23 August 2022, 05:05 WIB

Bersiap, Kutukan Kemerdekaan Indonesia yang Menghantui Belanda


Bambang Purwanto Staf Pengajar Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, UGM | Opini

MI/Seno
 MI/Seno
Ilustrasi MI

BANGSA Indonesia baru saja memperingati 77 tahun proklamasi kemerdekaan. Setiap kali memasuki Agustus, kita selalu larut dalam sukacita mengagungkan perjuangan di masa awal kemerdekaan. Ingatan simbolik kolektif bangsa yang berfungsi sebagai semangat untuk menjalani pahit manisnya kehidupan sebagai negara bangsa yang berdaulat. Namun, tidak bagi Belanda. Masa-masa awal setelah kemerdekaan bangsa Indonesia diproklamasikan, yang disebut 'Bersiap' dalam historiografi Belanda, menjadi memori kolektif yang terus menghantui baik kehidupan negara maupun masyarakatnya sampai saat ini. Belanda masuk ruang yang dipenuhi oleh beban struktural dan kegaduhan internal.

 

Bersiap dalam historiografi Indonesia

‘Bersiap’ merupakan konsep yang sangat baru dalam narasi sejarah di Indonesia. Dalam buku Sejarah Nasional Indonesia

 (1975), istilah ‘Bersiap’ sama sekali tidak pernah digunakan. ‘Bersiap’ juga tidak ditemukan dalam tulisan sejarawan Indonesia dalam buku Denyut Nadi Revolusi Indonesia, yang diterbitkan untuk memperingati 50 tahun kemerdekaan Indonesia. Oleh sebab itu, kata ‘Bersiap’ merupakan sesuatu yang sangat asing bagi para sejarawan Indonesia, apalagi bagi masyarakat umum.

Padahal konteks kekerasan kolektif yang menjadi fokus dari istilah ‘Bersiap’ bukan sesuatu yang baru dalam pengetahuan sejarah di Indonesia tentang masa itu. Revolusi sosial yang mempelajari peristiwa sejarah dari salah satu unsur utama yang tercakup dalam istilah ‘Bersiap’ telah menjadi salah satu pokok bahasan dalam pembelajaran sejarah menurut kurikulum sekolah menengah atas pada masa Orde Baru.

Setelah bertahun-tahun para sejarawan asing khususnya Belanda menggunakannya, istilah ‘Bersiap’ secara resmi diadopsi ke dalam historiografi Indonesia dalam buku Indonesia Dalam Arus Sejarah (2012). Pada salah satu bab dalam jilid ke-6 terdapat satu subbab yang berjudul 'Masa Bersiap'. Periode itu disebutkan sebagai 'saat-saat kritis antara kekalahan Jepang pada 15 Agustus 1945 hingga pendaratan Sekutu di Indonesia pada akhir September 1945 dan bulan-bulan terakhir tahun 1945'.

Selain digambarkan sebagai masa para generasi muda mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai kemungkinan yang akan terjadi sejak terdapat indikasi kembalinya Belanda, masa itu juga dikaitkan dengan munculnya berbagai kekerasan, menyusul berkembangnya kebencian yang meluas terhadap unsur asing, termasuk terhadap penduduk bumiputra yang menjadi bagian dari kekuasaan kolonial sebelumnya.

Berdasarkan sumber-sumber sezaman dan memori kolektif bangsa Indonesia, kata ‘Bersiap’ diyakini berakar dari kata 'siap' yang biasa diteriakkan bersama-sama dengan pekik 'merdeka' oleh kelompok muda Indonesia. Pekik berfungsi sebagai penyemangat dan tanda untuk mempersiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi. Dari beberapa koran pada saat itu, seperti Kedaoelatan Rakjat, Soeara Merdeka, atau Merdeka, diketahui bahwa pada awalnya kata 'siap' diteriakkan saling bersautan oleh penduduk sambil memukul kentungan atau bunyi-bunyian lain. Teriakan itu merupakan tanda untuk berkumpul dan menunjukkan kesiapan menjaga keamanan lingkungan masing-masing dari para perusuh.

Sementara itu, dalam buku Di Bawah Kaki Pak Dirman, Nasjiah Djamin dalam cerita pertemuan menggambarkan 'jaman siap' sebagai masa 'setelah tentara Belanda mendarat dan Nica bersitumpu kaki di antara pergolakan pemuda-pemuda berbambu runcing yang memperjuangan kemerdekaan tanah airnya'. Menurut Nasjiah Djamin, para pemuda pejuang Indonesia diidentifikasi Belanda sebagai ekstrimis, pemuda pengacau, atau bahkan bandit.

Selain bertugas untuk menjaga keamanan dan siap menghadapi serangan musuh, para pemuda juga digambarkan sering mendatangi rumah-rumah orang yang diidentifikasi berpihak kepada Belanda dengan tugas membujuk mereka mendukung Republik Indonesia, revolusi, dan Bung Karno. Dalam hal yang terakhir inilah distorsi terjadi. Ketika pekik nasionalis yang berfungsi sebagai penyemangat untuk menjaga keamanan dan mempertahankan diri dari musuh bersama berubah menjadi egoisme dan sikap mental kriminal yang bepusat pada tindakan kekerasan terhadap berbagai kelompok sosial di dalam masyarakat.

 

Akar ‘Bersiap’ Belanda

Bagaimana dan sejak kapan pekik 'siap' para penduduk dan pejuang Indonesia berubah dan bertransformasi menjadi wacana Bersiap historiografi Belanda? Istilah ‘Bersiap’ yang mencakup periode dan pengalaman traumatik dari kekerasan yang dialami oleh orang Eropa dan penduduk lainnya pada awal kemerdekaan Indonesia dapat ditelusuri dari sejarah intelektual dan mentalitas dalam ruang historiografi Belandasentris. Dari pelacakan awal diketahui, seluruh kerangka berpikir yang membingkai historiografi ‘Bersiap’ itu telah terbentuk ketika Belanda masih menduduki wilayah Indonesia dalam proses membangun kembali kekuasaan kolonialnya.

Salah satu referensi yang dipercaya menjadi acuan utama ialah karya ilmiah PM Van Wulfften Palthe. Dalam artikel berjudul Psychologische Beschouwing Omtrent den Huidigen Toestand op Java yang dipublikasikan di jurnal NTVG pada Mei 1946, Palthe membahas tindakan kekerasan terhadap orang kulit putih dan segala unsur asing yang dilakukan penduduk bumiputra, orang yang sebelumnya digambarkan sebagai paling lemah lembut di dunia.

Menurut Palthe, perubahan sikap spiritual penduduk bumiputra yang mengamuk secara kolektif itu merupakan dampak dari hasutan melawan orang kulit putih, persiapan yang diberikan kepada para pemuda melalui prosesi dan nyanyian perang, dan agitasi yang mempertentangkan antara superioritas Timur dengan pembusukan Barat selama tiga tahun terus-menerus pada masa Jepang. Palthe juga menyatakan, keadaan semakin diperburuk oleh ketidakmampuan Indonesia yang telah menyatakan kemerdekaan untuk berfungsi sebagai sebuah negara bangsa dan pemerintahan.

Klaim atas kemerdekaan dan kebebasan Indonesia dianggap tidak nyata. Para pemimpin Republik Indonesia dianggap tidak mampu melakukan apa pun selama dua bulan pertama setelah proklamasi. Mereka digambarkan Palthe 'seperti menendang tirai yang longgar' sehingga meninggalkan ruang kosong yang disebutnya dapat dimasuki oleh kejahatan horror vacui naturae. Pada bagian lain, Palthe juga mempersoalkan Belanda yang terlambat datang kembali, padahal banyak orang yang sedang menunggu bantuannya.

Karya yang dipublikasikan pada 1946 itu memang belum menyebutkan istilah ‘Bersiap’. Akan tetapi, dalam monograf yang dipublikasikan pada 1949 berjudul Psychological Aspects of the Indonesian Problems, PM Van Wulfften Palthe secara eksplisit menggambarkan sikap agresif kolektif dan liar dari penduduk bumiputra. Sikap mental yang ditandai oleh pembunuhan dan berbagai bentuk kriminalitas itu disebutnya terjadi pada periode ‘Bersiap’, yang mencakup bulan-bulan terakhir 1945.

Pada karya yang merupakan terjemahan dari artikel sebelumnya dengan tambahan data dari pengamatan kemudian, Palthe menyatakan semua kekerasan traumatik yang dialami sebagai gejala yang bersifat patologis. Pada bagian akhir tulisannya Palthe menyatakan, "Pemahaman yang kurang terhadap mentalitas Timur dan tidak adanya kemampuan mendamaikan mentalitas itu dengan kenyataan masa kini berakibat pada kesengsaraan yang bertahun-tahun."

 

Beban struktural

Secara historiografis, cara berpikir dan mentalitas yang terbentuk oleh karya ilmiah itu kemudian mewarisi beban struktural bagi Belanda. Hal itu sekaligus merupakan representasi dari problematik akut berkelanjutan dalam narasi historiografi Belanda tentang sejarah Indonesia periode 1945-1949. Istilah ‘Bersiap’ dan fakta sejarah yang melekat di dalamnya telah diklaim menjadi milik eksklusif Belanda, sekaligus klaim sepihak terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi. Belanda hanya memosisikan dirinya sebagai korban, sedangkan pihak Indonesia sebagai pelaku.

Historiografi Belanda juga menempatkan segala hal yang terjadi di Indonesia sepanjang 1945-1949 sebagai peristiwa mandiri. Peristiwa yang terpisah dari pengaruh hegemoni VOC sejak abad ke-17 sampai dengan praktik kolonial dan imperialis Belanda di kepulauan Indonesia berakhir, yang sekaligus menyangkal fakta kemerdekaan Indonesia melalui Proklamasi 17 Agustus 1945. Padahal semua itu membentuk amnesia sejarah. Kegaduhan tentang ‘Bersiap’ di Belanda sampai detik ini merupakan kutukan kultural kemerdekaan Indonesia. Beban struktural yang terus menghantui Belanda, yang bertransformasi bentuk dari waktu ke waktu mengikuti berbagai kepentingan yang berbeda-beda.

Di Belanda, ingatan atas penderitaan yang pernah dialami di kepulauan Indonesia di masa ‘Bersiap’ menjadi alasan untuk menuntut tanggung jawab Indonesia, di balik permintaan maaf. Kata ‘Bersiap’ juga telah bertransformasi menjadi mantra historiografis yang difungsikan sebagai penghapus segala kesalahan dari tindakan Belanda di kepulauan Indonesia. Konsepsi dan mentalitas yang mendua serta dilematis dari kenyataan sejarah ‘Bersiap’ itu terus menjerat Belanda tidak hanya secara politis, tapi juga akal sehat intelektual dan keadaban.

BERITA TERKAIT