03 September 2021, 21:42 WIB

Lestari Moerdijat Resmi Menyandang Gelar Doktor Usai Pertahankan Desertasi Soal Aceh


Faustinus Nua | Politik dan Hukum

Dok.Pribadi
 Dok.Pribadi
Tangkapan layar Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat saat sidang disertasinya di Universitas Pelita Harapan, hari ini

REKTOR Univesitas Pelita Harapan (UPH) Dr. (Honoris Causa) Jonathan L. Parapak, M.Eng.Sc. mengangkat Rara Lestari Moerdijat menjadi Doktor di bidang Ilmu Manajemen usai sidang terbuka pada Jumat (3/9) sore. Wakil Ketua MPR itu kemudian dilantik oleh Prof. Dr. Hendrawan Supratikno, MBA selaku promotor.

"Berdasarkan semua itu tim penguji memutuskan untuk mengangkat saudara Rara Lestari Moerdijat menjadi Doktor dalam bidang Ilmu Manajemen dengan dengan pujian atau cumlaude. Selamat ya!," ujar Rekto UPH, Jumat (3/9) sore.

Sementara itu, promotor mengatakan bahwa mereka sempat meragukan politisi yang akrab disapa Rerie itu bisa sampai pada tahap sidang disertasi. Pasalnya, sebagai wakil rakyat, Rerie sangat sibuk dan tema disertasi yang diajukannya cukup rumit.

"Topik yang ditulis adalah topik yang rumit karena saudari berusaha mengintegrasikan sejumlah konsep besar dalam sebuah disertasi. Ini tidak mudah," ungkap Prof. Hendrawan.

Rerie sendiri mengusung topik terkait manajemen konflik dan bencana dalam waktu bersamaan. Judul yang diangkatnya adalah 'Transformasi Pengelolaan Organisasi di Daerah Pasca-Bencana dan Pasca-Konflik; Studi Kasus Yayasan dan Sekolah Sukma Bangsa'.

Baca juga: Akademisi: Tangkal Ideologi Transnasional Lewat Kajian Logis Pancasila

Dijelaskannya, pada 2004 Aceh dihantam bencana destruktif yaitu gempa bumi dan tsunami yang menyebabkan lebih dari 130 ribu jiwa meninggal, 37 ribu orang hilang, 500 ribu kehilangan yempat tinggal. Terdapat 1488 sekolah rusak, lebih dari 150 ribu siswa terganggu proses penddikannya dan lebih dari 2500 guru hilang.

Di saat yang sama Aceh masih dalam kondisi darurat sipil. Ada konflik bersenjata yang memecah masuarakat Aceh menjadi 2 kubu yaitu kubu gerakan Aceh Merdeka dan kubu pro NKRI. Konflik bersenjata berkepanjangan menimbulkan dendam, curiga dan ketidakpercayaan di masyarakat. Konflik ini menyebabkan 1958 orang hilang dan lebih dari 900 sekolah dan fasilitas pendidikan yang rusak dan dibakar.

"Kondisi tersebut memerlukan perhatian khusus sehingga Media Group memilih merevitalisasi pendidikan dan mendirikan Yayasan Sukma sebagai kegiatan lanjutan program kemanusiaan Indonesia Menangis melalui pembangunan sekolah Sukma Bangsa," jelas Rerie.

Yayasan Sukma diinisiasi oleh Surya Paloh, dijalankan oleh sejumlah eksekutif korporasi dan melakukan kemitraan dengan lembaga dan sumber daya kependidikan profesional serta jasa pendukung lainnya. Yayasan menetapkan learning organization sebagai acuan kerja sebagaimana tercantum dalam statuta yayasan dan blue print.

"Para pengurus yayasan yang berlatar belakang koorporasi memilki dynimic capabilities dan dalam kondisi Aceh yang tidak menetu saling berinteraksi untuk mendapatkan pengetahuan baru dengan prinsip knowledge creation," bebernya.

Yayasan Sulma beradaptasi terus menerus dan bertahan sampai hari ini karena memiliki adaptif resilience. Kemampuan yayasan sudah terimplementasi dalam 3 sekolah Sikma Bangsa yang kemudian melahirkan prestasi dan inovasi.

Baca juga: Tingkatkan Penelitian untuk Akhiri Kondisi Ketidakpastian akibat Pandemi

Setelah melalui proses transformasi yang cukup panjang, lanjut Rerie yayasan mampu memiliki inovation capacity yang dapat meningkatkan kinerja organisasi. Lantas dari konsep-konsep tersebut Rerie melakukan penelitiannya yang dituangkan dalam disertasi.

"Bagaimana learning organization, dynamic capabilities, knowledge creation, adaptive resilience dan inovation capacity bisa diterapkan pada Yayasan Sukma dan sekolah Sukma Bangsa di 3 lokasi berbeda," kata dia menyebut rumusan masalah dari disertasinya.

Rerie menyampaikan bahwa penelitian itu memperlihatkan bahwa model tranformasi pengelolaan organisasi dinamis terjadi karena adanya interaksi unsur korporasi, masyarkat sipil termasuk akademisi, birokrasi, media dan politisi. Interaksi unsur penthelix ini menjadikan organisasi melakukan sintesa terus menerus dan sebagai daya dorong terjadinya evolusi dan transformasi di Yayasan Sukma dan 3 sekolah Sukma Bangsa.

Transformasi organisasi dinamis menciptakan organisasi yang hidup dan melalui dialektika memiliki kemampuan untuk mendorong terjadinyaa evolusi dan transformasi. Learning organization dinyatakan sebagai satu-satuya faktor ternyata tidak dapat berdiri sendiri dan memerlukan faktor lain sebagai daya dorong untuk jalannya organisasi.

"Dalam kurum waktu 15 tahun yayasan yang memulai kegiatan dengan membangun sekolah dan mendapatkan penolakan dari masyarakat berhasil melembagakan peace building school yang inklusif dan mengembangkan model manajemen konflik berbasis sekolah," tuturnya

Rerie mengatakan bahwa hasil penelitian ini perlu dikembangkan dan diuji kembali menggunakan pendekatan kuantitatif. Kemudian perlu ada penelitian yang serupa di daerah lain yang memiliki latar belakang geografi, dinamika sosial serta budaya berbeda.(OL-4)

BERITA TERKAIT