29 August 2022, 05:10 WIB

Gangguan Pengendalian Diri


Khoiruddin Bashori Dewan Pengawas Yayasan Sukma Jakarta | Opini

Dok. Pribadi
 Dok. Pribadi
    

AKSI 'Rambo' Duren Tiga telah menjadi drama yang mengharu biru sebulan terakhir ini. Semua mata tertuju pada kasus kekerasan yang langka. Jenderal bintang dua membunuh ajudannya sendiri dengan penuh amarah. Banyak perwira yang diduga terlibat dalam skenario menutup-nutupi kejadian; penghilangan barang bukti dan penyebaran berita bohong.

Terlepas apakah motif dewasa atau motif instrumental yang melatarbelakangi, yang sudah pasti itu adalah ekspresi dari gangguan pengendalian diri. Apa pun kesalahan Brigadir J, sebetulnya tidak ada kesulitan sama sekali bagi seorang jenderal polisi untuk menempuh langkah-langkah hukum sekalipun dalam upaya memberikan hukuman kepada yang bersangkutan.

Belakangan kasus-kasus lepas kendali tidak hanya terjadi pada orang dewasa, tapi juga pada anak-anak dan remaja. Seorang bocah perempuan berinisial AM asal Pulau M, Kabupaten S, Provinsi JT, tega membunuh temannya sendiri karena ingin menguasai perhiasan kalung dan anting milik korban. Untuk menghilangkan jejak, pelaku membuang mayat ke dalam gorong-gorong dan menutupinya menggunakan batu (metrotvnews.com, 11/6).

Gara-gara telepon seluler, pelajar SMP di kota M membunuh temannya sendiri. Korban ditemukan meninggal di tengah kebun kopi dengan penuh luka. Kepada polisi, pelaku mengaku menganiaya dan menghabisi nyawa korban karena takut ketahuan telah mencuri ponsel miliknya (kompas.com, 7/8).

 

Problem pengendalian diri

Kajian tentang pengambilan keputusan etis menunjukkan, identitas moral--bagaimana moralitas menjadi pusat dalam identitas individu--tidak hanya mengarahkan pada motivasi untuk menjadi etis, tetapi juga menghasilkan keputusan dan perilaku utama. Ada keterkaitan erat antara identitas moral dan pengendalian diri. Blasi (2005) berpendapat, kemauan adalah komponen penting identitas moral seseorang. Ini berarti identitas moral merupakan 'mekanisme pengaturan diri yang memotivasi tindakan moral'.

Oleh karena itu, orang-orang yang memiliki konsep diri yang didominasi oleh moralitas tinggi cenderung menggunakan kapasitas pengendalian diri untuk mencapai tujuan moral manakala menghadapi problematika etis. Dengan kata lain, jika individu memiliki identitas moral kuat, moralitas adalah bagian terpenting dari identitas dirinya. Yang bersangkutan akan lebih termotivasi secara intrinsik menggunakan pengendalian diri untuk mencapai tujuan moral utamanya, yakni keputusan atau tindakan etis.

Pengendalian diri adalah kemampuan untuk mengatur dan mengubah respons diri dalam menghindari perilaku yang tidak diinginkan, meningkatkan yang diinginkan, dan mencapai tujuan jangka panjang. Penelitian menunjukkan, kemampuan pengendalian diri sangat berperan penting dalam meraih kesehatan dan kesejahteraan, jangka pendek maupun jangka panjang.

Survei stres di Amerika yang dilakukan American Psychological Association (APA) pada 2012 menemukan, 27% responden teridentifikasi kurang kemauan sebagai faktor utama kegagalan mencapai tujuan. Mayoritas responden (71%) percaya bahwa pengendalian diri dapat dipelajari dan diperkuat.

Eksperimen membuktikan, siswa dengan disiplin diri tinggi memiliki nilai lebih baik, nilai tes lebih tinggi, dan cenderung lebih siap menghadapi program akademik yang kompetitif. Studi juga menemukan, berkaitan dengan keberhasilan akademik, pengendalian diri adalah faktor lebih penting daripada skor IQ (Duckworth & Seligman, 2005).

Manfaat kontrol diri tidak terbatas pada kinerja akademik. Satu studi kesehatan jangka panjang menemukan, tingkat pengendalian diri yang tinggi selama masa kanak-kanak benar-benar dapat memprediksi kesehatan kardiovaskular, pernapasan, dan gigi di masa dewasa, serta peningkatan status keuangan (Moffitt dkk, 2011).

Sebaliknya, kurangnya pengendalian diri dikaitkan dengan perilaku adiktif (Baumeister, 2003) dan perilaku kriminal (Gottfredson & Hirschi, 1990). Kurangnya kapasitas pengendalian diri memiliki konsekuensi pribadi dan sosial. Lemahnya pengendalian diri mengarah pada keterlibatan seseorang ke dalam berbagai tindakan otomatis dan perilaku agresif seperti tawuran dan aneka kekerasan lainnya. Para peneliti mencoba memahami alasan yang mungkin berkait dengan gangguan pengendalian diri ini. Beberapa di antaranya, keinginan untuk mendapatkan keuntungan jangka pendek, tekanan emosional dan depresi (Tice, dkk., 2001), rendahnya personal agency (Vallacher & Wegner, 1989), dan penyusutan ego (Muraven & Baumeister, 2000).

Dengan demikian, setidaknya terdapat dua alasan mengapa individu perlu memiliki kemampuan pengendalian diri secara berkelanjutan. Pertama, individu hidup bersama kelompok sehingga dalam memuaskan keinginannya orang harus dapat mengontrol perilakunya agar tidak mengganggu kenyamanan orang lain. Kedua, komunitas mendorong individu untuk secara terus-menerus menyusun standar yang lebih baik bagi dirinya. Ada semacam keharusan, secara moral orang harus semakin baik seiring berjalannya waktu. Manakala individu berusaha memenuhi tuntutan sosial, dibuatlah kemudian pengontrolan diri agar dalam proses pencapaian standar dimaksud orang tidak melakukan hal-hal menyimpang.

 

Latihan olah rasa

Pada akhirnya, kemampuan untuk menata hati, mengolah rasa, menjadi hal terpenting dalam upaya meningkatkan kapasitas pengendalian diri. Memasuki era disrupsi, dengan dinamika perubahan sangat cepat dan tidak terduga, pintar saja tidak cukup. Dibutuhkan ketangguhan memadai untuk dapat terus bertahan dalam gelombang dan badai.

Duckworth dkk (2011) menyarankan beberapa hal yang dapat dilakukan untuk melatih pengendalian diri. Pertama, plan ahead (rencana ke depan). Pertimbangkan situasi yang mungkin akan merusak tekad kita. Jika seseorang dihadapkan pada godaan, atau tekanan persoalan yang mengganggu, tindakan apa yang akan diambil agar tidak menyerah?

Kedua, terus berlatih. Secara teratur libatkan diri dalam perilaku yang mengharuskan kita melakukan pengendalian diri. Latihan demikian akan meningkatkan kapasitas kendali diri dari waktu ke waktu. Bayangkan pengendalian diri sebagai otot. Dengan latihan, otot akan tumbuh semakin kuat. Ketiga, fokus pada satu tujuan di satu waktu. Menetapkan banyak tujuan sekaligus, seperti membuat daftar beberapa resolusi di awal tahun baru, biasanya merupakan pendekatan yang tidak efektif. Langkah terbaik ialah memilih satu tujuan tertentu dan fokuskan energi padanya.

Keempat, merenung. Meditasi, zikir, muhasabah adalah cara yang bagus untuk memperkuat otot pengendalian diri. Jika seseorang sedang belajar meditasi, kesadaran-penuh (mindfulness) adalah tempat yang tepat untuk mulai berlatih bagaimana menjadi lebih sadar diri sehingga dapat lebih baik mengatasi godaan. Teknik ini juga dapat membantu kita belajar memperlambat pikiran, berefleksi, merenung secara lebih mendalam. Kesadaran-penuh merupakan bentuk perhatian penuh pada kondisi saat ini dan menerimanya dengan penuh kesadaran. Kesadaran-penuh menekankan pada kualitas kesadaran. Menyadari sepenuhnya apa yang sedang terjadi dan mengambil langkah-langkah efektif yang diperlukan untuk mengatasi persoalan kehidupan.

BERITA TERKAIT