10 June 2023, 23:25 WIB

Obat Flexing


Suwatno, Guru Besar Komunikasi Organisasi FPEB UPI, Direktur Direktorat Kemahasiswaan UPI | Opini

Dok pribadi
 Dok pribadi
Suwatno

FENOMENA flexing tampaknya semakin merajalela di dunia maya. Setiap kali kita membuka media sosial, terutama Tiktok, Instagram dan Youtube, konten-konten video beraroma flexing berseliweran dari berbagai sisi. 

Ada emak-emak yang memamerkan rumah mewahnya yang bak istana. Ada bapak-bapak yang menunjukkan mobil-mobil kelas sultan-nya. Ada anak-anak muda yang membanggakan pencapaian bisnisnya. Bahkan ada yang bagi-bagi uang ratusan juta cuma-cuma.

Entah kenapa konten sejenis itu mendapat atensi yang demikian masif oleh pengguna medsos. Selain banyak jumlah penontonnya, tingkat interaksinya juga tinggi. Alhasil, perilaku tersebut 'menular' ke banyak orang. Berbagai cara dilakukan demi konten superior.

Dalam kamus bahasa Inggris, flexing sebetulnya bahasa slang yang artinya membual, menyombongkan diri atau pamer (boast, brag, show off). Yang menjadikan perilaku ini dipersepsikan negatif adalah karena 'diatraksikan' secara berlebihan. Sebetulnya, menurut saya jika dilakukan secara wajar, perilaku ini tidak akan 'mengusik' perasaan warganet.

Mungkin, flexing belum sampai masuk kategori 'penyakit' psikologis. Meskipun secara individual bisa saja dipraktikkan oleh mereka yang mengalami masalah kepribadian. Merasa insecure, butuh pengakuan sosial, atau karena tekanan sosial. Pertanyaannya, jika perilaku ini bersifat 'patologis', apakah ada obatnya?

Sebelum bicara 'obat' (solusi), tampaknya ada dua hal yang perlu dianalisa. Pertama, flexing tampaknya sangat sulit dihentikan, karena dalam banyak konteks ia digunakan sebagai strategi promosi produk. Tanpa flexing, penjualan hampir dipastikan sepi. Kedua, nyaris tidak ada penghalang (entry barriers) bagi setiap orang yang mau melakukan flexing. Secara hukum tidak dilarang kecuali ada yang memperkarakannya, dan secara moral dinilai sangat relatif. Yang bisa menghentikannya hanyalah dirinya sendiri. 

Di waktu yang sama, bagi penyedia platform media sosial, konten-konten flexing tampaknya justru menguntungkan karena membuat aktivitas bermedia sosial semakin ramai. Semakin banyak konten atraktif akan semakin interaktif, engage, semakin betah berlama-lama bermedsos, dan menarik pengguna baru. Kita tahu, model komunikasi di medsos bersifat dua arah. Ada kolom 'komentar' yang memfasilitasi pemberian umpan balik, meski kurang memungkinkan terjadinya dialog mendalam.

Solusi flexing

Penyebab perilaku flexing memang bersifat dua sisi. Ada faktor internal dan eksternal. Ada faktor pendorong dan penarik. Ada permintaan dan penawaran. Sehingga menurut saya solusinya harus dua sudut, yakni dari sisi kreator maupun sisi penikmat.

Dari sisi kreator, mereka perlu menyadari bahwa flexing boleh jadi akan menarik atensi banyak orang, namun belum tentu bersifat jangka panjang (long-term). Pamer kehebatan atau pencapaian personal memiliki jangka waktu. Para penikmat konten akan pada titik jenuh, dan akhirnya memaksa para kreator untuk menghadirkan sesuatu yang lebih secara terus-menerus hingga mereka tidak sanggup lagi memuaskan para penikmatnya. 

Selain itu, 'menjual' profil personal pada umumnya tidak akan bertahan lama. Jangankan mereka yang hanya bisa pamer. Figur-figur publik yang punya karya pun ada masanya. Ada waktunya 'bermata air', ada waktunya 'berair mata'.

Dari sisi penikmat, mereka juga harus menyadari bahwa segala konten yang dilihat di media sosial tidak selalu sesuai dengan realita. Terutama konten yang ada di TikTok, yang secara karakter lebih berorientasi kesenangan dan keseruan. Mereka harus bijak dan tidak terlalu mudah kagum dengan apa yang dilihat.

Bahkan, ada baiknya mereka tidak memberi ruang terhadap fenomena flexing, misalnya tidak mem-follow akun-akun bervisi flexing. Jika ini menjadi gerakan masif, di masa depan, boleh jadi orang justru akan merasa malu jika melakukan flexing.

Fenomena flexing memang tidak hanya terjadi di Indonesia. Namun sebagai negara yang berada di fase transisi kemajuan dan didominasi kelas menengah, peluang munculnya orang-orang 'sok kaya' cukup besar. Kelas menengah tentu tidak miskin, dan juga tidak kaya, namun ingin terlihat lebih di mata orang lain. Sebetulnya ini hal yang manusiawi, bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari bertetangga. Namun di media sosial, ruang maya menjadi 'pasar bebas' setiap orang untuk memamerkan apapun secara berlebihan.

Edukasi anti-flexing

Gaya pamer yang berlebihan ini, menurut saya, berbahaya bagi anak-anak dan generasi mendatang. Sebagai pribumi digital (digital native) yang tiap hari mengakses media sosial, anak-anak generasi alfa secara rutin dijejali dengan beragam konten beraroma flexing. Mereka menyangka semua yang ditontonnya adalah nyata. Mereka kemudian berekspektasi orang tuanya memiliki kemewahan yang orang lain miliki.

Untuk itu pendidikan anti-flexing sangat dibutuhkan. Lingkaran pertama tentu edukasi yang harus diberikan oleh orang tua di keluarga. Yang terpenting orang tua harus bisa menjadi contoh perilaku wajar dan layak. Mulai dari gaya berpakaian, gawai hingga kendaraan yang dimiliki. 

Di sekolah, anak-anak seyogyanya tidak diberikan ruang untuk saling berkompetisi memamerkan merek barang yang dimilikinya. Demikian pula di lingkaran kehidupan sosial lainnya. Jika tidak dimulai sejak dini, kita khawatir generasi yang akan datang lebih mementingkan penampilan maya dibanding mutu nyata. 

BERITA TERKAIT