01 June 2022, 20:20 WIB

Soekarno, Pancasila, dan Ende


Andi Muh Darlis, Kolonel Sus, widyaiswara Pusdiklat Bela Negara Kemhan RI | Opini

Dok pribadi
 Dok pribadi
Andi Muh Darlis

PERTEMUAN politik revolusioner Soekarno di rumah kolega seperjuangan Muhammad Husni Thamrin di Jakarta, berbuah ditangkapnya Soekarno oleh seorang komisaris polisi Belanda. Sikap radikal Soekarno terhadap pemerintah kolonial membuatnya diganjar hukuman delapan bulan penjara tanpa proses pengadilan. Kuatnya pengaruh dan kharisma Soekarno membuat Gubernur Jenderal Hindia Belanda De Jonge mengeluarkan perintah untuk mengasingkannya. 

Pada 28 Desember 1933 kapal KM van Riebeeck bertolak dari Surabaya, Jawa Timur mengangkut rombongan Soekarno bersama sang istri Inggit Garnasih, ibu Amsi (mertua), dan dua anak angkatnya (Kartika dan Juami). (Safrudin, kompas.com, Rabu 18/8/2021). Titah Gubernur Jenderal Pemerintah Kolonial Hindia Belanda adalah perintah pengasingan Soekarno ke Ende, Nusa Tenggara Timur. Perintah pengasingan ke Ende didasari pertimbangan kuatnya pengaruh politik Soekarno, sehingga perlu diisolasi secara politik dan sosial. 

Bagi pemerintah kolonial Belanda, Soekarno sangat berbahaya karena kegiatan politiknya dan menjadi tokoh sentral yang secara terus menerus memperjuangkan kemerdekaan daerah jajahan Belanda. Pemerintah Belanda mengasingkan Soekarno di Ende agar tidak memiliki ruang gerak politik dan sosial serta berupaya memutuskan etos perlawanan dia. Selain itu untuk menghentikan aktivitas memprovokasi masyarakat meraih kemerdekaan dari jajahan Belanda. Pada 14 Januari 1934 Soekarno bersama rombongan keluarga tiba di pelabuhan Ende, pulau seribu nyiur sebuah pulau indah di Flores, Nusa Tenggara Timur.

Ende dan dimensi perenungan Pancasila

Pulau Ende menyimpan sejarah dan kenangan pemikiran kontemplatif Soekarno menggagas dasar negara Pancasila. Pengasingan di Ende tidak menjadikan Soekarno kehilangan gagasan untuk melanjutkan perjuangan dengan cara lain. Ende menyiapkan energi baru bagi Soekarno menyusun gagasan bagi fondasi kenegaraan, sebuah produk intelektual yang murni digali dari bumi kandung Pancasila, Ende. Pancasila adalah hasil kontemplasi mendalam bagi Soekarno setelah banyak melihat fenomena alam, manusia, masyarakat, spiritualitas di Ende. 

Panorama laut Ende, pohon sukun bercabang lima, arah matahari, manusia Ende yang agamis, dinamika hubungan sosial masyarakat Ende yang solider dengan spiritualitas tinggi, serta aktivitas semedi menjadi stimulan kontemplasi Soekarno. Semua itu menjadi inspirasi yang membangkitkan semangat berpikir radikal Soekarno untuk menyusun pokok-pokok pikiran berupa sila-sila Pancasila. Pengasingan di Ende semakin menguatkan 'libido' intelektual Soekarno yang mampu merumuskan butir-butir awal Pancasila yang dikemudian hari menjadi dasar negara Indonesia. 

Dalam pengasingannya, Soekarno menemukan banyak ilham setelah berada dan dekat dengan masyarakat Ende yang plural. Hubungan intensif yang dibangun Soekarno bersama tokoh-tokoh di Ende seperti seperti Hj Hasan Aroebusman, Hj Abdul Gani, dan para pastor melalui diskusi semakin mempererat hubungan mereka. Bahkan Soekarno sering meminjam buku-buku dari perpustakaan pastoral. Hal itu menjadi cara Soekarno membangun hubungan emosional dengan pihak yang berbeda. Sementara untuk kegiatan korespondensi dengan rekan seperjuangan yang ditinggalkan di pulau Jawa, Soekarno berkirim surat secara rahasia melalui kurir pedagang kopra.   

Aktivitas lain Soekarno selain berdiskusi adalah membaca, bermain biola, bercocok tanam, dan rekreasi yang menjadi bagian penting aktivitasnya di pengasingan. Selain itu Soekarno mulai belajar soal agama Islam dan pluralitas. Interaksi yang intens dengan masyarakat dan tokoh-tokoh agama menjadi bahan penting dalam perenungannya di Ende. Filsafat alam, filsafat manusia, filsafat sosial, dan filsafat ketuhanan merupakan paduan irisan-irisan filsafat yang ikut membentuk sila-sila Pancasila. Keseharian masyarakat Ende yang sangat harmonis dalam berketuhanan dan bermasyarakat, menjadi pemantik bagi Sukarno untuk mengonstruksi ide tentang Pancasila yang menaungi semua elemen bangsa tanpa terkecuali. 

Karya agung 

Saripati Pancasila dari hasil perenungan kontemplatif Soekarno tidak hanya presisi bagi kepentingan kebangsaan tetapi juga bersifat impresi. Dalam konteks itu maka Pancasila mengandung dua aspek penting yaitu aspek fundamental dan aspek operasional. Aspek fundamental mengandung dua dimensi yaitu dimensi keyakinan dan pengetahuan. Sementara dari aspek operasional menjadi pemandu tindakan/laku/etik. 

Pancasila sebagai ideologi negara mengandung keyakinan, pengetahuan, dan tindakan. Pertama, mengandung seperangkat keyakinan yang berisi tuntutan normatif preskriptif yang menjadi pedoman hidup. Kedua Pancasila mengandung paradigma pengetahuan berisi seperangkat prinsip, doktrin, dan teori yang menyediakan kerangka dalam memahami realitas. Ketiga, Pancasila mengandung dimensi tindakan yang merupakan level operasional dari keyakinan dan pengetahuan dalam realitas konkret. 

Dengan demikian sebagai ideologi, Pancasila tidak hanya berada dalam fikiran namun yang terpenting adalah pada aspek praksis yang akhir-akhir ini memudar dalam kehidupan kita. Ide dan gagasan awal butir-butir ideologi yang dirumuskan Soekarno terkait dasar negara Indonesia kelak, yang kemudian dinamai Pancasila. Pada saat itu Bung Karno menyebutkan lima dasar untuk negara Indonesia, yakni sila pertama 'Kebangsaan', sila kedua 'Internasionalisme atau Perikemanusiaan', sila ketiga 'Demokrasi', sila keempat 'Keadilan Sosial', dan sila kelima 'Ketuhanan yang Maha Esa'.  

Ende memberikan sarana spiritualitas yang telah melahirkan konsep ideologi yang tepat bagi bangsa Indonesia. Rumusan prinsip dasar Pancasila yang menjadi falsafah hidup penduduk Indonesia juga terinspirasi dari rukun Islam, jari manusia, panca indra, dan tokoh pewayangan Pandawa serta realitas kebangsaan yang plural. 

Konsep Pancasila kemudian lebih disempurnakan setelah pembentukan Panitia Sembilan yang terdiri dari Soekarno, Mohammad Hatta, Abikoesno Tjokroseojoso, Mohamad Yamin, Agus Salim, Wahid Hasjim, Abdul Kahar Muzakir, Achmad Soebardjo, dan Mr AA Maramis. Setelah melalui beberapa proses persidangan, rumusan Pancasila akhirnya dapat disahkan pada Sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945. Pada sidang tersebut, Pancasila resmi tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai dasar negara Indonesia yang sah hingga kini.

Pancasila warisan etik

Dalam konteks bernegara, Pancasila adalah grundnorm (norma dasar) atau staat fundamental norm (norma fundamental negara) yang menjadi pedoman seluruh ketentuan bernegara. Selain menjadi pedoman bernegara juga menjadi kompas etik dan moral bagi seluruh perilaku warga negara Indonesia. Jika ditilik secara saksama sila-sila Pancasila, akan ditemukan hubungan satu sama lain. Sila pertama Ketuhanan yang Maha Esa menegaskan bahwa manusia Indonesia meyakini adanya Tuhan Yang Maha Esa melalui agama masing-masing. Keyakinan ketuhanan tersebut akan memunculkan rasa kemanusiaan yang tinggi sebagai wujud persaudaraan atas perintah Tuhan. 

Sila persatuan meniscayakan adanya rasa kepercayaan, kebersamaan, dan saling melengkapi antarbangsa demi menjaga rasa persatuan dan kesatuan bangsa. Pada sila keempat bermakna mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat, tidak memaksakan kehendak kepada orang lain serta mengutamakan budaya bermusyawarah dalam mengambil keputusan bersama. 

Kemudian sila terakhir Pancasila adalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, merupakan muara dari kehendak bersama, yaitu suatu masyarakat atau sifat suatu masyarakat adil dan makmur, berbahagia buat semua orang, tidak ada penghinaan, tidak ada penindasan, tidak ada penghisapan [Soekarno, dalam seri Belajar Ringan Filsafat Pancasila ke-60 Bagian ke-1, oleh Kang Marbawi (Kasubdit Penyelenggaraan Pendidikan & Pelatihan Nonformal Informal BPIP]. 

Gagasan dan ide Pancasila yang berawal di Ende merupakan elan vital (daya pendorong) bagi bangsa Indonesia untuk merdeka lepas dari belenggu kolonialis, menjadi negara yang bebas untuk mengembangkan diri menghadapi tantangan yang semakin tidak ringan. Tahun ini peringatan Hari Pancasila diinstansi pemerintah pusat dan daerah serta kantor perwakilan RI di luar negeri ditiadakan, dan diganti dengan upacara terpusat di lapangan Pancasila Ende, Flores, NTT.

Hal itu menjadi sinyal bahwa kenangan historis ingin dibangkitkan kembali untuk memberi pelajaran bagi generasi muda akan sejarah Pancasila. Pancasila bukan untuk dihafalkan semata, diteriakkan diruang-ruang publik, didiskusikan, dan mengklaim diri pancasilais. Pancasila harus dihidupkan dalam sikap dan tindak tanduk keseharian.

BERITA TERKAIT