pelaku usaha.

Penyebab kelangkaan minyak goreng yang diduga dilakukan oleh spekulan ini, memanfaatkan kondisi disparitas harga yang sangat besar antara HET (harga eceran tertinggi) dengan harga di pasar tradisional yang sulit untuk diintervensi.

Yeka menyampaikan, di ritel modern, harga minyak goreng bisa diintervensi, sementara di pasar tradisional tidak bisa diintervensi alias pedagang bisa saja mengatur bebas soal harga minyak goreng.

"Pelakunya kan sangat banyak dan aktivitas spekulan ini juga yang memunculkan dugaannya terjadinya penyelundupan minyak goreng," sebut Yeka.

Soal panic buying, dia mengatakan ada upaya peningkatan stok minyak goreng yang dilakukan oleh pelaku rumah tangga maupun pelaku usaha UMKM.

"Ini merupakan respon terhadap belum adanya jaminan ketersediaan minyak goreng, terlebih lagi menghadapi puasa dan hari raya," imbuhnya. (OL-4)

BERITA TERKAIT