07 August 2022, 05:00 WIB

Rumah Sehat


Adiyanto Wartawan Media Indonesia | Opini

MI/Ebet
 MI/Ebet
Adiyanto Wartawan Media Indonesia

DERU ambulans memasuki pelataran rumah sakit yang putih berkilau. Di dalam ambulans tersebut, tergolek sosok tubuh gemuk bergelimang perhiasan. Nyonya kaya pingsan mendengar kabar putranya kecelakaan. Paramedis berdatangan kerja cepat lalu langsung membawa korban menuju ruang periksa. Tanpa basa-basi, ini mungkin sudah terbiasa.

Tak lama berselang, sopir helicak datang masuk membawa korban yang berkain sarung. Seluruh badannya melepuh akibat pangkalan bensin ecerannya meledak. Suster cantik datang menanyakan data si korban yang dijawab dengan jerit kesakitan. Suster menyarankan bayar ongkos pengobatan. Namun, sayang, si pasien tak bawa uang. Suster cantik ngotot lalu melotot. Dan berkata silakan Bapak tunggu di muka. “Hai modar aku,” jerit si pasien merasa kesakitan.

Paragraf di atas ialah lirik lagu Ambulans Zig Zag yang ditulis dan dilantunkan Iwan Fals. Lagu itu merupakan kritik sosial di era 80-an tentang kondisi pelayanan rumah sakit di Indonesia. Kondisi sekarang mungkin sudah jauh lebih baik. Namun, secara umum, pandangan atau kesan masyarakat, terutama dari kalangan miskin, terhadap rumah sakit masih sama: mahal. Itu mengapa masih banyak perusahaan farmasi yang menjual produknya di warung-warung. Selama masih bisa sembuh dengan obat warung, ngapain ke rumah sakit. Kecuali mungkin kalau gratis, tapi itu jelas tidak mungkin. Kas negara belum sanggup.

Oleh karena itu, sistem subsidi lewat BPJS ataupun kartu Indonesia sehat yang dibuat pemerintah ialah langkah tepat. Meski masih ada kekurangan di sana-sini, kebijakan itu bertujuan baik agar seluruh warga, terutama masyarakat yang tidak mampu, mendapat akses layanan kesehatan. Apalagi Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, antara lain menyebutkan kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.

Siapa pun, termasuk mereka yang memiliki kartu asuransi kesehatan berpuluh-puluh lembar, tentu tidak mau sakit. Namun, sialnya kita hidup berdampingan dengan kuman, virus, dan bakteri. Bahkan, mahkluk-makhluk mungil itu sudah ada dalam tubuh sejak kita lahir. Makanya, penting bagi tiap individu menjaga keseimbangan agar makhluk-makhluk tersebut tidak menimbulkan penyakit. Cara sederhananya ialah dengan menjaga kebersihan dan kesehatan. Itu prinsip dasar yang sayangnya kerap diabaikan. Pola pikir atau pemahaman seperti ini yang semestinya harus terus ditanamkan jika ingin mewujudkan masyarakat yang sehat.

Makanya, saya pribadi setuju dengan upaya Gubernur DKI Anies Baswedan yang berencana mengubah nama sejumlah rumah sakit umum daerah (RSUD) menjadi rumah sehat untuk Jakarta. Upaya tersebut dimaksudkan untuk mengubah pola pikir warga tentang rumah sakit sehingga diharapkan mereka tidak hanya mendatangi rumah sakit dalam keadaan sakit, tetapi juga ketika dalam kondisi sehat. Saya rasa itu bagian dari tindakan preventif, sebagai bagian dari ikhtiar menjaga kesehatan.  Ide yang cerdas.

Namun, masalahnya, di benak masyarakat, institusi rumah sakit selama ini telanjur terkesan menakutkan. Suster-suster yang judes. Layanan yang bersifat diskriminatif antara pasien BPJS dan non-BPJS, misalnya, masih sering kita temukan. Belum lagi ongkosnya yang relatif mahal, termasuk harga obat yang terasa mencekik, terutama bagi mereka yang berkocek tipis. Alangkah eloknya jika hal-hal itu nantinya juga turut dibenahi, bukan sekadar mengganti nama atau istilah. 

Seperti halnya sekolah atau kampus, rumah sakit sejatinya merupakan institusi layanan jasa, bukan lembaga komersial yang hanya melulu memikirkan laba. Pola pemahaman itu yang semestinya juga harus kembali dibenahi dan diingatkan, terutama bagi mereka yang berkecimpung di dalamnya. Salam sehat.

BERITA TERKAIT