09 December 2022, 05:00 WIB

AS dan Tiongkok Kunci Percepatan Pemulihan Ekonomi Global


Ryan Kiryanto Ekonom, Co-Founder & Dewan Pakar Institute of Social, Economic and Digital (ISED) | Opini

MI/Duta
 MI/Duta
 

MENJELANG pergantian tahun dari 2022 ke 2023 yang penuh tantangan, pemulihan ekonomi dunia tampaknya bergantung pada kecepatan pemulihan dua raksasa ekonomi terbesar di dunia, yaitu Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok.

Kini, dua negara adidaya ekonomi itu sedang merajut pemulihan ekonomi masing-masing yang menunjukkan sinyal perbaikan jika dibandingkan dengan di 2020 dan 2021. Kabar baik datang dari AS lantaran negara itu berhasil keluar dari resesi setelah ekonominya tumbuh 2,6% (yoy) pada kuartal III/2022.

Konsumsi masyarakat AS terbukti tangguh menghadapi inflasi yang meluas dan kenaikan suku bunga The Fed yang agresif. Konsumsi pribadi, bagian terbesar dari ekonomi, naik 1,4%, lebih baik dari perkiraan yang 1%. Peningkatan kuat juga terlihat dari investasi bisnis, didukung oleh peralatan dan produk kekayaan intelektual. Adapun pengeluaran konsumen didorong oleh peningkatan pengeluaran sektor jasa dan pengeluaran pemerintah.

Secara keseluruhan, kontributor terbesar PDB AS tercatat pada ekspor bersih, sedangkan sektor perumahan (properti) masih menjadi penghambat pertumbuhan. Alhasil, mesin utama ekonomi AS, yakni belanja konsumen, tetap di bawah tekanan inflasi tertinggi (9,1% di Juni dan 7,7% di Oktober 2022).

Pasar tenaga kerja yang kuat dan tabungan yang terkumpul selama pandemi sejauh ini telah menopang resiliensi konsumsi masyarakat AS. Hanya saja, masih disangsikan berapa lama rumah tangga AS dapat bertahan karena stance The Fed yang tetap hawkish (kebijakan ketat) untuk melandaikan inflasi menuju level target 2% sehingga menekan pertumbuhan.

Terbukti, ekonomi AS mengalami kontraksi dalam dua kuartal berturut-turut. Pada kuartal I/2022, PDB AS tercatat minus 1,6% (yoy). Situasi tetap memburuk setelah ekonomi AS juga mencatat pertumbuhan minus 0,9% (yoy) pada kuartal II/2022 sehingga mencatat resesi teknis.

Namun, dengan arah laju inflasi yang mulai melandai sejak Juni hingga Oktober lalu, langkah The Fed menaikkan suku bunga acuan ke depannya diperkirakan tidak akan seagresif sebelumnya, meskipun tetap akan tinggi pada kisaran 4,75%-5,0% pada 2023.

 

Perkembangan ekonomi Tiongkok

Kabar baik juga datang dari Tiongkok. Ekonomi ‘Negeri Panda’ yang tergambar dalam PDB kuartal III/2022 tumbuh 3,9% (yoy), melampaui ekspektasi para ekonom yang 3,4% (yoy). Pertumbuhan PDB kuartal III/2022 ini jauh melampaui raihan pada kuartal sebelumnya yang 0,4% (yoy). Namun, masih di bawah raihan di kuartal I/2022 yang 4,8% (yoy).

Kendati membaik jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, pertumbuhan pada kuartal III/2022 masih terbebani oleh sejumlah pembatasan akibat pandemi covid-19 yang menekan aktivitas bisnis. Sejumlah bank investasi pun telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Tiongkok ke kisaran 3% untuk tahun ini.

Sejatinya, secara kuartalan (quarter-to-quarter/qtq) ekonomi Tiongkok tumbuh 3,9%. Ini membalikkan kontraksi yang terjadi pada kuartal II/2022 sebesar 2,6% (qtq). Pertumbuhan kuartalan itu juga lebih tinggi dari proyeksi sebesar 3,5% (qtq). Adapun penjualan ritel tumbuh 2,5% (yoy) pada September lalu.

Yang bisa dicatat di sini, meskipun dilanda pandemi hebat, Tiongkok tidak pernah mengalami resesi sebagaimana negara-negara maju lainnya (AS, Jerman, dan Inggris). Setidaknya, pertumbuhan ekonomi baik secara kuartalan maupun tahunan tetap berada di jalur positif sebagai buah kebijakan yang efektif, meskipun kebijakan zero covid-19 menahan peluang pertumbuhan yang lebih tinggi.

Para pengambil kebijakan telah berjanji meningkatkan dukungan bagi pemulihan ekonomi dengan melonggarkan kebijakan pengetatan (lockdown) untuk menormalkan kembali jalur rantai pasokan sehingga menguatkan tingkat konsumsi domestik. Di samping itu, otoritas Tiongkok juga memberikan dukungan, di antaranya memberikan potongan kredit pajak ke lebih banyak sektor dan meningkatkan pemotongan pajak tahunan lebih dari 140 miliar yuan (US$21 miliar) secara keseluruhan menjadi 2,64 triliun yuan.

Kebijakan lainnya ialah menunda pembayaran jaminan sosial dan pembayaran pinjaman, meluncurkan proyek investasi baru, dan mengambil langkah-langkah strategis lain untuk mendukung ekonominya. Negara ini juga mengurangi beberapa pajak pembelian mobil penumpang sebesar 60 miliar yuan.

Dari gambaran di atas, maka meskipun outlook perekonomian global pada 2023 masih dihadapkan pada berbagai risiko dan tantangan, dari perang di Ukraina, resesi, stagnasi dan reflasi ekonomi di beberapa negara maju, negara berkembang, dan negara berpenghasilan rendah, lonjakan inflasi yang tinggi, hingga krisis energi dan pangan, percepatan pemulihan ekonomi AS dan Tiongkok memberikan harapan baru bagi pemulihan ekonomi dunia yang lebih cepat.

 

Relasi yang membaik

Pemimpin tertinggi Tiongkok, Presiden Xi Jinping, memberikan tekanan yang kuat untuk menempatkan hubungan negaranya dengan AS di jalur yang benar agar kembali ke jalur pertumbuhan yang sehat dan stabil. Pada 14 November 2022 lalu, Presiden Xi Jinping mengadakan pertemuan dengan Presiden AS Joe Biden di Bali, Indonesia. Dia mengatakan sangat senang bisa bertemu dengan Presiden Joe Biden lagi secara langsung.

Konon, keduanya menghabiskan banyak waktu bersama dan kembali pada hari-hari ketika mereka menjadi wakil presiden. Presiden Xi Jinping menegaskan komitmen untuk menjaga jalur komunikasi tetap terbuka di antara kedua negara. Sebagai pemimpin dua negara besar, mereka berbagi tanggung jawab untuk menunjukkan bahwa Tiongkok dan AS dapat mengelola perbedaan dengan elegan, mencegah persaingan mendekati konflik, dan menemukan cara untuk bekerja sama dalam masalah global mendesak yang membutuhkan kerja sama timbal balik keduanya.

Presiden Xi Jinping juga berharap Tiongkok dan AS memainkan peran kunci dalam mengatasi tantangan global, mulai dari perubahan iklim hingga kerawanan pangan, juga dapat membangun kerja sama saling menguntungkan. Respons positif disampaikan Presiden Joe Biden bahwa AS siap melakukan kerja sama dengan Tiongkok. Akhirnya, mereka sepakat bekerja sama lebih erat lagi untuk membawa kedua negara kembali ke jalur pertumbuhan yang sehat dan stabil bagi kepentingan kedua negara dan dunia secara keseluruhan.

Kesepakatan dan komitmen dua pemimpin tertinggi AS dan Tiongkok ini tentu masih harus ditindaklanjuti perangkat-perangkat pemerintahan masing-masing secara berkelanjutan. Tentu, hal ini menjadi stimulus tambahan bagi percepatan pemulihan ekonomi dunia yang lebih kuat, lebih kolektif, dan lebih berkesinambungan.

Di sinilah pemerintah Indonesia, di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo, mampu memainkan peran diplomasi internasional dengan amat baik sebagai tuan rumah perhelatan akbar Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 maupun sebagai fasilitator pertemuan dua tokoh dunia yang berpengaruh itu. Jika demikian, diperkirakan lembaga-lembaga internasional seperti IMF dan Bank Dunia akan merevisi ke atas outlook perekonomian dunia untuk 2023 dan 2024 nanti, meskipun perang di Ukraina masih membayangi. Semoga.

BERITA TERKAIT