16 August 2022, 13:00 WIB

Mengembalikan Kebanggaan yang Hakiki terhadap Merah Putih


Dian Rachmawati, Kepala Satuan Tugas Sosialisasi dan Kampanye KPK | Opini

Dok pribadi
 Dok pribadi
Dian Rachmawati

SETIAP tahun saya mendedikasikan diri untuk pergi ke negara-negara yang belum pernah saya kunjungi. Motivasinya sederhana, untuk mengetahui kearifan lokal (local wisdom), apa yang sama atau berbeda dengan Indonesia. Bonusnya tentu saja, bisa dapat kenalan baru atau berpose di tempat-tempat terkenal yang keren sekali jika diunggah di media sosial (medsos). 

Perbincangan dengan penduduk lokal sering terjadi di bandara, saat selonjoran di taman sembari menyeruput kopi. Atau, ketika tersasar setelah menyusuri lorong-lorong setapak dalam perjalanan mencari lokasi hidden gems. Mereka lantas bertanya dari mana saya berasal. Lalu dengan bangga saya bilang, "I come from Indonesia". 

Dengan lancar saya menjelaskan bahwa Indonesia bukan hanya Bali, tapi ada 37 provinsi dengan 542 kota-kota yang indah di dalamnya. Orang ramah-ramah, budayanya kaya, dan makanannya enak-enak. Terkadang juga muncul pertanyaan dari mereka "Does anyone we know that famous from Indonesia?" Mendengar pertanyaan ini saya jadi gemas sekaligus bersemangat. 

Saya bisa bicara panjang lebar soal siapa saja orang-orang Indonesia yang terkenal hingga mancanegara. Kurang lebih nama-nama yang saya 'hidangkan' kepada mereka yang bertanya adalah Carina Citra Dewi dan Indra Rudiansyah, ilmuwan Indonesia yang sukses membantu produksi vaksin covid-19, Oxford AstraZeneca. Ada juga Joey Alexander, piano prodigy asal Indonesia yang menyabet dua nominasi Grammy Award saat usianya baru 13 tahun. 

Di ranah fesyen juga banyak nama-nama terkenal Indonesia di kancah internasional. Sebut saja Tex Saverio, Rinaldi Yunardi, Peggy Hartanto, Ardistia Dwiastri, atau Dian Pelangi yang rancangan busananya tersebar di kota-kota besar dunia. 

Lantas siapa yang tidak kenal almarhum Prof BJ Habibie? Mantan Presiden RI Ketiga ini tersohor karena kejeniusannya di bidang kedirgantaraan. Pak Habibie adalah pemegang 45 hak paten teknologi dunia. Salah satu temuan beliau adalah Crack Progression Theory yang masih digunakan di dunia penerbangan saat ini.

Masih banyak sebenarnya jika kita ulik nama-nama pengharum Indonesia. Saya bisa bicara tiga hari tiga malam dan membuat daftar panjang soal mereka. Saya pribadi memang tidak sespektakuler mereka dalam pencapaian, namun bangga menceritakan 'para pembawa merah-putih' ini kepada warga asing yang saya temui dalam setiap journey. 

Tapi di dalam kebanggaan itu, saya tidak bisa terlalu jemawa. Indonesia memang berprestasi, tapi kasus korupsinya terlalu kentara untuk diabaikan. Bahkan hal itu terlalu menyesakkan jika harus ditoleransi. Dalam hal ini, saya sedikit tertunduk malu.

Dalam Indeks Prestasi Korupsi, Indonesia ada di ranking 98 dari 180 negara di dunia. Nyaris setiap bulan selalu ada saja pemberitaan operasi tangkap tangan. Data KPK dari 2004-2022 menyebut ada 1.400 orang ditangkap karena korupsi. Rasanya tingkat korupsi di negara kita mengkhawatirkan, jika tidak mau disebut memalukan. 

Menikmati hasil

Padahal pada 2022 ini Indonesia sudah 77 tahun merdeka. Sebuah angka yang seharusnya masuk tahap kemapanan, tinggal menikmati hasil kerja keras di usia muda. Melihat kondisi anak bangsa yang nirintegritas ini, barangkali akan merah wajah para pendiri bangsa kita. Entah malu atau marah karena Indonesia yang mereka rebut dari penjajah malah kini digerogoti orang-orang sendiri. Ir Sukarno seakan bisa meramal masa depan ketika mengatakan, "Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, namun perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri."

Di awal kemerdekaan dulu, banyak para tokoh bangsa kita yang terkenal karena memegang integritasnya. Sebut saja Mohammad Hatta, Agus Salim, Jenderal Sudirman, M Natsir, dan masih banyak lagi. Penggalan kisah-kisah mereka tersohor, bukan lantaran flexing kekayaan atau kontroversi yang mendadak viral, tetapi karena kesederhanaan yang muncul dari jiwa yang luhur dan jujur. 

Sulit untuk tidak terenyuh mendengar kisah Bung Hatta yang hingga akhir hayatnya tak bisa membeli sepatu Bally idamannya, padahal beliau merupakan wakil presiden. Atau cerita M Natsir yang hanya punya dua setel jas, itu pun ada tambalannya, padahal menjabat menteri. Rasanya di masa itu tidak habis orang-orang yang bisa diambil jadi teladan. Sementara sekarang, sosok seperti mereka langka nyaris punah. Kalau pun ada, mungkin bisa dihitung jari. 

Hindari toksik

Jika sulit mencari panutan, setidaknya kita bisa membentuk diri menjadi teladan bagi orang lain. Agar tidak terjerumus dalam korupsi, biasakanlah yang benar, jangan membenarkan yang biasa, itulah yang dilakukan para pendiri bangsa ini. Mereka menyebarkan semangat juang dan rela berkorban. Sebarkan atmosfer positif, jangan menjadi seorang yang toksik.

Seperti Dementor pada kisah Harry Potter, orang toksik menyedot semua aura positif, menguarkan aura negatif, melemahkan semangat juang. Toksik tidak hanya ada pada orang, tapi juga lingkungan. Lingkungan yang toksik dapat mengubah orang baik menjadi koruptor. Tidak percaya? Coba lihat, berapa banyak orang baik yang masuk ke lingkungan buruk, lalu berubah menjadi buruk juga. Tidak sedikit koruptor yang dibui dulunya bisa jadi adalah orang-orang bersih, bahkan pengoleksi penghargaan antikorupsi. 

Kita harus sadari ada bandwagon effect dari kondisi seperti itu. Orang-orang yang bersih hanya ikut-ikutan saja untuk korupsi, ada yang jadi seperti pemandu sorak. Entah agar bisa diterima lingkungan atau sekadar beradaptasi, yang jelas sikap mental tersebut bikin mereka ikutan kotor. 

Tujuh puluh tujuh tahun Indonesia merdeka, apa kurangnya negeri ini. Tapi yang terjadi adalah paradox of plenty, sumber daya alam yang berlimpah ruah menjadi kutukan ketika tidak bisa dinikmati banyak rakyatnya karena dikorupsi. Hal ini membuat visi pada pendiri bangsa pada 1945 masih sangat relevan, yaitu menciptakan negara yang makmur dan sejahtera.

Indonesia bukannya kekurangan orang pintar, tapi minimnya orang jujur. "Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar, kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur sulit diperbaiki," kata Bung Hatta. 

Ketidakjujuran memang sulit diperbaiki, tapi tidaklah mustahil untuk diubah. Itulah mengapa KPK saat ini melancarkan strategi pencegahan dan pendidikan, untuk menanamkan nilai-nilai integritas dan kejujuran kepada generasi-generasi baru. Kerja KPK kini tidak melulu soal memenjarakan koruptor, tapi juga bersiasat agar tidak ada lagi yang korupsi.

Tidak hanya mengupayakan melalui pendidikan formal, kami di KPK juga menggunakan cara-cara kreatif yang sesuai dengan zaman untuk sebarkan nilai antikorupsi. Sebut saja melalui festival film antikorupsi atau ACFFEST yang setiap tahunnya kami adakan, atau berbagai webinar dengan tema-tema yang happening, hingga kegiatan-kegiatan seru yang menyenangkan lainnya. 

KPK saat ini tengah menanam benih, menyirami dan memupukinya. Harapannya, apa yang KPK lakukan saat ini akan tumbuh dan berbuah manis di masa yang akan datang. KPK ingin menyebarkan semangat yang positif untuk membangun negeri. Semua orang bisa berkontribusi, tidak ada peran yang terlalu kecil dalam melakukan kebaikan. 

Ingat butterfly effect, kepak sayap kupu-kupu pada akhirnya bisa menciptakan badai dahsyat. Bisa jadi hal kecil yang kita lakukan saat ini, menciptakan rantai-rantai kebaikan yang berdampak besar di kemudian hari. Menjaga integritas diri berarti tidak jadi orang naif yang ikut-ikutan bobrok. Cuma ikan mati yang bergerak mengikuti arus, sementara salmon berenang gagah melawan derasnya air.

Camkan baik-baik, bahwa kita semua adalah pribadi yang berarti. Bukankah puzzle tidak akan lengkap jika ada satu saja bagiannya yang hilang. Barangkali kita adalah kepingan yang hilang tersebut untuk melengkapi mimpi Indonesia. Mimpi kami ketika Indonesia 100 tahun merdeka pada 2045, adalah munculnya generasi-generasi berkualitas yang bebas korupsi. Mereka dengan karakter yang kuat ini akan bisa bersaing di kancah global, mengharumkan Indonesia dengan beragam prestasi. 

Merekalah yang akan mengembalikan kebanggaan kita yang hakiki untuk tinggal di negara ini. Sehingga nanti ketika suatu saat berbincang dengan orang asing, saya bisa dengan lantang dan kepala tegak mengatakan bahwa Indonesia adalah negara yang kaya raya dan bersih dari korupsi.

BERITA TERKAIT