27 October 2021, 17:26 WIB

Polri Waspadai Transaksi Kripto Untuk Peredaran Narkoba


Muhamad Fauzi | Politik dan Hukum

dok.tangkapan layar
 dok.tangkapan layar
Webinar bertajuk "Geliat Narkoba Dalam Bayangan Corona", yang diselenggarakan Divisi Humas Polri, Rabu (27/10).

PANDEMI Covid 19 tidak menyurutkan peredaran Narkoba di Indonesia, bahkan ada kecenderungan meningkat. Untuk itu, Polri meminta masyarakat mewaspadai peredaran narkoba yang kini memanfaatkan media sosial dan menggunakan transaksi cryptocurrency yang sudah dilacak.

Demikian benang merah pemikiran yang mengemuka dalam webinar bertajuk "Geliat Narkoba Dalam Bayangan Corona", yang diselenggarakan Divisi Humas Polri, Rabu (27/10).

Kadiv Humas Polri Irjen Pol. Prabowo Argo Yuwono dalam sambutannya yang dibacakan Karo PID Brigjen Pol. M. Hendra Suhartiyono mengingatkan, keberlangsungan masa depan bangsa dapat terancam penyalahgunaan narkoba karena dapat merusak generasi bangsa sebagai penyambung perjuangan rakyat dan pimpinan di masa depan.

Menurut Argo, permasalahan narkoba di Indonesia bersifat urgent dan kompleks, karenanya tergolong dalam kejahatan  luar biasa, extra ordinary crime. 

Ia menunjuk hasil temuan PPATK yang mempublish rekening jumbo milik sindikat narkoba sebesar Rp120 triliun. Belum lagi ada penggagalan peredaran 1.120 kg narkoba jenis sabu. 

"Pekan lalu sebanyak 1,32 ton narkoba jenis ganja berhasil diamankan oleh jajaran Ditresnarkoba Polda Metro Jaya, dengan estimasi nilai Rp6,85 miliar," sambung Argo.

Serangkaian fakta itu, sambung Kadiv Humas Polri Irjen Pol. Argo Yuwono, tentu mengundang keprihatinan kita semua. 

Argo mengutip Kapolri Jendral Pol. Listyo Sigit Raharjo yang menyampaikan keprihatinannya di tengah situasi pandemi Covid 19 peredaran narkoba makin marak, seolah mencari lengah aparat penegak hukum.

Senada dengan Argo, Kombes Pol. I Ketut Arta, S.H. dari Dirtipid Narkoba Bareskrim Polri menambahkan, pandemi Covid 19 tidak berdampak terhadap penurunan kasus penyalahgunaan Narkoba. Bahkan penyitaan yang dilakukan Polri untuk barang bukti Narkoba jenis shabu terjadi peningkatan penyitaan yang sangat signifikan.

"Tahun 2019 ada 43.957 kasus dengan 52.222 tersangka. Tahun 2020 ada 44.398 kasus dengan 57.459 tersangka," terang Artha.

Ia juga mengungkapkan, sedikitnya 40-50 setiap hari atau 15 ribu orang per tahun meninggal karena jadi korban penyalahgunaan narkoba.

Ke depan, menurut Kombes Pol. I Ketut Artha perlu diwaspadai ancaman kejahatan cyber, yaitu: a. Peredaran narkoba melalui medsos dan website; b. Peredaran narkoba melalui jaringan  internet tersembunyi yang sangat sulit dilacak; dan c. Transaksi menggunakan cryptocurrency melalui internet yang tidak mudah dilacak, dan identitas tersembunyi.

Selain itu, lanjut Artha, perlu antisipasi untuk penyalahgunaan narkoba jenis baru, penggunaan situs-situs dan web untuk melakukan transaksi narkoba, serta penggunaan cryptocurrency sebagai media pembayaran bisnis Narkoba.

Adapun Direktur Penindakan dan Pengejaran BNN, Brigjen Pol. I Wayan Sugiri mengemukakan, 80% peredaran Narkoba menggunakan jalur laut. Terbanyak di Pula Sumatera.

Mengenai peredaran narkoba di Lapas, I Wayan Sugiri menampik spekulasi tersebut.  "Kalau pengendali ya ada yang di Lapas, tapi barangnya tidak di sana," terang Sugiri.

Apresiasi Polri

Langkah Polri yang terus bergerak menghadapi penyebaran Narkoba di tengah pandemi Covid 19 diapresiasi anggota DPR RI Arzeti Bilbina. "Jangan kita lengah dengan geliat narkoba," tutut Arzeti.

Arzeti yang mantan peragawati ini mengingatkan adanya 250 juta warga Indonesia yang berpotensi terpapar Narkoba. Padahal, saat ini sudah sekitar 4 juta orang yang ditengarai menjadi pengguna Narkoba.

Dr. Rahmat Muhammad, M.Si, sosiolog Unhas menyampaikan,  sesuai Drugs Report BNN, 2020, data pengguna narkoba Indonesia: Pertama, Terbanyak berusia produktif, 35-44 tahun. Kedua, kisaran usia pertama kali mencoba narkoba 17-19 tahun; Ketiga, laki-Laki cenderung terpapar narkoba; Keempat, pengguna perkotaan cenderung lebih tinggi dibanding pedesaan.

Adapun faktor utama pengguna narkoba: lingkungan, pergaulan, keluarga. Karena itu, tegas Rahmat, pencegahan harus dilakukan dengan promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, represif.

"Langkah preventif untuk pencegahan yang belum pernah mengenal narkoba sangat efektif apabila selain dilakukan oleh pemerintah dibantu oleh institusi lain, termasuk lembaga-lembaga profesional, LSM, kampus, perkumpulan, ormas, dan lain sebagainya," tutur Rahmat. (OL-13)

BERITA TERKAIT