05 June 2022, 05:00 WIB

Budaya Bersepeda


Adiyanto Wartawan Media Indonesia | Opini

MI/Ebet
 MI/Ebet
Adiyanto Wartawan Media Indonesia

DALAM beberapa tahun terakhir, terutama pada masa pandemi covid-19, masyarakat di kota besar di Indonesia gemar bersepeda. Kegiatan itu tentu bermanfaat. Selain baik untuk kesehatan, sepeda berguna sebagai sarana transportasi untuk menghindari kerumunan. Namun, kegiatan itu masih sebatas sebagai sarana olahraga dan rekreasi, belum menjadi gaya hidup sehari-hari. Padahal, alat transportasi beroda dua itu dapat dijadikan ‘kendaraan politik’ untuk mengatasi kerusakan lingkungan.

Saking pentingnya, sejak empat tahun silam, PBB bahkan menetapkan 3 Juni sebagai Hari Bersepeda (World Bicycle Day). Hal tersebut didasari manfaat kendaraan roda dua itu bagi kehidupan manusia di planet ini. Selain sudah digunakan berabad-abad, sepeda merupakan sarana transportasi berkelanjutan yang sederhana, sehat, terjangkau, andal, bersih, dan ramah lingkungan. Tema World Bicycle Day tahun ini ialah merayakan keaslian, keragaman, dan daya tahan sepeda yang telah digunakan selama lebih dari 200 tahun.

Melalui momen tersebut, lembaga itu berharap sepeda dapat digunakan sebagai sarana transportasi utama sehari-hari masyarakat di dunia. Seruan itu mungkin terdengar utopis. Apalagi, belum semua negara punya kebijakan untuk membangun kota yang ramah bagi pesepeda. Namun, itu bukan alasan jika kita memang betul-betul serius ingin berkontribusi membenahi kondisi lingkungan yang semakin tidak karuan. Lagi pula, polusi asap dan bising knalpot kendaraan bermotor, enggak perlu pilih-pilih untuk memasuki paru-paru dan gendang telinga manusia. Kita semua, miskin ataupun kaya, ikut merasakan dampaknya.

Untuk mengatasi itu semua, mungkin kita harus mulai membiasakan diri berjalan kaki atau menggunakan sepeda untuk mobilitas jarak dekat. Jika di akhir pekan suka touring bersepeda keliling atau bahkan ke luar kota, seharusnya kalau cuma ke Indomart/Alfamart atau ke sekolah/kampus yang jaraknya hanya beberapa meter dari rumah, tidak usah lagi naik motor atau pesan ojek online. Selain sehat, dengan berjalan kaki atau bersepeda, kita setidaknya telah ikut berkontribusi sekian persen untuk mengurangi polusi dan menekan penghamburan energi sia-sia.

Dalam bukunya, Small Is Beautiful (diterbitkan pertama kali pada 1963 dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh LP3ES pada awal 80-an), ekonom kelahiran Jerman EF Schumacher sebenarnya telah mewanti-wanti bahwa penggunaan sumber daya energi, terutama yang tidak terbarukan, telah digunakan sedemikian rupa sehingga ancaman kerusakan lingkungan membayang di depan mata. Pada era itu (1960-an), perhatian para aktivis lingkungan memang mulai bergeser dari yang sebelumnya fokus pada perlindungan situs dan spesies tertentu ke kritik yang lebih eksplisit terhadap praktik-praktik yang merusak alam, seperti penggunaan mobil dan jenis kendaraan bermotor lainnya.

Seruan penggunaan sepeda atau berjalan kaki lantas menjadi salah satu kendaraan politik perjuangan para aktivis untuk melawan para perusak lingkungan. Di negara-negara Barat, terutama di beberapa negara Eropa, hal itu berhasil menekan pemerintah sehingga mengakomodasi pembangunan kota yang lebih ramah, baik untuk pesepeda maupun pejalan kaki. Kesadaran itu pun tertanam di benak mayoritas warga sehingga bersepeda ataupun berjalan kaki menjadi laku hidup sehari-hari mereka.

Pergeseran dan kesadaran sosial semacam itu yang seharusnya kita tiru. Jangan sekadar latah ikut tren dan teperdaya gaya hidup konsumtif. Beli sepeda seharga puluhan juta, tapi hanya digunakan untuk rekreasi di akhir pekan. Selain demi kesehatan, bersepeda harus jadi kultur dan alat perlawanan untuk mengatasi degradasi lingkungan.

BERITA TERKAIT