24 May 2022, 17:45 WIB

Makna Kemarahan Jokowi dan Pentingnya Membangkitkan Industri Texmaco Group


H. Sakhyan Asmara, MSP, Dosen S2 & S3 FISIP USU, Ketua STIKP Medan | Opini

dok.pribadi
 dok.pribadi
H. Sakhyan Asmara, MSP, Dosen S2 & S3 FISIP USU, Ketua STIKP Medan

DALAM acara Aksi Afirmasi Buatan Dalam Negeri di Bali Jumat 25 Maret 2022 lalu, secara kasat mata Presiden Jokowi menunjukkan kemarahannya. Dalam pidato dengan bahasa tubuh dan mimik wajah yang tidak ramah, Jokowi mengeluarkan kata-kata yang cukup pedas, lugas,  menyentil beberapa Menteri dan Pimpinan Lembaga Tinggi Negara karena masih menggunakan barang-barang impor untuk memenuhi kebutuhan peralatan kantornya seperti  tempat tidur Rumah Sakit, alat-alat kesehatan, seragam, sepatu tentara dan polisi, CCTV, alat tulis kantor,  Traktor sampai kepada Laptop. Semua masih impor kata Jokowi, “padahal kita mampu memproduksi barang-barang tersebut” ujar Jokowi. Sangkin marahnya, Presiden sampai dua kali mengeluarkan kalimat melarang hadirin bertepuk tangan dan dua kali mengeluarkan kata-kata “bodoh kita”. Padahal yang hadir dalam acara itu adalah para petinggi negara, pimpinan Lembaga Tinggi Negara, para Kepala Daerah dan pejabat penting sipil, TNI maupun Polri.

Apabila ditinjau dari perspektif ilmu semiotika,  kemarahan Presiden Jokowi itu dapat dilihat dari dua makna yakni makna denotatif dan konotatif. Makna denotatif ialah arti harfiah suatu kata yang tersurat tanpa ada satu pemaknaan tersirat yang menyertainya, sedangkan makna konotatif adalah makna  kata yang mempunyai tautan pikiran, perasaan, dan lain-lain sehingga selain ungkapan kata-kata  tersurat yang dapat dilihat atau didengar, sesungguhnya ungkapan itu juga mengandung makna yang lebih luas yakni adanya makna tersirat yang menimbulkan nilai tertentu terhadap kata-kata yang diucapkan. Tulisan ini mencoba mengurai secara sederhana makna kemarahan Presiden dari kata-kata yang diucapkannya diikuti dengan bahasa tubuh dan mimik wajah Presiden ketika pidato pada acara Aksi Afirmasi Buatan Dalam Negeri di Bali. Selain itu, tulisan ini juga mengurai hubungan makna pidato Presiden dengan pentingnya  membangkitkan kembali industri Texmaco Group yang dikenal dapat memproduksi berbagai barang kebutuhan sehari-hari maupun barang kebutuhan usaha dan perkantoran.

Makna Denotatif Kemarahan Presiden

Makna denotatif ialah makna yang diperoleh secara harfiah dari suatu kata atau gerakan tubuh tanpa adanya penambahan persepsi atau penilaian terhadap makna yang tersurat dari ucapan dan gerakan.

Menyimak ucapan-uacapan dan gerakan tubuh Jokowi pada acara Aksi Afirmasi Buatan Dalam Negeri di Bali Jumat 25 Maret 2022 tersebut, yang dapat ditonton dan disimak dari pelbagai tayangan media online maupun youtube, tidak dapat dipungkiri bahwa Presiden Jokowi benar-benar marah kepada para pembantunya dan para pejabat yang hadir dalam acara tersebut. Terutama para pejabat yang instansinya masih menggunakan produk-produk impor dalam memenuhi pengadaan kebutuhan perkantorannya. Kemarahan itu dapat dilihat dengan uacapan “Bodoh sekali kita”, selain itu juga ucapan melarang para hadirin untuk bertepuk tangan. Kalimat-kalimat yang mengalir dari ucapan Presiden sungguh sangat mencekam, baik dari aspek kata-kata yang dikeluarkan, bahasa tubuh dan nada suara atau intonansi suaranya.

Kemarahan seorang Kepala Negara, apalagi dilakukan di hadapan publik, bukanlah kemarahan biasa atau basa-basi. Tetapi kemarahan yang benar-benar marah sehingga tidak memperdulikan ruang dan waktu, tidak peduli terhadap audiens yang hadir dalam acara tersebut, layaknya kemarahan orang tua terhadap anaknya yang telah melakukan kesalahan.

Oleh sebab itu, kemarahan Presiden harus disikapi dengan serius, bukan sekadar basa-basi, yang direspons dengan biasa-biasa saja, usai acara lalu bubar tanpa adanya tekad atau perencanaan yang tepat untuk menjawab kemarahan Presiden. Respons audiens menyikapi kemarahan Presiden, secara denotatif harus diterima dan harus memberikan efek sebagai umpan balik untuk menjawab kemarahan Presiden tersebut. Kemarahan Presiden dalam perspektif denotatif harus diikuti dengan memhami pemaknaan secara konotatif.

Makna Konotatif Kemarahan Presiden

Kemarahan Presiden Jokowi dalam acara Afirmasi Buatan Dalam Negeri tersebut, secara konotatif memberikan makna tersirat yang harus dipahami untuk ditindaklanjuti oleh para pejabat yang hadir dalam acara tersebut. Kata-kata,  ucapan, ungkapan dan gerak tubuh Presiden Jokowi mempunyai tautan pikiran, perasaan yang sangat tajam dan mendalam, memberikan arti yang sangat luas bagi para audiens yang mendengar atau menyaksikannya.

Dalam acara tersebut, setelah Presiden menguraikan angka-angka tentang besarnya anggaran Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan BUMN, lalu  Presiden mengeluarkan ungkapan “Ini duit gede banget… buesaar sekali…. Enggak pernah kita lihat dan kita…. Ini kalo digunakan… kita gak usah muluk muluk …. Dibelokkan 40 persen saja… 40 persen saja… itu bisa mentrigger growth economy kita, pertumbuhan ekonomi kita, yang Pemerintah dan Pemerintah Daerah bisa 1,71 persen, yang BUM 0,4 persen…….. 1,5 sampai 1,7,  BUMN nya 0,4. Nah inikan 2 persen lebih, gak usah cari kemana mana, tidak usah cari investor, kita diem saja tapi kita konsisten membeli barang yang di produksi oleh pabrik-pabrik kita, industri industri kita, UKM UKM kita”.

Makna yang tersirat dari ungkapan Presiden tersebut ialah manifestasi penyesalannya terhadap Lembaga-Lembaga Negara yang tidak  bijak dalam menggunakan anggaran yang begitu besar, malah justru digunakan untuk membeli barang-barang impor yang hanya dapat memberikan keuntungan bagi luar negeri, bukan dalam negeri. Uang itu mengalir keluar dan tidak memberikan manfaat bagi pertumbuhan eknomi dalam negeri. Coba anggaran itu digunakan di dalam negeri, dengan membeli produk-produk dalam negeri, tidak usah semua, melainkan hanya 40 % persen saja digunakan, maka hal itu telah mampu mentrigger pertumbuhan ekonomi Indonesia setidaknya sebesar 1,5 sampai 1,7 persen, bahkan bisa mencapai 2 persen. Ini adalah angka pertumbuhan eknomi yang luar biasa jika para pejabat paham dalam menggunakan anggarannya secara efektif membeli produk-produk dalam negeri. Dengan sendirinya, UKM-UKM kita akan hidup, pabrik-pabrik, industri dalam negeri akan berkembang karena produksinya di beli oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah dan BUMN untuk memenuhi kebutuhan perkantorannya.

Sangkin jengkelnya Presiden atas kebijakan para pejabat negara dalam menggunakan anggaran untuk memenuhi kebutuhan peralatan perkantorannya, Presiden melontarkan ungkapan dengan nada jengkel: “BODOH SEKALI kita kalau enggak melakukan ini. Malah beli barang-barang impor”. ……….“Mau kita terus-teruskan… Endak…  ndak bisa. Kalau kita beli barang impor, bayangkan Bapak Ibu semuanya,  kita memberi pekerjaan kepada negara lain. Duit kita berarti capital out low ..keluar.. pekerjaan ada disana… bukan disini”. Bahkan dalam pidatonya itu, Presiden sampai dua kali melarang para pejabat yang hadir bertepuk tangan.

Makna konotatif yang dapat kita petik dari ungkapan Presiden tersbut ialah, para pejabat harus mempunyai kecerdasan intelektual dalam menyusun perencanaan yang seharusnya memberikan dampak kepada pertumbuhan ekonomi dalam negeri dengan mengutamakan produksi dalam negeri dalam memenuhi kebutuhan peralatan perkantorannya. Jangan membeli barang-barang impor. Belilah barang  buatan dalam negeri. Jangan membeli barang impor karena hal itu justri memberikan capital out low, yakni pembelanjaan barang modal keluar, memberikan pekerjaan ke luar negeri, bukan ke dalam negeri.

Secara singkat dapat diartikan bahwa makna konotatif dari kemarahan Presiden ialah mendesak para pejabat negara untuk mengutamakan produksi dalam negeri guna memenuhi kebutuhan peralatan perkantorannya, menghidupkan industrI-industri dalam negeri, pabrik-pabrik dan UkM-UKM agar dapat tumbuh dan berkembang sehingga mampu memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri dan kebutuhan pengadaan alat-alat perkantoran  lembaga-lembaga pemerintahan tanpa harus membeli barang impor.

Larangan Presiden kepada para pejabat yang hadir untuk tidak bertepuk tangan, adalah sebuah ungkapan kemarahan serius. Hal ini sangat jarang dilakukan oleh seorang Kepala Negara kecuali memang betul-betul punya alasan kuat untuk marah dengan melarang orang bertepuk tangan. Larangan itu harusnya memberikan dampak rasa malu kepada para pejabat yang hadir sehingga tidak mengulangi perbuatannya membeli barang-barang impor. Artinya para pejabat harus mengutamakan barang buatan dalam negeri guna memenuhi kebutuhan peralatan perkantoran instansi masing-masing.

Membangkitkan Industri Texmaco Group

Mencermati makna kemarahan Presiden, secara substansial sesungguhnya Presiden berharap agar para pejabat Lembaga Tinggi Negara dapat bekerja mendorong tumbuhkembangnya industri dalam negeri. Pabrik-pabrik, industri-industri dan UKM-UKM dalam negeri harus didorong agar dapat berkembang dan menghasilkan berbagai produk yang dibutuhkan terutama untuk memenuhi kebutuhan peralatan perkantoran instansi dan Lembaga negara. Jangan justru menghambat pertumbuhan industri dalam negeri.

Sejalan dengan itu, salah satu perusahaan yang telah menunjukkan kualitas produk dalam negeri dan telah berpengalaman memproduksi berbagai kebutuhan konsumsi dalam negeri adalah perusahaan industri dibawah naungan Texmaco Group. Texmaco lahir dari tangan  Marimutu Sinivasan, kelahiran Medan, 17 Desember 1937. Bos Texmaco Group ini menempuh pendidikan dari Sekolah Dasar hingga Universitas di kota Medan, meski kuliahnya di Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) tidak selesai, karena terlanjur bekerja di perusahaan perkebunan namun visinya tentang masa depan serta instink bisnisnya sangat kuat. Sinivasan adalah tokoh pekerja keras sehingga memiliki aset yang sangat banyak dan industri besar didalam maupun di luar negeri.

Texmaco Group adalah singkatan dari Textile Manufacturing Company. Unit unit usaha yang didirikan Sinivasan antara lain pabrik pembuatan polekat yakni bahan baku untuk membuat sarung, kemudian perusahaan batik dan pabrik penyelupan, membeli pabrik batik di Batu Jawa Timur, membangun pabrik poliester di Semarang sampai akhirnya sekitar tahun 70-an. Selanjutnya Texmaco mengembangkan sayap bisnis dengan memasuki dunia industri otomotif memproduksi  kendaraan truk bernama Perkasa.  

Pada 1998, Texmaco sudah memiliki kawasan pabrik seluas 1.000 hektare di Subang, Jawa Barat, dilengkapi dengan Sekolah Politeknik Mesin. Selain itu di Karawang, Texmaco juga memiliki kompleks pabrik tekstil dengan luas kurang lebih 250 hektare. Di pabrik ini, Texmaco menghasilkan merek Simfoni dan Texana yang dikenal luas hingga banyak dipesan oleh perusahaan global seperti Mark & Spencer dan Tommy Hilfiger.  Dengan Hamparan unit usaha tersebut, Marimutu Sinivasan beberapa kali masuk ke dalam daftar orang terkaya di Indonesia dan pernah menjadi salah seorang penyumbang pajak terbesar di Indonesia.

Texmaco pernah menjadi perusahaan yang menyerap tenaga kerja lebih dari 35 ribu orang yang langsung mendapat manfaat dari Texmaco Group, dan tidak kurang dari 300 ribu orang yang mendapat manfaat tidak langsung dari industri Texmaco Group.  Itulah pentingnya membangkitkan Kembali industri Texmaco Group, terutama dalam rangka menjawab kegalauan Presiden yang ditunjukkan dalam pidatonya dihadapan para pejabat tinggi negara di Bali 25 Maret 2022 yang lalu.

Apabila Texmaco bangkit kembali dapat dipastikan akan  memberi dampak bagi penciptaan lapangan kerja mulai dari industri hulu sampai hilir, sebab Texmaco mampu memperoduksi barang kebutuhan sehari-hari dengan kualitas yang baik dan dengan harga yang murah. Texmaco dapat memproduksi tempat tidur untuk rumah tangga maupun Rumah Sakit, alat-alat kesehatan, seragam, sepatu tentara dan polisi, CCTV, alat tulis kantor,  Traktor, sampai kepada memproduksi peralatan hard ware dan soft ware seperti Laptop, kartu chip dan lain sebagainya.

Dengan hidupnya perusahaan Texmaco Group, akan dapat memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri terutama peralatan perkantoran Lembaga Pemerintah sebagaimana harapan Presiden Jokowi. Texmaco juga dapat mengekspor produksinya ke pasar dunia serta mendorong bangkitnya perusahaan manufaktur yang canggih yang produknya berkualitas tinggi dengan harga murah. Texmaco juga dapat menjadi mitra pemerintah untuk menyuplai komponen-komponen yang diperlukan dalam industri pertahanan dan keamanan Indonesia.

Melihat performance yang telah ditunjukkan Texmaco Group dalam sejarah perkembangannya yang luar biasa bahkan telah memberi peran membawa Indonesia pada dimensi step forward, bukan hanya dibidang tekstil, tetapi juga dibidang lain seperti otomotif, ekonomi, pendidikan, dan sebagainya, maka  selayaknya Pemerintah memberi peluang untuk duduk bersama dengan Texmaco Group guna mendapatkan solusi terbaik atas permasalahan yang dihadapi Texmaco Group saat ini.

Dengan demikian diharapkan Texmaco Group dapat bangkit kembali, menjadi perusahaan dalam negeri yang membanggakan, berkualitas tinggi dengan harga terjangkau, sehingga mampu menjawab kegalauan Presiden Jokowi untuk melakukan afirmasi terhadap buatan dalam negeri, tanpa mengesampingkan aturan dan regulasi yang berlaku sesuai dengan ketentuan yang ada, seperti kata kata bijak yang menyatakan “Buluh yang terkulai jangan dipatahkan, sumbu yang redup jangan dipadamkan, namun hukum harus terus tetap ditegakkan.

BERITA TERKAIT