10 July 2019, 13:58 WIB

Novel Minta Polri Ungkap Pelaku Lapangan Dulu


M. Ilham Ramadhan Avisena | Politik dan Hukum

MI/Rommy Pujianto
 MI/Rommy Pujianto
Penyidik senior KPK Novel Baswedan (tengah)

Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan menginginkan penjelasan yang akan disampaikan Polri pekan depan terkait kasus penyiraman air keras kepada dirinya tidak hanya soal spekulasi semata.

Menurut Novel, selama ini terlalu banyak spekulasi siapa aktor intelektual di balik penyerangnya dan seolah melupakan siapa pelaku lapangannya. Novel beranggapan, untuk memecah kebuntuan kasus ini haruslah diungkap dari pelaku di lapangannya lebih dulu.

"Tidak mungkin ada pengungkapan pelaku kejahatan kekerasan seperti ini tapi kemudian hanya dimulai dari spekulasi aktor intelektual pihak mana. Saya kira itu bukan investigasi, itu hanya reka-reka atau dugaan saja, saya kira itu tidaklah tepat," ujar Novel di gedung KPK, Rabu (10/7).

Spekulasi soal dalang kasus ini diharapkan juga tidak memperkeruh upaya untuk menemukan siapa pelaku sebenarnya. Merupakan hal yang sia-sia bila tim gabungan pencari fakta (TGPF) yang dibentuk hanya mampu melahirkan spekulasi saja.

Berkaca dari pesimisme publik dari terbentuknya TGPF, Kapolri harusnya mampu memberikan hasil yang memuaskan pada keterangannya mendatang. "Saya tentu berharap hasil yang ditemukan betul-betul signifikan, betul betul positif yang itu adalah suatu standar investigasi dari orang-orang yang punya pengalaman dan pengetahuan," imbuh Novel.

Novel menegaskan, tuntutannya dan publik untuk mengungkap siapa pelaku teror kepada dirinya bukan sekadar untuk membalas kejahatannya, melainkan menjadi pijakan awal untuk mengungkap teror lainnya yang menimpa pimpinan hingga pegawai KPK.

"Menyerang begini tentunya adalah upaya untuk menjegal upaya pemberantasan korupsi, tentu ini agenda yang penting untuk negara. Kita semua cinta kepada Indonesia. Kita perhatian dan punya nasionalisme yang tinggi, oleh karena itu kita sungguh-sungguh untuk memberantas korupsi," tukas Novel.

Senada, pimpinan Wadah Pegawai KPK, Yudi Purnomo Harahap mendesak kepada Presiden Joko Widodo untuk membentuk tim gabungan pencari fakta yang independen jika TGPF yang dibentuk Polri itu tidak mampu mengungkap pelakunya dalam rilis mendatang.

"Tidak ada jalan lagi bagi bapak Presiden Joko Widodo untuk segera membentuk tim gabungan pencari fakta independen untuk membongkar semua motif dari penyiraman air keras terhadap bang Novel," pungkas Yudi. (OL-09)

BERITA TERKAIT