21 May 2022, 05:00 WIB

Pengembangan Ekonomi Pesantren untuk Membangun Manusia Seutuhnya


Mohammad Nuryazidi PhD Student at University of Southampton, Wakil Katib Syuriah PCI NU United Kingdom | Opini

Dok. Pribado
 Dok. Pribado
    

PADA tahun 1999, pemenang Nobel Ekonomi Amrtya Sen menulis Development as Freedom. Sen menulis tentang pengembangan ekonomi yang tidak melulu fokus pada indikator ekonomi, tetapi juga lebih fokus pada pengembangan manusia seutuhnya. Tulisan Sen kemudian menjadi inspirasi bagi konsep indeks pengembangan manusia (IPM) yang disusun oleh Mahbub ul Haq. Konsep IPM tersebut lalu digunakan oleh United Nations Development Programme, lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa yang bergerak di bidang pengentasan kemiskinan dan pengembangan ekonomi.

Apa yang ditulis dan dipikirkan oleh Sen (1999) sejatinya sudah dilakukan dan diupayakan oleh pesantren ratusan tahun yang lalu di Indonesia. Sejarah mencatat, pesantren pertama didirikan oleh Sunan Ampel, Raden Rahmatullah, pada abad ke-13 (Zakaria, 2010). Pesantren adalah institusi yang khas Indonesia, yang tidak sama dengan boarding school yang secara umum dikenal oleh dunia, atau setidaknya yang tercatat dalam literatur ilmiah (Federspiel, 2021).

Pesantren lebih dari sekadar sekolah yang santrinya tinggal di asrama. Akar pesantren menghunjam jauh ke dalam relung bilik-bilik perdesaan di Indonesia. Studi klasik Wahid dan Raharjo (1988) mengonfirmasi bahwa salah satu kekhasan pesantren ialah keterikatan yang sedemikian kuat dengan komunitasnya.

 

Peran sosial dan politik pesantren

Kiai dan pesantren adalah bagian dari komunitas yang selalu ada pada setiap momen penting masyarakat, sejak lahir sampai meninggal. Di komunitas pesantren, khususnya di perdesaan, ketika seorang anak lahir akan dibawa ke kiai untuk dimintakan nama. Ketika anak sudah dewasa dan belum juga menikah, juga akan dibawa ke kiai untuk didoakan atau minta dicarikan jodoh.

Pada momen kematian seseorang, kiai memiliki peran sentral karena dialah yang menjadi koordinator pemandian, penguburan, hingga mendoakan mayit. Peran kiai dan pesantren menjadi penting di Indonesia juga dipengaruhi oleh tingginya keterikatan masyarakat terhadap agama Islam dalam kehidupan sehari-hari (Fealy and Hooker, 2006). Meski demikian, menarik juga untuk dicatat bahwa tidak semua muslim di Indonesia menjalankan syariat Islam secara sempurna seperti salat lima waktu atau berpuasa di bulan Ramadan.

Peran sentral kiai pesantren dalam kehidupan masyarakat menjadikannya sebagai representasi dari masyarakat dalam urusan sosial dan politik. Saat momen politik seperti pemilihan umum, pemilihan kepala daerah, sampai pemilihan kepala desa, kiai adalah rujukan utama masyarakat. Ada yang menanyakan langsung kepada kiai yang bersangkutan tentang pilihan politik sang kiai. Ada pula yang menggunakan metode konsultasi, dan ada juga yang mengamati dari jauh kemudian mengikutinya diam-diam. Karena kiai dianggap memiliki pengetahuan agama yang mendalam, mereka dianggap manusia bijak yang bisa menentukan pilihan dengan risiko minimal. Dalam derajat tertentu, beberapa kiai khusus bahkan dianggap seseorang yang bisa menerawang masa depan sehingga bisa memilih dengan lebih bijak.

 

Pengembangan sosial ekonomi

Kegiatan utama pesantren ialah pendidikan. Ciri unik lain dari pesantren ialah komitmen dan konsistensi untuk menyediakan pendidikan yang terjangkau bagi umatnya. Bahkan, tidak jarang pesantren yang menyediakan pendidikan gratis bagi santrinya. Meski tidak bisa dimungkiri pada akhir-akhir ini ada beberapa pesantren yang mengenakan biaya mahal, tetapi jumlahnya tidak banyak (Isbah, 2016).

Seiring dengan perkembangan zaman, komitmen untuk menyediakan pendidikan gratis atau terjangkau tersebut kemudian menempatkan posisi pesantren dalam sebuah dilema hybrid organization (Battilana and Dorado, 2010). Pesantren harus tetap bisa eksis dan beroperasi, meski tidak mengenakan biaya tinggi kepada santri ataupun orangtuanya. Oleh karena itu, beberapa pesantren kemudian mulai mengembangkan kegiatan ekonomi untuk menopang layanan pendidikan yang mereka sediakan.

 

Peran pesantren yang semakin luas ini tidak lepas dari perkembangan kondisi sosial politik di Tanah Air. Titik balik peran pesantren di era modern boleh dikatakan dimulai sejak turunnya HM Soeharto dari tampuk kekuasaan pada 1998. Dari sisi jumlah, data Kementerian Agama RI mencatat pesantren di Indonesia pada tahun 1997 sebanyak 9.388 dengan jumlah santri sekitar 1,7 juta. Pada tahun 2022, jumlah pesantren tercatat 27.722 dengan jumlah santri sekitar 4,1 juta. Meningkat hampir tiga kali lipat. Kondisi sosial politik pada masa rezim militer Orde Baru memang kurang bersahabat kepada kelompok Islam, salah satunya pesantren (Ricklefs, 2012). Setelah 1998, pesantren lebih leluasa terlibat dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, termasuk ekonomi.

Saat ini, banyak pesantren yang sudah mengembangkan kegiatan ekonomi secara terstruktur dan memiliki kelembagaan sendiri. Pesantren mulai mendirikan koperasi-koperasi untuk memenuhi kebutuhan internal pesantren seperti makanan, pakaian, atau buku-buku pelajaran. Level pengembangan ekonomi yang dilakukan oleh pesantren bermacam-macam, mulai dari yang paling sederhana sampai ada yang sudah relatif maju.

Pondok Pesantren Nurul Iman di Parung, Bogor, mungkin bisa menjadi contoh pesantren level pengembangan ekonomi yang sudah relatif maju. Bukan hanya memenuhi kebutuhan internal, Pesantren Nurul Iman sudah terlibat dalam industri pengolahan sampah dan memenuhi permintaan pasar eksternal. Kegiatan pengembangan ekonomi Pesantren Nurul Iman ini digunakan untuk menopang pendidikan gratis bagi 15.000 santri yang tinggal dan makan di pesantren tersebut.

Cerita Pesantren Nurul Iman menunjukkan bahwa pengembangan ekonomi yang dilakukan oleh pesantren pada dasarnya untuk menopang kegiatan pendidikannya. Nurul Iman bukan satu-satunya pesantren yang melakukan hal seperti itu. Oleh karena, meminjam konsep institutional logic yang dikembangkan oleh Thornton et al (2012), ketika pesantren mengalami dilema antara peran sosial dan peran ekonomi, pesantren akan lebih memprioritaskan peran sosial. Fenomena ini menjadi refleksi bahwa pengembangan ekonomi pesantren tidak melulu fokus pada pencapaian ekonomi. Justru, pencapaian ekonomi digunakan untuk tujuan pesantren yang lebih jauh, yakni pendidikan dan pemberdayaan umat.

 

Sinergi pesantren

Pengembangan ekonomi pesantren tentu tidak selalu berjalan mulus. Ada tantangan dan dinamika internal yang harus dilewati. Profesionalitas, kemampuan manajerial, marketing, dan budaya kerja adalah beberapa contohnya. Ada juga tantangan teknis khas pesantren, seperti pembukuan (Muljawan, 2015). Ada pula tekanan-tekanan dari luar yang harus diatasi. Ketika sudah mulai terlibat dalam pengembangan ekonomi, apalagi ketika sudah masuk ke pasar eksternal, tantangan persaingan tidak bisa dielakkan oleh pesantren. Perusahaan internasional atau konglomerasi yang sudah lama berinvestasi dan menikmati pasar komunitas pesantren di perdesaan tidak akan rela ceruk pasar mereka diambil pesantren.

Bagi pesantren, salah satu pilihan yang paling rasional ketika menghadapi berbagai tantangan tersebut ialah sinergi. Konsep sinergi sendiri sudah menjadi bagian dari nilai-nilai Islam, yang mengajarkan pentingnya berjemaah. Pesantren juga memiliki potensi besar untuk bersinergi karena memiliki alumni dan komunitas yang sangat loyal. Sebuah karaktersitik unik yang tidak banyak dimiliki oleh institusi lain. Ada juga jaringan sanad keilmuan pesantren, di mana pesantren yang memiliki hubungan guru-murid lebih mudah diikat daripada pesantren yang tidak memiliki hubungan ini. Kebiasaan kiai pesantren untuk menikahkan putra-putrinya dengan keturunan kiai lain juga bisa menambah referensi model sinergi berdasarkan ikatan kekeluargaan.

Meski demikian, penting juga untuk dicatat bahwa kiai adalah figur sentral dalam pesantren maupun masyarakat sekitarnya. Oleh karena itu, wajar ketika seorang kiai dari pesantren tertentu memiliki karisma dan kewibawaan yang tinggi. Di satu sisi, karisma dan kewibawaan ini sangat bermanfaat untuk menggerakkan massa dan menjaga loyalitas umatnya. Namun, di disi lain, karisma dan kewibawaan ini justru bisa menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan ketika harus bersinergi dengan pesantren lain.

Sebagai contoh, ada satu pesantren sudah berumur ratusan tahun dan memiliki jaringan alumni yang sangat luas dengan loyalitas luar biasa. Kiai, pengurus, dan alumni pesantren dihormati oleh kalangan pesantren secara luas. Namun, karena bukan menjadi fokus utamanya, secara pengembangan ekonomi pesantren ini tidak terlalu maju. Sementara itu, ada pesantren lain, masih baru dan alumninya tidak terlalu banyak, tetapi memiliki pengembangan ekonomi yang sangat maju karena memang sejak awal fokus ke pengembangan ekonomi. Dua karakter pesantren ini bisa sulit bersinergi kalau masing-masing tidak mau menurunkan ego sektoral masing-masing dan membangun pemahaman bersama untuk bersinergi dalam pengembangan ekonomi.

Saat ini, ada berbagai model upaya sinergi pengembangan ekonomi yang dilakukan oleh beberapa pesantren. Ada yang berbasis alumni, seperti yang dikembangkan oleh Pesantren Darussalam Gontor di Ponorogo dan Pesantren Al Ittifaq di Bandung. Ada juga yang berbasis kelembagaan, seperti Koperasi Sarekat Bisnis Pesantren (KSBP) Jawa Timur yang dimotori oleh Pesantren Sunan Drajat Lamongan.

Secara nasional, ada juga Himpunan Ekonomi Bisnis Pesantren (Hebitren) yang merupakan upaya sinergi pesantren dalam bidang ekonomi dari seluruh Indonesia. Upaya-upaya sinergi tersebut tentu memiliki dinamika dan tantangan masing-masing. Namun, dengan karakteristik unik pesantren yang selalu konsisten dan fokus pada pemberdayaan umat, upaya sinergi pengembangan ekonomi tersebut setidaknya akan mendekati apa yang ditulis oleh Sen (1999) bahwa pengembangan ekonomi ditujukan untuk membangun manusia seutuhnya.

BERITA TERKAIT