16 August 2022, 10:11 WIB

Swasembada Beras Kado Istimewa HUT RI Ke 77


Abiyadun, Humas Kementerian Pertanian | Opini

Ist
 Ist
Abiyadun, Humas Kementerian Pertanian.

PERAYAAN Kemerdekaan RI ke 77 tahun 2022 memiliki kesan yang jauh berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Euforia rakyat Indonesia bak tak sekedar merayakan hajatan tahunan untuk meluapkan segala energi kegembiraan dan semangat kecintaan pada tanah air. Tapi turut dibalut kebanggaan yang begitu menggelora karena Dirgahayu ke 77 dianugerahkan kado istimewa dari Lembaga dunia. Indonesia sukses meraih dan mengulangi kejayaan swasembada beras dan mendapat penghargaan dari dunia internasional yang terakhir didapat 37 tahun lalu, 1984.

Tepat di tanggal 14 Agustus 2022 bertempat di Istana Negara, Jakarta, Pemerintah Indonesia menerima penghargaan dari Institut Penelitian Padi Internasional (IRRI) karena telah memiliki sistem ketahanan pangan yang baik dan berhasil swasembada beras pada periode 2019-2021. Penghargaan yang bertajuk “Acknowledgment for Achieving Agri-food System Resiliency and Rice Self-Sufficiency during 2019-2021 through the Application of Rice Innovation Technology” atau “Penghargaan Sistem Pertanian-Pangan Tangguh dan Swasembada Beras Tahun 2019-2021 melalui Penggunaan Teknologi Inovasi Padi” ini diserahkan langsung Direktur Jenderal IRRI Jean Balie kepada Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) yang didampingi Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo.

IRRI memberikan penghargaan atas keberhasilan Indonesia mewujudkan sistem pertanian-pangan tangguh dan swasembada beras tahun 2019-2021 bahkan hingga saat ini. Artinya apa? penghargaan ini bukan sekedar Indonesia berhasil mewujudkan swasembada beras, namun lebih hebatnya lagi bahwa Indonesia di era Presiden Jokowi dan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo berhasil membangun sistem pertanian yang tangguh.

Berangkat dari ini, penghargaan yang sangat berharga ini tentunya berkat keberhasilan sektor pertanian yang luar biasa, disaat pertanian negara-negara maju mengalami kontraksi produksi tapi justru pertanian Indonesia mampu bangkit dan melangkah maju melawan tantangan dunia. Indonesia dinilai telah memiliki tingkat swasembada beras yang cukup tinggi yang menarik dan perlu diakui. 

Berdasarkan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), Indonesia mencapai 90% lebih rasio swasembada atau rasio antara produksi dalam negeri dengan total permintaan. Ini adalah pencapaian yang sangat besar karena menunjukan juga ketahanan sistem pertanian pangan yang tinggi.

Melansir data hasil Survei Cadangan Beras Nasional Tahun 2022 (SCBN22) yang rilis pada 8 Agustus 2022 mencatat pada periode 2019 sampai 2022, surplus rata-rata beras per tahun 29,5 juta ton dengan rata-rata konsumsi beras per tahun 27,13 juta ton. Secara kumulatif, surplus beras 2019 hingga 2022 sebesar 9,48 juta Ton. 

Produksi beras nasional pada tahun 2019 mencapai 31,31 juta ton, meningkat di tahun 2020 menjadi 31,36 juta ton dan di tahun 2021 sebesar 31,33 juta ton. Stok beras nasional periode 31 Maret 2022 mencapai 9,11 juta ton beras. Pada 30 April 2022 (menjelang lebaran), stok beras nasional meningkat menjadi 10,15 juta ton beras

Surplus beras ini terwujud akibat peningkatan produktivitas padi dari 5,11 ton/hektare (ha) pada 2019 menjadi 5,23 ton/ha pada 2021. Jika dirata-ratakan, jumlah produksi padi per tahun pada 2019 hingga 2021 sebesar 54,56 juta ton gabah kering giling (GKG).

Tak heran, Indonesia mampu mempertahankan bahan pangan selama pandemi Covid 19 dan diganjar penghargaan. Keberhasilan ini layak mendapat perhatian dunia karena di saat menghadapi pandemi corona, banyak negara yang kondisi pangannya. Terutama di saat meningkatnya ketegangan geopolitik, perang Rusia-Ukraina.

Penghargaan ini pun sebagai bukti secara eksplisit bahwa lembaga dunia mengakui Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian berhasil membangun pertanian yang maju, mandiri modern. Sektor pertanian Indonesia telah menerapkan atau mengadopsi teknologi yang tinggi, melakukan pelatihan petani dan kinerja penyuluhan yang sangat baik berbasis teknologi modern dan kerja sama yang sangat baik antar instansi dan khususnya dengan IRRI.

Penghargaan ini juga mengungkapkan bahwa pembangunan bendungan sebagai infrastruktur penunjang yang menjadi program unggulan Presiden Jokowi membuahkan hasil nyata untuk kemajuan sektor pertanian. Pembangunan sistem pertanian yang tangguh tidak hanya menyediakan teknologi mekanisasi, perbenihan dan pemupukan. Sejak 2015, Pemerintah membangun 29 bendungan dan 32 bendungan dalam pengerjaan. Dari total  61 bendungan itu, 52 bendungan memiliki  kapasitas tampung 3.734,09 juta m3 dengan potensi pemanfaatan untuk layanan irigasi tersebar di 71 daerah irigasi.

Harapan Ke Depan

Ada pendapat yang mengatakan bahwa mempertahankan lebih sulit daripada mendapatkan. Ini berlaku pula pada kondisi sistem pangan-pertanian dan swasembada beras ke depannya. 

Tantangan yang dihadapi sektor pertanian ke depannya sangat berat. Dunia dihadapkan perubahan iklim ekstrim sehingga diprediksi akan terjadi krisis pangan dan energi dunia. Indonesia pun diprediksi menjadi salah satu negara yang mengalami dampaknya.

Selain itu, perang Ukraina-Rusia pun masih berstatus tegang, sehingga menyebabkan harga pangan naik dan kelangkaan pupuk. Pemerintah pun dengan cermat mengeluarkan Permentan No 10 Tahun 2022 tentang tata cara penetapan alokasi dan harga eceran tertinggi pupuk bersubsidi sektor pertanian untuk menjaga ketersediaan, keterjangkauan pupuk dan optimalisasi penyaluran pupuk bersubsidi terutama untuk petani. 

Tata kelola penyediaan pupuk ini menjadi agenda penting karena usaha meningkatakan produksi pangan khususnya padi bagi masyarakat Indonesia hingga saat ini masih bersandar pada penggunaan pupuk kimia. Karena itu, penulis menilai langkah cepat Kementerian Pertanian mengeluarkan Permentan No 10 Tahun 2022 sangat tepat, sehingga alokasi pupuk bersubsidi benar-benar tepat waktu dan sasaran. Sebab, jika terjadi penurunan produksi, tentu terjadi defisit stok beras nasional.

Di sisi lain, hadirnya tantangan global yakni perubahan iklim ekstrim dan ketegangan Rusia-Ukraina harus dijadikan peluang untuk membangun pertanian berbasis teknologi ramah lingkungan. Selain benih unggul, inovasi pupuk alternatif yakni organik harus masif diimplementasikan agar petani berdaulat dan tak bergantung pupuk subsidi (kimia). 

Pertanian Indonesia hingga saat ini sudah berhasil menerapkan mekanisasi pertanian modern. Kalau begitu, saatnya untuk membangun pertanian berkelanjutan. Sebab untuk mempertahankan dan meningkatkan sistem pangan - pertanian yang tangguh dan swasembada beras ke depaanya harus dengan penerapan mekanisasi dan penerapan teknologi pertanian berkelanjutan.

Oleh karena, saatnya pemerintah dan perguruan tinggi dan juga lembaga riset lainnya untuk berinovasi membuat pupuk organik yang dapat meningkatkan produktivitas. Ini memang tidak mudah, tapi juga tidak mustahil. Apabila dapat dilakukan dengan berhasil, Indonesia ke depannya optimis dapat menjadi raksasa panga dunia. Semoga. (RO/OL-09)

BERITA TERKAIT