30 September 2022, 20:30 WIB

Biar Angka yang Bicara Nuklir itu Energi Ramah Lingkungan


Agnafan JF, Pemerhati energi | Opini

Dok pribadi
 Dok pribadi
Agnafan JF

WE live at a time when emotions and feelings count more than truth, and there is a vast ignorance of science (James Lovelock).

Apa yang terlintas di pikiran kita saat pertama kali mendengar kata nuklir? Kemungkinan besar salah satu dari bom atom, senjata nuklir, radiasi, berbahaya, Chernobyl, Fukushima, atau tidak ramah lingkungan. Nuklir sering kali dipandang sebelah mata dan dicap sebagai energi yang tidak ramah lingkungan. Namun, apakah data dan sains menunjukkan hal yang serupa? Simak beberapa data berikut yang mengungkap fakta bahwa nuklir adalah energi yang ramah lingkungan.

Emisi gas rumah kaca

Sektor terbesar penghasil emisi gas rumah kaca adalah energi, yang didominasi oleh pemanfaatan energi listrik. Untuk menghambat laju perubahan iklim, dunia perlu mengurangi emisi gas rumah kaca dengan cepat. Produksi energi dari batu bara menghasilkan sekitar 1 ton karbon dioksida per megawatt jam energi yang dibangkitkan. (Keyword: life-cycle greenhouse gas emissions of energy sources)

Sebagai perbandingan, tenaga nuklir menghasilkan sangat sedikit– bahkan hampir nol karbon dioksida dalam memproduksi energi. Pada 2020, Amerika Serikat telah berhasil mengurangi lebih dari 471,3 juta ton emisi karbon dengan bantuan tenaga nuklir, atau setara dengan menghilangkan 100 juta mobil dari jalanan.

Densitas energi

Densitas energi atau kerapatan energi adalah besar kecilnya energi yang tersimpan dalam satuan ruang atau massa dari suatu material tertentu. Semakin tinggi densitas energinya, semakin efisien material tersebut dalam menghasilkan energi. Bahan bakar nuklir seperti Uranium-235 memiliki densitas energi sebesar 79.390.000 MJ/kg. Sedangkan batu bara, minyak, gas alam, dan lithium memiliki densitas energi masing-masing sebesar 30 MJ/kg, 42 MJ/kg, 53,5 MJ/kg, dan 43 MJ/kg. 

Satu bongkah uranium (bahan bakar nuklir) seukuran bola golf dapat memenuhi kebutuhan energi seseorang untuk seumur hidup. Itu setara dengan 56 truk tangki gas alam atau 800 kantong batu bara seukuran gajah. (Keyword: fuel energy density)

Densitas energi dari sumber energi akan berdampak pada ukuran footprint dan tingkat aktivitas penambangan. Aspek lahan akan sangat berkorelasi dengan ekologi dan lingkungan. Sementara penambangan tidak hanya berkorelasi dengan lingkungan, tapi juga relevan pada aspek keberlanjutan. Maka kedua aspek ini juga sangat penting dikaitkan dengan definisi energi ramah lingkungan.

Footprint

Karena densitas energinya yang tinggi dan dengan kapasitas faktor rata-rata mencapai 90%, tenaga nuklir dapat menghasilkan energi dalam jumlah besar dengan kebutuhan lahan yang kecil. Untuk menghasilkan 1.000 megawatt listrik, fasilitas energi nuklir hanya membutuhkan lahan sekitar 250 hektare. Sebagai perbandingan, untuk menghasilkan listrik dengan daya yang sama, fasilitas energi surya membutuhkan lahan 75 kali lebih besar. Sedangkan fasilitas energi angin membutuhkan lahan 360 kali lebih besar. (Keyword: Land use of energy sources per unit of electricity)

Penambangan

Pembangkitan energi nuklir membutuhkan material baik sebagai bahan bakar maupun bahan baku yang sangat sedikit. Lagi-lagi disebabkan oleh tingginya densitas energi dari tenaga nuklir. Ini berarti lebih sedikit aktivitas penambangan yang diperlukan. Tenaga nuklir memiliki densitas energi tertinggi di antara sumber energi lain. Satu kilogram uranium dapat menghasilkan sekitar 24 juta kilowatt listrik, sedangkan satu kilogram batu bara menghasilkan sekitar 8 kilowatt listrik.

Bahan baku yang digunakan mayoritas adalah beton dan baja. Untuk menghasilkan 1 terawatt jam listrik, tenaga nuklir butuh sekitar 760 ton beton dan 160 ton baja. Jumlahnya relatif sangat kecil dibandingkan yang dibutuhkan oleh sumber energi lain. (Keyword: Materials throughput by type of energy sources)

Limbah

Last but not least, volume limbah nuklir yang dihasilkan dari pembangkitan energi nuklir sangat kecil dibandingkan limbah industri lainnya karena densitas energi yang sangat tinggi dari bahan bakar nuklir. Bahkan, limbah pemakaian listrik dari tenaga nuklir untuk seumur hidup bagi seseorang akan muat dalam sebuah kaleng soda. 

Meskipun limbah nuklir memancarkan radiasi, namun salah satu kelebihannya adalah bahan bakar nuklir bekas dapat dengan mudah didaur ulang dan digunakan kembali. Dengan begitu dapat semakin mengurangi jumlah limbah akhirnya. Faktanya, fly ash atau abu dari pembakaran batu bara untuk pembangkitan listrik membawa radiasi ke lingkungan 100 kali lebih banyak daripada tenaga nuklir dengan menghasilkan jumlah energi yang sama.

Kesimpulan

Angka-angka di atas telah mengungkapkan fakta bahwa tenaga nuklir sangat ramah lingkungan. Hampir tidak mengemisikan gas rumah kaca, memiliki densitas energi sangat tinggi sehingga mengurangi penggunaan lahan, aktivitas penambangan, dan menghasilkan limbah yang sangat sedikit. Selain itu, banyak sekali kelebihan dan manfaat lain yang ditawarkan oleh tenaga nuklir. Sudah waktunya untuk kita menghapus stigma terhadap tenaga nuklir yang mayoritas merupakan mis-informasi. 

Terlebih, nuklir telah diakui berperan penting dalam pengembangan energi bersih dan target iklim akan sulit dicapai tanpa peran tenaga nuklir. Seperti yang dilaporkan oleh International Energy Agency (IEA) dalam dokumen berjudul Nuclear Power in a Clean Energy System yang dipublikasikan pada 2019. Dari pada terus terjebak dalam ketakutan yang tidak berdasar untuk memanfaatkan tenaga nuklir, sebaiknya kita fokus untuk mempelajari dan meningkatkan kemampuan untuk meminimalkan potensi risiko. Dengan begitu tenaga nuklir dapat dimanfaatkan secara maksimal demi kepentingan dan kesejahteraan umat manusia.

BERITA TERKAIT