23 October 2021, 16:40 WIB

Polisi Sita Rp20 Miliar dari Pinjol Ilegal Penyebab Nasabah Gantung Diri


Rahmatul Fajri | Politik dan Hukum

DOK MI.
 DOK MI.
Ilustrasi.

DIREKTORAT Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri menangkap Ketua Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Solusi Andalan Bersama (SAB) berinisial MDA. KSP SAB merupakan pengelola pinjaman online ilegal. 

Fulus Mujur yang meneror seorang ibu di Wonogiri, Jawa Tengah (Jateng), hingga nekat mengakhiri hidup dengan cara gantung diri. "Telah dilakukan penangkapan dan penahanan terhadap saudari JS (pendana), MDA (Ketua KSP Solusi Andalan Bersama), dan SR," ujar Dirtipideksus Bareskrim Brigjen Helmy Santika saat dimintai konfirmasi, Sabtu (23/10).

Helmy mengatakan pihaknya menyita sejumlah barang bukti dari tangan MDA seperti uang Rp20,4 miliar yang disimpan di bank, aktA pendirian KSP Solusi Andalan Bersama, perjanjian kerja sama dengan payment gateway, dan ponsel. pengungkapan KSP Solusi Andalan Bersam diawali pada Juli 2021 saat korban mendapat SMS dari aplikasi pinjol ilegal Pinjaman Nasional, yang belakangan diketahui dikelola oleh KSP Solusi Andalan Bersama.

Helmy menjelaskan korban mengaku mendapat penawaran dari pinjol ilegal Pinjaman Nasional untuk meminjam uang dengan bunga rendah dan tenor waktu pelunasan pinjaman yang lama. Korban kemudian tertarik kemudian mengunduh aplikasi dan mengajukan peminjaman. Setelah diverifikasi, korban mengajukan pinjaman Rp1,2 juta dengan tenor 91-140 hari. Namun, yang terjadi berikutnya justru mengagetkan.

Korban malah menerima beberapa pinjaman bervariasi dari sejumlah aplikasi pinjol diduga ilegal sebesar Rp1,2 juta sampai Rp1,6 juta tanpa persetujuannya. Korban diharuskan melunasi semua pinjaman itu dalam waktu 7 hari. Lima hari kemudian, korban mulai mendapat ancaman dari nomor-nomor tak dikenal untuk segera melunasi pinjamannya tersebut.

Baca juga: Jamwas Minta Klarifikasi Jaksa yang Diduga Minta Uang Rp30 Juta

"Lima hari kemudian, korban menerima pesan WhatsApp dari beberapa nomor handphone dengan isi pesan penagihan pinjaman terkait aplikasi Pinjaman Nasional dan mendapatkan pengancaman," terang Helmy. "Karena nilai dana dan tenor pinjaman yang tidak sesuai informasi di awal, korban tidak merespons penagihan tersebut. Namun, korban menerima pesan dari keluarga korban bahwa korban mendapatkan pesan yang berisi penghinaan dan pencemaran sehingga melaporkan hal tersebut kepada pihak kepolisian," sambungnya. (OL-14)

BERITA TERKAIT