26 May 2022, 13:35 WIB

Hari Kemerdekaan Georgia


HE Mr Irakli Asashvili, Duta Besar Georgia | Opini

Dok pribadi
 Dok pribadi
HE Mr Irakli Asashvili, Duta Besar Georgia

PADA tanggal 26 Mei Georgia merayakan Hari Nasionalnya, yang menandai hari deklarasi kemerdekaan pada tahun 1918, dan pembentukan republik demokratis pertama. Ini adalah hari yang sangat istimewa dalam sejarah Georgia. Karena, bermakna sebagai sebuah momen penentu bagi status kenegaraan modern Georgia dalam sejarahnya selama tiga ribu tahun. Sayangnya, setelah 3 tahun merdeka, pada tahun 1921 Georgia dianeksasi oleh Tentara Merah Soviet selama 70 tahun lamanya, sampai Georgia kembali meraih kemerdekaannya di tahun 1991, dan memulai perjalanan baru transformasi demokrasi dan ekonomi.

Georgia, atau sebagaimana yang disebut dalam bahasa asli Georgia “Sakartvelo”, terletak di pantai timur Laut Hitam dan di sisi selatan puncak utama Pegunungan Kaukasus Besar menyatukan arsitektur abad pertengahan, budaya kuno dan pemandangan yang spektakuler. Georgia adalah negara dengan peradaban kuno. Wilayahnya dihuni 1,7-1,8 juta tahun yang lalu. Georgia memiliki alfabet dan bahasa tersendiri yang unik, hanya digunakan di negaranya. Georgia dikenal sebagai wilayah anggur tertua di dunia. Georgia adalah salah satu negara di "Jalur Sutra" (Silk Road), jalur perdagangan terkenal, yang menghubungkan India dan pertengahan Asia dengan Eropa, melintasi wilayah Georgia.

Reformasi yang efektif dalam kebijakan ekonomi dan pemerintahan, telah membuat Georgia mendapatkan reputasi sebagai reformis regional dan global teratas. Transformasi semacam itu, telah membentuk lingkungan bisnis yang liberal, stabil, aman dan bebas korupsi. Tujuan ambisius Georgia untuk menjadi salah satu lokasi investasi terbaik di peta dunia tecermin dengan baik dalam sejumlah peringkat internasional yang diakui dengan baik.

Yakni, Georgia menempati urutan ke-7 dalam laporan Doing Business 2020 oleh Bank Dunia (World Bank). Menurut Heritage Foundation, ekonomi Georgia adalah yang paling bebas ke-12 dalam "Indeks Kebebasan Ekonomi 2021".

Berdasarkan "Economic Freedom of the World 2021" oleh Institusi Frazer (Frazer Institute), posisi Georgia meningkat 3 langkah dan menempati peringkat ke-5 di antara 165 negara.

Berdasarkan "Corruption Perception Index 2020" oleh Transparansi Internasional (Transparency International), Georgia menempati peringkat ke-45 di antara 180 negara dengan skor 56.

Berdasarkan laporan Bank Dunia dan PWC, Georgia memiliki salah satu beban pajak terendah.

Menurut Fitch, Standard and Poor's and Moody's Georgia memiliki rekam jejak kerja sama dan dukungan kuat dari Lembaga-Lembaga Keuangan Internasional, yang mendukung kredibilitas kebijakan, momentum reformasi yang berkelanjutan dan mengurangi risiko pembiayaan.

Georgia secara geografis diposisikan secara strategis sebagai pintu gerbang antara Eropa dan Asia, yang menawarkan kemudahaan akses ke sebagian besar pasar utama Eropa, Asia Tengah dan Timur Tengah. Sebagai hasil dari upaya liberalisasi perdagangan yang ditargetkan, Georgia memiliki rezim perdagangan bebas dengan Uni Eropa (DCFTA), Inggris, Turki, Tiongkok (termasuk Hong Kong), Ukraina, Asosiasi Perdagangan Bebas (EFTA) dan negara-negara CIS, yang membuka akses bebas tarif bea cukai dan impor, ke pasar konsumen dengan sekitar 2,3 miliar penduduk. Georgia juga menikmati rezim GSP dengan Amerika Serikat, Kanada dan Jepang, yang mencakup tambahan 490 juta pasar konsumen.

Pada saat yang sama, Georgia adalah pusat transit regional. Menawarkan saluran distribusi yang signifikan melalui infrastruktur transportasi yang baru diperluas, tiga bandara internasional, dua pelabuhan dan dua terminal minyak di Laut Hitam, sebuah proyek masif pelabuhan laut dalam pengembangan (dengan kemampuan untuk melayani kapal ukuran Panamax), jalan raya yang ditingkatkan, dan jalur kereta api yang terhubung secara internasional.

Pada tanggal 4 Desember 2020, untuk pertama kalinya, jalur kereta api Baku-Tbilisi-Kars diluncurkan dalam mode gerak balik, ketika kereta bermuatan meningggalkan Istanbul menuju provinsi Zi’an, Tiongkok melalui koridor tengah (waktu transportasi 12 hari). Secara khusus, Georgia berpartisipasi dalam Rute Transportasi Internasional Trans-Kaspia (Koridor Tengah), yang bermula dari Asia Tenggara dan Tiongkok, melintasi Kazakhstan, Laut Kaspia, Azerbaijan, Georgia dan selanjutnya ke negara-negara Eropa.

Dengan latar belakang budaya yang kaya dan beragam, tidak mengherankan bahwa Georgia memiliki industri pariwisata yang sedang booming. Georgia memiliki lebih banyak hal untuk ditawarkan daripada negara lain seukurannya di dunia - pegunungan Kaukasus, garis pantai Laut Hitam, iklim dan perairan mineral yang kuratif, sejarah kuno, budaya dan tradisi yang beragam, masakan lezat, kaya akan budaya anggur dan yang terakhir namun tidak kalah pentingnya, keramahan orang Georgia yang terkenal di dunia.

Sejak dimulainya wabah pandemi covid-19 pada tahun 2019, Georgia menerima rekor jumlah, lebih dari 9 juta wisatawan. Terlepas dari dampak negatif covid-19 terhadap industri pariwisata negaranya, Georgia terus berinvestasi dalam infrastruktur pariwisata, termasuk diversifikasi produk-produk pariwisata. Georgia menantikan dimulainya kembali pariwisata internasional di tengah pandemi.

Salah satu tujuan utama kebijakan luar negeri Georgia adalah, integrasi penuh ke dalam struktur Eropa dan Euro-Atlantik. Perjanjian Asosiasi dengan Uni Eropa, termasuk area perdagangan bebas yang dalam dan komprehensif, dan perjanjian tentang perjalanan bebas visa, membuat Georgia lebih dekat dengan Uni Eropa.

Georgia selalu berkomitmen terhadap nilai-nilai fundamental, yang membentuk landasan Uni Eropa modern. Disebut Trio – Georgia, Moldova dan Ukraina – sejak lama telah membela pilihan Eropa mereka dengan mengorbankan risiko eksistensial. Dengan memberikan negara-negara Trio status pencalonan dan menerapkan sebuah metodologi yang direvisi, Uni Eropa akan mempertahankan pengaruh tunggal dalam memimpin fase pencapaian dengan pendekatan berbasis prestasi. Georgia juga membuat langkah-langkah penting menuju NATO untuk menjadi anggota penuh, yang kami lihat sebagai aspek dasar keamanan kami dan pembangunan ekonomi lebih lanjut.

Selain itu, Georgia sangat mementingkan peningkatan hubungan dengan Kawasan Asia Tenggara, yang saat ini merupakan salah satu tujuan utama kebijakan luar negeri Georgia. Kemitraan, dan persahabatan Georgia yang terus berkembang dengan Indonesia adalah ilustrasi sempurna dari tujuan ini.

Saya dengan senang hati menyorot hubungan Indonesia dan Georgia yang terjalin pada tahun 1993, tidak lama setelah Georgia mendapatkan kembali kemerdekaannya, dan sejak itu kedua negara telah menikmati persahabatan dan kemitraan yang berkelanjutan. Pembentukan Kedutaan Besar Georgia di Jakarta pada tahun 2012 memainkan peran signifikan dalam meningkatkan hubungan ini.

Sementara itu, misi Georgia ke Indonesia adalah perwakilan diplomatik pertama Georgia di kawasan ASEAN. Kemitraan antara Indonesia dan Georgia terus menjadi lebih kuat dan semakin kuat di berbagai arah, termasuk urusan politik, kerja sama di sektor publik dan pemerintahan, budaya dan hubungan people-to-people.

Saya sangat senang, bahwa semakin banyaknya wisatawan Indonesia dan pelancong bisnis tertarik untuk mengunjungi Georgia setiap tahun, dan saya berharap tren ini akan terus berlanjut, dan bahkan meningkat dalam waktu dekat. Georgia juga tertarik untuk memulai pembicaraan tentang perjanjian perdagangan preferensial dengan Indonesia, yang akan semakin meningkatkan hubungan ekonomi antara kedua negara.
Di tahun-tahun mendatang, kami mengharapkan untuk dapat menyaksikan banyaknya pencapaian baru, terutama di masa pasca-pandemi covid.

BERITA TERKAIT