04 August 2023, 05:05 WIB

Mengenal Ekonomi Biru Nusantara


Agung Dhamar Syakti Rektor Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Ketua Umum Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia (ISOI) | Opini

ANTARA
 ANTARA
    

BAPPENAS baru saja meluncurkan Peta Jalur Ekonomi Biru Indonesia di Belitung, Provinsi Bangka Belitung, awal Juli 2023, tidak tanggung-tanggung Bersama Forum Ekonomi Biru ASEAN dan memformulasikan Kerangka Kerja Bersama Ekonomi Biru ASEAN.

Dalam banyak referensi, blue economy atau ekonomi biru didefinisikan dengan pemanfaatan sumber daya kelautan untuk meningkatkan ketahanan pangan, meningkatkan gizi dan kesehatan masyarakat, mengurangi kemiskinan, menciptakan lapangan pekerjaan, menghasilkan energi alternatif baru terbarukan, meningkatkan perdagangan dan industri kelautan dan melindungi ekosistem dan keanekaragaman hayati (biodiversity).

Sesungguhnya, definisi di atas berbeda dari konsep blue economy yang dicetuskan Gunter Paulier. Dia mendefinisikan ekonomi biru sebagai model ekonomi baru (freshway) dalam memandang realitas di sekitar agar dapat mentransformasikan 'kemiskinan' menjadi 'kesejahteraan' dan 'kelangkaan' menjadi 'kelimpahan' sehingga tidak melulu terkait dengan kelautan. Biru dalam konsep Gunter ialah planet biru, yaitu bumi itu sendiri (Gaia concept).

Pertanyaannya, bagaimana ekonomi biru (baca: ekonomi biru Nusantara) seharusnya diterapkan di Indonesia? Seirama dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG), berbicara tentang bumi, tentu kita ingin mempreservasi planet kita untuk generasi masa depan secara berkelanjutan. Ekonomi biru menggeser paradigma lama green economy dengan segala meritnya; usaha besar yang sudah diterapkan 30 tahun terakhir ini. Ia masih sangat berbiaya tinggi baik tangible ataupun intangible.

Sebut saja, sabun biodegradable ternyata dibuat dari kelapa sawit. Contoh lain, teknologi panel surya. Barang itu masih mahal dan kalaupun berkembang seperti di negara-negara maju, juga bergantung pada subsidi yang pada gilirannya berasal dari pajak yang kita bayarkan. Belum lagi bioplastik yang bahan polimernya berkompetisi dengan makanan, makanan bioorganik yang ditransportasikan mengelilingi dunia dengan operasionalnya meningkatkan emisi dan potensi kerusakan lingkungan dan planet. Singkat cerita, pendekatan ekonomi hijau mengharuskan perusahaan berinvestasi lebih banyak dan konsumen membayar lebih banyak.

Sebagai negara kepulauan, ekonomi biru di Indonesia memang tidak bisa lepas dari metafora laut sebagai penjaga muruah bangsa. Dari perspektif filosofis, air laut direpresentasikan sebagai penjaga SDA tak terbarukan milik umat manusia masa depan yang tersembunyi di dasar laut, sekaligus menyediakan ruang bagi harta karun terbarukan.

Dari perspektif itu, laut melambangkan keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestarian SDA. Sumber daya alam tak terbarukan yang tersembunyi di dasar laut mewakili sumber daya yang terbatas, seperti mineral atau bahan bakar fosil, yang dapat diandalkan generasi mendatang untuk berbagai tujuan. Harta karun berupa sumber daya alam ini, dijaga (ditutupi/disembunyikan) air laut di atas lantai lautan dan samudra kita. Diperlukan pengelolaan yang bertanggung jawab dan pertimbangan yang cermat terhadap ekstraksi dan penggunaannya.

Pada saat yang sama, air laut juga menyediakan ruang bagi SDA yang dapat diperbarui. Itu mewakili potensi besar sumber daya terbarukan seperti kehidupan laut, energi dari gelombang, atau pasang surut. Air laut sebagai penjaga memastikan pelestarian dan kapasitas regeneratif harta karun terbarukan itu.

Perspektif yang ditawarkan dalam tulisan ini menekankan pentingnya menjaga hubungan yang harmonis dengan alam, mengakui nilai sumber daya yang tidak terbarukan dan terbarukan. Itu membutuhkan pendekatan yang seimbang dalam memanfaatkan SDA tak terbarukan secara bijaksana, sambil secara aktif mempromosikan pengembangan dan pemanfaatan SDA terbarukan.

Lebih jauh lagi, perspektif itu menyoroti tanggung jawab antargenerasi. Tugas generasi mendatang ialah melestarikan dan melindungi SDA yang tidak dapat diperbarui untuk kepentingan umat manusia. Itu menggarisbawahi perlunya praktik berkelanjutan dan visi jangka panjang, yang memprioritaskan kesejahteraan generasi sekarang dan mendatang.

 

Keseimbangan dan keharmonisan alam

Ringkasnya, perspektif filosofis tentang keseimbangan dan keharmonisan alam merepresentasikan air laut sebagai penjaga SDA tak terbarukan, sekaligus menyediakan ruang bagi SDA terbarukan. Itu mendorong pengelolaan sumber daya yang bertanggung jawab, penatagunaan antargenerasi, dan pendekatan holistis terhadap keberlanjutan yang memperhitungkan pelestarian sumber daya yang terbatas dan pengembangan alternatif terbarukan.

Ekonomi biru Nusantara ialah langkah baru model ekonomi yang dapat disandingkan dengan ekonomi kerakyatan di Indonesia. Basisnya ialah mengembangkan pengunaan sumber daya dari apa yang kita miliki. Pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat juga harus tetap dapat memenuhi kehidupan makhluk hidup lain di planet bumi. Semua harus mengambil inspirasi dari alam dengan mempelajari mekanisme dan fungsi dasar alam dari alam itu sendiri.

Terkait dengan hal itu, emisi gas CO2, misalnya, dapat dimanfaatkan untuk menyediakan kebutuhan nutrisi ganggang spirulina dalam produksi suplemen makanan kaya protein dan biofuel yang dipanen secara berkelanjutan. Itu menunjukkan bagaimana produk sampingan zat tadi yang berlebihan atau tidak seimbang dapat diubah dari polutan menjadi sumber daya yang berharga. Kita dapat belajar dari kecerdasan mamalia laut yang menjaga kelangsungan hidup mereka dengan melakukan pemangsaan selektif. Kawanan lumba-lumba hidung botol (Tursiop truncates) memilah ikan-ikan kecil belanak (Mugil cephalus) sebagai mangsa mereka, dari yang jantan dan betina dengan menghasilkan gelembung-gelembung pengaduk.

Ekonomi biru Nusantara harus mendorong penggunaan sumber daya yang lebih efisien, mengurangi emisi karbon dan polusi, meningkatkan produktivitas, dengan inovasi harus dapat menjadi motor menciptakan lapangan kerja yang inklusif dan berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, sesuai dengan sila kelima Pancasila.

Yang dibutuhkan ialah entrepreneur yang mampu mengubah aturan main yang selama ini sudah ajek. Bonus demografi 2030 harus jadi faktor pengungkit kelahiran mereka. Terakhir, kita butuh komitmen mentransformasi dan menyukseskan perubahan yang diawali dari diri kita sendiri, atau pemuka atau pioneer sebagai raw model dalam komunitas masyarakat. Bisa jadi, kita tidak memerlukan entitas besar internasional seperti ASEAN atau bahkan UN untuk mempropagandakan ekonomi biru.

BERITA TERKAIT