03 September 2021, 21:44 WIB

Pendekatan Tegas Humanis Cara Paling Efektif Tangani Kekerasa di Papua


Putra Ananda | Politik dan Hukum

Antara/Fanny Oktavianus
 Antara/Fanny Oktavianus
Peta Papua

ADANYA kesenjangan budaya antara kegiatan militer TNI dan masyarkat Papua disebut-sebut sebagai salah satu penyebab mengapa bentrok senjata antara TNI dan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua selalu berulang. TNI dituntut untuk bisa melakukan pendekatan militer tegas namun tetap humanis kepada masyarakat Papua. 

"Gap budaya di Papua yang menyebabkan kekerasan selalu terjadi," ungkap Dosen Hubungan Internasional Universitas Cendrawasih sekaligus Pengamat Politik dan Keamanan Papua Yana Pugu saat dihubungi di Jakarta, Jumat (3/9). 

Pendekatan humanis oleh aparat keamanan dibutuhkan untuk menghilangkan rasa benci masyarakat terhadap TNI. Yana menuturkan, setiap wilayah Papua memiliki karaterisik budaya yang berbeda dalam menerima keberadaan aparat keamanan TNI. 

"Penanganan aparat militer tidak bisa diterima di semua tempat. Budaya di setiap kabupaten dan wilayah Papua itu berbeda. Penting bagi aparat untuk bisa menghilangkan kebencian warga terhadap TNI," ungkapnya. 

Baca juga : Wamen: Perlu Sinergi Pusat dan Daerah atasi Konflik Pertanahan

Kendati demikian, Yana menekankan, segala pelaku kekerasan yang terjadi di Papua harus ditindak sesuai dengan hukum yang berlaku. Apalagi tindakan kekerasan tersebut dilakukan kepada aparat TNI yang sedang bertugas memberikan rasa aman di Tanah Papua.

"Tindakan kekerasan harus tetap di tindak sesuai dengan UU. Tapu kunci utamanya ialah aparat keamanan harus lebih dekat dengan masyarakat," ujarnya. 

Seperti yang sudah diketahui, tindakan kekerasan kembali terjadi di Tanah Cenderawasih, kali ini di Maybrat Papua Barat. Empat prajurit TNI gugur diserang kelompok separatis teroris yang belakang diklaim sebagai aksi Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB), pimpinan Goliath Tabuni. 

Meski pemerintah terus memberikan perhatian serius dalam menyejahterahkan Papua, nyatanya tetap saja muncul gerakan penganggu keamanan yang berujung pada gugurnya prajurit TNI. (OL-7)

BERITA TERKAIT