25 January 2022, 11:02 WIB

Anggota DPR Minta Setop Indonesia Jadi Negara Tujuan Alutsista Rongsokan


 Cahya Mulyana | Politik dan Hukum

Ist/Naval News
 Ist/Naval News
Kapal korvet milik Angkatan Laut Korea Selatan yang direncanakan dihibahkan kepada TNI Angkata Laut.   

BANGSA ini belum sembuh dari luka karena ditinggalkan 53 prajurit terbaik TNI AL yang menjadi korban karamnya kapal selam tua asal Jerman, KRI Nanggala-402.

Visi Presiden Jokowi membangun poros maritim selaiknya diimplementasikan dengan mengakhiri pola pikir sebagai bangsa pecinta alat utama sistem senjata (Alutsista) rongsokan, bekas, ketinggalan secara teknologi dan tua meskipun dari hibah terlebih dengan membeli.

Keinginan menjadi pusat peradaban yang berbasis di perairan mestinya dibarengi semangat menghadirkan alutsista yang andal, modern dan mampu mengantisipasi ancaman konflik di kawasan serta kedaulatan bangsa.

Bukan sebaliknya, gemar menerima atau membeli persenjataan bekas yang kerap membebani anggaran juga menelan korban nyawa para tunas bangsa.

Dengan demikian, menurut Anggota Komisi I DPR Rizki Aulia Rahman Natakusumah, rencana Indonesia melalui Kementerian Pertahanan RI menerima hibah tiga kapal korvet dari Korea Selatan maupun negara lain ditinjau ulang.

Meskipun alutsista itu diperoleh cuma-cuma namun tak memperkuat mutu TNI maka anggaran untuk perawatannya sebaiknya digunakan untuk membeli yang baru.

"Pada dasarnya hibah ini menunjukkan adanya kerja sama pertahanan yang baik dengan Korea Selatan. Namun yang perlu dipertimbangkan adalah apakah cost yang telah dan akan dikeluarkan sepadan dengan benefit yang didapatkan?" kata Rizki.

"Kami berpandangan sebaiknya biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan hibah alutsista bekas bisa dialihkan untuk pembelian produk alutsista dari industri pertahanan dalam negeri," ujarnya kepada Media Indonesia, Selasa (25/1).

Menurut Rizki, pertimbangan utama kaji ulang rencana penerimaan hibah itu didasarkan pada usia alutsista yang sudah tua. Kapal yang hendak diberikan dengan kesepakatan hibah tersebut telah digunakan hampir mencapai 40 tahun.

"Masalah alutsista kita itu selama ini terlalu berat di biaya perbaikan dan perawatan. Menengok ke belakang, banyak kecelakaan alutsista diakibatkan karena perawatan tidak optimal. Jangan sampai nanti kapal hibah ini memakan korban jiwa prajurit-prajurit kita lagi," paparnya.

Indonesia tidak boleh tergiur dengan hibah alutsista dari negara mana pun. Sebab pemberinya jarang memberikan kelengkapan dan kelaikan sesuai dengan kebutuhan TNI.

"Apakah kapal hibah ini dilengkapi dengan sonar dan persenjataan lainnya? atau hanya unit kapal tanpa persenjataan. Karena secara operasional ini penting," ucap Rizki.

Perhatian lainnya, kata dia, Indonesia harus bisa memastikan bahwa kapal telah bebas dari adanya kemungkinan peralatan yang masih terhubung dengan produsen atau pengguna sebelumnya. Itu supaya tidak menjadi lubang kebocoran informasi yang bersifat rahasia.

Lebih jauh, ia mengingatkan perkembangan dinamika ancaman laut yang meningkat di perairan Indonesia.

"Saat ini ditemukan banyak sea glider, patut juga diperhatikan pengadaan UUV (unmanned underwater vehicle) untuk dapat membantu memantau ancaman di bawah laut Indonesia," pungkasnya.

Diketahui Indonesia akan menerima hibah tiga kapal perang milik Korea Selatan jenis korvet. Menyusul ke depan Indonesia juga dijanjikan Jepang akan diberikan armada serupa. (Cah/OL-09)

BERITA TERKAIT