14 July 2021, 21:43 WIB

Banyak Rakyat Terdampak, Relawan Jokowi Minta PPKM Darurat tak Diperpanjang


Abdillah M Marzuqi | Politik dan Hukum

Antara
 Antara
Ilustrasi

KELOMPOK relawan Jokowi Mania (JoMan) meminta
Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat yang berlaku mulai 3-20 Juli 2021 tidak diperpanjang.

"Harusnya ada evaluasi dulu. Tunggulah tanggal 17 atau 18 (Juli). Kalau ada penurunan signifikan Covid-19 rasanya tak perlu diperpanjang," kata Ketua Umum JoMan, Immanuel Ebenezer (Noel) dalam keterangan resminya, Rabu (14/7).

Ia khawatir jika PPKM  darurat diperpanjang, banyak masyarakat berpenghasilan mikro dan miskin sangat terdampak. Noel meminta pemerintah hati-hati dalam mengambil keputusan terkait PPKM Darurat.

"Banyak masyarakat berpenghasilan rendah yang terdampak sekali. Mereka ini kan cari uangnya setiap hari dan tidak punya penghasilan tetap. Coba kita hati-hati dalam mengambil keputusan sebelum ada evaluasi lanjutan," tandasnya

Lebih lanjut, Noel menilai Menteri Sri Mulyani melakukan blunder karena mengklaim ada rencana perpanjangan PPKM Darurat. Noel meyakini Presiden Jokowi belum memutuskan terkait perpanjangan PPKM Darurat tersebut.

Ia pun meminta tak ada lagi menteri yang mengeluarkan pernyataan yang meresahkan masyarakat. Menurutnya, para pembantu Jokowi harus berjibaku maksimal mengatasi pandemi tanpa memicu masalah baru.

"Coba kita hati hati dalam mengambil keputusan sebelum ada evaluasi lanjutan. Menteri harus spartan. Bekerja 18 jam dalam sehari untuk rakyat. Bangsa kita sedang diuji," ujarnya.

Juru Bicara Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito mengakui pemerintah membuka opsi untuk memperpanjang masa Pemberlakuan PPKM Darurat Jawa-Bali yang akan habis pada 20 Juli. Ia menilai kebijakan itu bisa diperpanjang jika tren kasus positif belum menunjukkan tanda-tanda penurunan.

Kasus positif Covid-19 belum juga turun selama PPKM Darurat. Bahkan, terjadi beberapa kali rekor baru kasus Covid-19 harian. Lonjakan tertinggi terjadi pada 14 Juli dengan 54.517 kasus. Di sisi lain, sejumlah RS telah penuh hingga kekurangan oksigen dan tenaga kesehatan. (OL-8)


 

BERITA TERKAIT