02 March 2023, 10:35 WIB

Reason d'être, Gerakan Activispreneur Indonesia


M Riyano Panjaitan, Ketua Umum DPP KNPI | Opini

Dok pribadi
 Dok pribadi
M Riyano Panjaitan

PADA awal revolusi Prancis, tujuan utama para revolusioner adalah untuk menggulingkan sistem monarki absolut (oligarki feodalistik) dan membentuk pemerintahan yang lebih demokratis. Namun, ketika pemerintahan baru yang dipimpin oleh Maximilien Robespierre dan para Jakobin mengambil alih kekuasaan pada 1793, yang hadir dengan narasi epistemik baru tentang tujuan yang lebih besar dan makna dari revolusi mereka. 

Mereka menggambarkan revolusi sebagai upaya untuk mencapai keadilan sosial dan politik, menyingkirkan kekuasaan yang korup, dan membangun masyarakat yang lebih baik.

Pada era kebangkitan revolusi itu, reason d'être juga lahir terma tersebut dalam bahasa yang berarti 'alasan keberadaan' atau 'tujuan eksistensi'. Dalam hal ini, konsep tentang reason d'être memainkan peran penting dalam upaya untuk memotivasi dan mempersatukan rakyat Prancis di sekitar tujuan yang lebih besar dari revolusi mereka. Wujud perubahan fundamental era ini ditandai dengan adanya upaya untuk mendeliberalisasi ekonomi dan politik Prancis, dengan menggeser kelas menengah ekonomi. 

Revolusi sosial tersebut telah membuka kesempatan/akses masyarakat kelas menengah dan bawah untuk memperbaiki kondisi ekonomi mereka. Hal itu sekaligus menghapuskan sistem feodal dan monarki absolut Prancis, yang telah lama menguntungkan golongan bangsawan dan kaum aristokrat.

Revolusi Prancis sebagai peristiwa revolusi, setidaknya memberi makna bahwa perubahan sosial bukan hal yang muskil terjadi. Syarat utamanya adalah keberadaan ide dan gagasan besar adalah fatsun yang menjadi menjadi latar narasi sebagai reason d'être adalah pusat energi utama dari kaukus perubahan besar tersebut. Reforma sosial, ekonomi, dan hukum adalah reason d'être dari kelahiran revolusi. 

Realitas yang paradoks jika harus secara kontras membandingkan antara apa yang terjadi di Prancis dengan fakta; bahwa Indonesia juga pernah punya momentum yang mirip pada era reformasi di medio 1998. Hingga memasuki usia seperempat abad masa Reformasi, wajah dan rupa ideal cita-cita Reformasi masih belum nampak dengan sempurna di kehidupan kebangsaan dan kenegaraan kita. 

Jika revolusi Prancis telah mampu membuka akses/jalan bagi kaum menengah dan bawah untuk memperbaiki kondisi mereka, hal yang paradoks jika membandingkan dengan apa yang telah dihasilkan oleh gerakan aktivisme kaum muda dalam wujud reformasi itu. 

Gerakan aktivisme kaum muda 
 
Reformasi yang dimotori oleh gerakan aktivisme kaum muda zaman itu belum juga menunjukkan kontribusinya yang nyata. Gerakan aktivisme kaum Indonesia tidak membawa pengaruh terhadap sirkulasi dan transformasi sosial-ekonomi kita. Singkatnya, aktor penentu kebijakan publik dalam struktur pemerintahan negara (dari pusat hingga daerah) hari ini, dijabat/didominasi oleh sebagian besar dari mereka yang memiliki latar belakang sebagai aktivis gerakan reformasi yang lalu. Mengapa demikian? Mengapa para mantan aktivis itu kehilangan progresifititasnya?

Perubahan zaman mengharuskan kemampuan kaum muda untuk mengadaptasi diri dengan berbagai kemampuan dan kapasitas (skills and value), lebih dari sekadar modal persuasi dan kolusi patronasi dari kelompok dan relasi. Kondisi ini menjustifikasi bahwa dunia aktivisme kaum muda kini telah lama kehilangan arah dan narasi besar. Bahkan jika dibandingkan dengan era dwi tunggal sekalipun, terasa jauh panggang dari api.

Basis ideologis dan progresifitas yang menjadi embrio dari gerakan kaum muda, harus mampu secara dialektis dielaborasi. Hal itu perlu dilakukan untuk menemukan cara yang tepat dalam membaca arah dan kehendak dari perubahan zaman.

Hipotesis sederhananya bahwa dunia aktivisme kaum muda Indonesia belum secara signifikan berkontribusi nyata terhadap transformasi intelektualitas, kapasitas, dan value added bagi perkembangan individu dan komunitas, bangsa dan negara. Dunia aktivisme kaum muda saat ini masih bergumul pada kepentingan pragmatis kelompok (pragmatic group interest), serta minim akan peningkatan skill and value.

Atau dengan kata lain, dunia aktivisme kaum muda saat ini sangat asing dengan dunia bisnis. Dengan begitu belum memiliki kemandirian individu, sehingga muskil dan sulit untuk mewujudkan kesejahteraan bersama secara sosial. Oleh karena itu transformasi gerakan aktivisme kaum muda adalah keharusan. 

Gerakan activistpreneur  

Transformasi gerakan aktivisme kaum muda dalam hal ini secara fundamental; adalah upaya untuk melakukan shifting kelompok midle class Indonesia menjadi kelompok secara ekonomi menjadi lebih mapan dan berdaya. Pada 2022 data World Bank mengungkapkan bahwa persentase penduduk Indonesia yang termasuk kelas menengah sekitar 21,2% dari total populasi. Kelas menengah di Indonesia didefinisikan sebagai kelompok yang memiliki pengeluaran harian antara US$11-US$110 per hari per orang.
 
Kelas menengah ini juga oleh World Bank dikategorikan sebagai kelompok yang memiliki kerentanan terhadap resesi ekonomi, yaitu masa ketika terjadi penurunan tajam dalam aktivitas ekonomi secara keseluruhan, termasuk penurunan dalam output, pendapatan, dan lapangan kerja. Secara asumtif, kelas menengah Indonesia ini merupakan kelas ekonomi yang menjadi tempat bagi kelompok aktivis muda Indonesia saat ini.
 
Karakter kelas menengah yang rentan terhadap perubahan ekonomi ini secara faktual dikarenakan oleh ketergantungan pada lapangan kerja. Kelas menengah sering kali bekerja pada sektor-sektor yang terpengaruh oleh resesi ekonomi, seperti perbankan, keuangan, dan real estate (di luar sektor riil/UMKM). Ketika terjadi resesi ekonomi, banyak perusahaan di sektor ini yang mengurangi jumlah karyawan atau bahkan menutup bisnisnya. Hal ini dapat membuat anggota kelas menengah kehilangan pekerjaan dan pendapatan yang stabil. 

Upaya otokritik yang kompletatif secara internal oleh aktivis gerakan kaum muda Indonesia untuk secara jujur dan jernih melihat realitas yang ada. Melalui otokritik terhadap aktivisme, lahir kesadaran dan cara pandang yang lebih luas untuk melakukan transformasi gagasan dan program ke arah yang lebih baik (jelas, produktif, dan lebih banyak manfaat). Misalnya transformasi dari cara pandang dan perilaku yang cenderung berorientasi kepada politik praktis ke cara pandang berorientasi ke politik kesejahteraan.

KNPI sebagai wadah untuk melahirkan gagasan produktif, berupaya untuk melakukan upaya taktis dalam rangka shifting gerakan aktivis kaum muda untuk tidak lagi berada dalam ruang dengan berbagai pendekatan konvensional. Upaya itu mengadaptasikan organisasi dan program-program aktivismenya dengan perkembangan zaman dengan mengajak tidak hanya para aktivis dan entrepreneur, namun juga pegiat sosial-kemanusiaan lainnya (pendidik, pegiat kebudayaan, pecinta seni, dan lainnya) untuk secara bersama terlibat pada program #avtivistpreneur.

Program yang dilakukan yaitu; peningkatan ekonomi melalui penciptaan akses dan pelaku usaha berbasis kewirausahaan serta penciptaan unit usaha bersama. Kemudian peningkatan kemampuan literasi berbasis pada peningkatan pengetahuan (knowledge) serta partisipasi aktif kader melalui pendampingan sosial.

Selain itu optimalisasi peran strategis pemuda melalui aktualisasi dan pendelegasian kepentingan sosial politik untuk kemanfaatan secara luas bagi publik. Pengembangan intelektualitas dan spiritual melalui pengembangan minat/bakat, skill dan kompetensi serta penguatan spiritualitas yang berorientasi pada nilai keterbukaan dan toleransi. Terakhir, adaptasi dan penguasaan teknologi dan informasi untuk mengadaptasi perkembangan zaman yang berdampak luas untuk menjawab berbagai permasalahan publik. 

Transformasi gagasan (abstraksi) tersebut diharapkan akan menjadi reason d'être dari transformasi gerakan kaum muda Indonesia. Tentunya dalam upaya melahirkan kelas menegah baru yang matang secara intelektual dan mental, memiliki karakter progresif, serta memiliki kemandirian secara ekonomi yang dengan kritis dan sadar karena keteguhan ideologisnya akan membangun Indonesia yang sejahtera di masa depan. 

BERITA TERKAIT