02 October 2022, 05:00 WIB

Kopi, Batik, dan Nasionalisme


Adiyanto Wartawan Media Indonesia | Opini

MI/Ebet
 MI/Ebet
Adiyanto Wartawan Media Indonesia

KEMARIN, masyarakat internasional memperingati Hari Kopi. Hari ini, 2 Oktober, kita merayakan Hari Batik Nasional. Penetapan hari ini, hari itu, tentu bukan sekadar pengingat yang dirayakan dengan seremonial belaka. Pasti ada maksud dan tujuannya. Sama seperti halnya kita merayakan hari kelahiran. Di sela potong tumpeng atau tiup lilin, tentunya ada doa dan harapan untuk mengisi sisa umur di sela kulit yang semakin mengeriput. Ya, minimal merenung atau berkontemplasi lah, apa yang selanjutnya akan dilakukan di sisa usia nanti, bukan cuma sibuk menyemir uban.

Begitu pun dengan peringatan Hari Kopi dan Hari Batik. Apalagi, minum kopi juga merupakan bagian budaya masyarakat kita sejak zaman baeheula, dari Aceh hingga Papua. Tanaman ini juga tersebar dari Sabang sampai Merauke, dari Pulau Tidung hingga Pulau Rote. Begitu pula dengan batik sebagai busana. Hampir tiap daerah di Nusantara memiliki wastra ini dengan beragam corak khas masing-masing. Lantas, apa makna kedua peringatan hari tersebut? Apakah cukup dirayakan dengan Twibbon atau sekadar postingan di medsos mengenakan batik sembari menyeruput kopi? Apa tidak ingin produk kopi atau batik kita mendunia?

Sejauh ini, beberapa jenis kopi kita memang sudah go international, tetapi yang ‘menang banyak’ ialah gerai-gerai asing macam Starbucks. Itu lantaran mereka pintar mengemasnya. Sementara itu, nasib petani kopi kita, ya umumnya begitu-begitu saja. Tahun lalu, saya baca berita petani kopi di Mandailing Natal, Sumatra Utara, bahkan ingin meninggalkan profesi mereka lantaran anjloknya harga komoditas tersebut seturut merebaknya pandemi yang menggerus daya beli.

Persoalan semacam ini semestinya jadi perhatian kita bersama. Apalagi, peringatan Hari Kopi Internasional tahun ini diadakan dengan tujuan untuk lebih memperhatikan nasib petani, yang mata pencahariannya bergantung pada perkebunan kopi. Sebagai salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia, harusnya ada pengusaha atau petani kopi kita bisa sekelas Howard Mark Schultz, Chairman dan CEO Starbucks, atau sekaliber Daarnhouwer, perusahaan Belanda yang mengelola perkebunan kopi luwak di Sumatra dan Ethiopia yang menjadi pemasok dunia. Bukan, sekadar menyediakan buruh seperti di zaman VOC.

Bukan hanya pada komoditas kopi, kita juga mesti memikirkan nasib industri dan perajin batik. Kita tidak boleh puas hanya lantaran wastra ini telah diakui UNESCO sebagai warisan tak benda. Ingat, ada jutaan orang yang nasibnya bergantung pada helai kain ini. Harus ada upaya (political will) serius agar produk ini berguna dan bermanfaat bagi generasi selanjutnya. Istilah kerennya sustain (berkelanjutan), baik secara ekonomi, budaya, maupun lingkungan. Kita mungkin bisa belajar dari Korea Selatan, bagaimana negara itu mengelola produk mereka. Bukan cuma elektronik dan otomotif, melainkan juga kesenian, fesyen, dan kuliner. Mereka bangga dengan apa yang mereka punya dan serius menjadikannya produk andalan penghasil devisa.

Sebagai negara yang kaya sumber daya alam dan budaya, seharusnya kita pun bisa. Yang terpenting ialah niat dan kemauan. Selama bermental makelar, kita cuma akan kebagian ampasnya dan tersisih dari rivalitas global. Selain kemauan, hal terpenting lainnya ialah kolaborasi dan inovasi. Kita punya banyak lembaga riset di bidang pertanian, termasuk di sejumlah perguruan tinggi, yang semestinya bisa dimanfaatkan dan difasilitasi untuk mengolah berbagai komoditas andalan. Di tengah situasi perekonomian yang kian terhubung, memiliki ketahahan pangan menjadi modal yang amat krusial. Syukur-syukur menjadi pemain utama yang bisa menguasai rantai pasok global.

Telah berabad-abad lamanya kopi dan batik mengisi dapur dan almari masyarakat kita. Kini, mungkin sudah saatnya pengusaha, atau mungkin perajin kita menjadi pemilik gerai kopi dan butik ternama di Eropa, Amerika, dan belahan dunia lainnya. “Di sanalah aku berdiri jadi pandu ibuku'"...begitu barangkali maksud sesungguhnya dari sebait lirik pada lagu kebangsaan kita. Percuma mengaku dan berkoar-koar cinta
Tanah Air, kalau hobi dan kelakuannya justru bangga dan senang dengan produk-produk impor. Wasalam.

BERITA TERKAIT