01 July 2022, 05:00 WIB

Kompleksitas Ekonomi dan PT Berkelas Dunia


Badri Munir Sukoco Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga | Opini

MI/Seno
 MI/Seno
 

INDONESIA perlu berbangga karena dalam tujuh tahun terakhir perguruan tingginya senantiasa meningkat reputasinya pada Quacquarelli Symonds World University Ranking (QS-WUR). Bila pada 2015 hanya terdapat dua perguruan tinggi (PT) yang masuk top 500 dunia, tahun ini terdapat 5 PT. Bahkan, 3 di antaranya masuk top 250, yakni UGM, ITB, dan UI. Tidak hanya membanggakan mahasiswa, alumni, staf pengajar, pengelola, bahkan pemimpin daerah maupun negara juga demikian.

Selain mempersiapkan SDM bangsa untuk pembangunan, kontribusi riil secara ekonomi menjadi alasannya. Misalnya, pendidikan tinggi menjadi kontributor terbesar bagi ekspor jasa Australia. Abad 20 menjadi saksi kedigdayaan Amerika Serikat (AS) dan Eropa Barat dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan ekonominya. Semuanya didukung PT berkelas dunia. Hal yang sama kita lihat pada Korea Selatan dan Tiongkok dalam dua dekade terakhir.

Konsisten dengan pendapat Keun Lee (2019) bahwa negara berpendapatan menengah akan menjadi negara maju bilamana pendidikan tingginya berkualitas. SDM yang terdidik di dalamnya meningkatkan kapabilitas inovasi bangsa sehingga produk yang dihasilkan berdaya saing dan bernilai tambah tinggi. Hasilnya, negara menjadi maju dengan GDP per kapita yang tinggi. Bagaimana dengan Indonesia?

 

Kapabilitas inovasi Indonesia

Global Innovation Index (GII) 2021, yang dikeluarkan World Intellectual Property Organization (WIPO), secara prinsip sejalan dengan pendapat di atas. Pada sisi input, salah satu kriterianya ialah SDM dan riset. Adapun pada sisi ouput, kriteria pengetahuan dan teknologi serta output kreatif yang dihasilkan dan siap dikomersialkan.

Data GII 2021 menunjukkan posisi Indonesia masih memprihatinkan (#87 dunia) yang mana kriteria SDM dan riset masih perlu ditingkatkan (#91), khususnya terkait subkriteria pada pendidikan tinggi (#93). Bagaimana dengan output? Kondisinya relatif sama. Kriteria pengetahuan dan teknologi (#74) dan output kreatif yang dihasilkan serta siap dikomersialkan (#91).

Kondisi inilah yang menjadikan Indonesia dalam Economic Complexity Index (ECI) yang dikeluarkan Growth Lab dari Harvard tidak pernah beranjak dari posisi 60-an dalam 20 tahun terakhir. Sebagaimana argumentasi Ricardo Hausmann (ekonom Harvard), kompleksitas ekonomi sebuah negara menentukan prospek pertumbuhan ekonomi yang dimiliki.

Ketika sebuah negara memiliki ekspor dengan kompleksitas produk yang tinggi, pengetahuan dan kapabilitas yang dimilikinya luas dan kompleks. Hal itulah yang menjadikan pertumbuhan ekonominya lebih cepat karena nilai tambah yang dihasilkan lebih tinggi. Minimnya kapabilitas inovasi menjadikan kompleksitas ekonomi dan nilai tambah yang dimiliki Indonesia rendah. Kondisi tersebut meningkatkan risiko Indonesia masuk dalam middle-income trap.

 

Belajar dari Tiongkok

Data menarik ditunjukkan Tiongkok. Pada 2010, masih menempati #43 dan 2021 meningkat #12 dalam GII 2021. Untuk indikator SDM dan riset, Tiongkok menempati #21 (meningkat dari #56 pada 2010). Hal itu tidaklah mengherankan karena komitmen dari pemerintah Tiongkok dalam meningkatkan kualitas perguruan tingginya. Dimulai 1995 melalui Project 211 (abad 21 terdapat 100 perguruan tinggi Tiongkok masuk WUR). Program itu lebih awal delapan tahun sebelum Shanghai Jiaotong University mengeluarkan Academic Ranking World Universities, ranking global universitas pertama di dunia sebelum diikuti lembaga ranking lainnya.

Diteruskan program C9 League (aliansi 9 perguruan tinggi top di Tiongkok) pada 2009 dan yang terbaru Double First-Class University Project pada 2015. Tujuannya hanya satu, meningkatkan kualitas dan reputasi perguruan tingginya. Hasilnya, tahun ini terdapat 5 PT pada top 50 dan 28 PT pada top 500 QS WUR. Tidaklah mengherankan jika talenta terbaik dunia hadir dan meningkatkan kapabilitas inovasi mereka secara keseluruhan.

Dukungan lain berupa dana riset yang menitikberatkan pada 10 sektor strategis dalam Made in Tiongkok 2025. Misalnya, investasi besar pada riset terkait sustainable development untuk merespons tekanan Barat. Database Scival menunjukkan 57,27% publikasi ilmiah tentang secondary and electric batteries di dunia dihasilkan oleh ilmuwan Tiongkok dalam lima tahun terakhir. Atau, publikasi ilmiah terkait solar cells dikontribusikan sebesar 43,86%, empat setengah kali lebih besar jika dibandingkan dengan hasil riset dari AS. Tiongkok mampu mengonversikan publikasi ilmiahnya 11 kali lebih baik menjadi paten ketimbang Indonesia. Dapat dipastikan cepat atau lambat produsen Tiongkok akan menjadi pemain paling dominan dalam kendaraan listrik atau panel surya.

Hasilnya, laporan McKinsey (2019) menunjukkan marketshare mobil listrik Tiongkok. Meskipun hanya memiliki pangsa pasar 5% di seluruh dunia, 60%-75% supplier utama mobil listrik dunia berasal dari Tiongkok. Begitu juga dengan panel surya, separuh pasar dunia telah dikuasai dengan 70%-85% supplier utama dunia merupakan produsen Tiongkok.

SDM berpendidikan tinggi dengan kapabilitas inovasi yang meningkat memampukan Tiongkok meningkatkan kompleksitas ekonominya dari posisi #39 (2000) menjadi #16 pada 2019. Data Bank Dunia menunjukkan Tiongkok pertama kali memiliki GDP per kapita >US$1,000 pada 2001. Adapun Indonesia pada 2003. Pada 2020 menunjukkan perbedaan yang signifikan antara Tiongkok (US$10,435) dan Indonesia (US$3,870). Kompleksitas ekonomi dengan produk bernilai tambah tinggi yang menjadi perbedaannya.

 

Rekomendasi 

Indonesia perlu lebih serius dalam berinvestasi pada pendidikan tinggi untuk menjadi negara maju pada 2045. Keberhasilan Tiongkok dalam meningkatkan reputasi PT yang dimiliki telah dimulai sejak 1995. Indonesia perlu menyiapkan roadmap jangka panjang agar PT terbaiknya berkelas dunia. Memiliki PT berkelas dunia memampukan transfer teknologi dan menghadirkan talenta global dalam meningkatkan kapabilitas inovasi bangsa. Selamat kepada perguruan tinggi Indonesia atas peningkatan peringkat global dalam 7 tahun terakhir. Berkaca pada Tiongkok, peningkatan peringkat tersebut perlu berdampak nyata. Dampak terhadap peningkatan kapabilitas inovasi dan kompleksitas ekonomi bangsa menuju Indonesia Maju 2045.

BERITA TERKAIT