17 May 2022, 05:00 WIB

Waisak 2022, Jalan Tengah Meneguhkan Keluhuran Bangsa


Pdt Dharmanadi Chandra Ketua Permabudhi/Ketua Umum Magabudhi | Opini

MI/Seno
 MI/Seno
Ilustrasi MI

MEMPERINGATI Hari Raya Trisuci Waisak di era kekinian, menghubungkan kita kepada sebuah kisah yang terjadi 2600 tahun lalu, perjuangan seorang anak manusia bernama Siddhartha, kala itu berusia 29 tahun, meninggalkan kehidupan duniawi untuk menemukan obat yang membebaskan semua makhluk hidup (umat manusia) dari penderitaan. Adanya kelahiran menyebabkan kehilangan, penyakit, kematian, dan berkumpul dengan yang tidak menyenangkan. Pendek kata kelima unsur jasmani dan batin yang kita miliki, semuanya merupakan sumber penderitaan.

Hingga hari ini masih banyak manusia menghadapi fenomena ini. Penderitaan ini tidak dapat kita hindari, walaupun dengan perkembangan dan kemajuan teknologi di era saat ini yang sangat cepat, salah satunya teknologi informasi. Bahkan, manusia dipacu untuk mengikuti dan beradaptasi terhadap fenomena ini, seolah-olah teknologi dapat mengatasi penderitaan umat manusia. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, penderitaan masih belum lenyap, dan malah manusia kemudian lupa dan lengah, terjerat dengan teknologi, melupakan hakiki dari sifat-sifat kehidupan ini, atau nilai-nilai kemanusiaan.

 

Jalan tengah

Selama 6 tahun, Siddhartha yang hidup sebagai seorang petapa, melakukan berbagai cara untuk menemukan pencerahan, praktik-praktik menjalani kehidupan dengan keras, dengan melakukan penyiksaan diri dalam berbagai cara. Namun, beliau selalu berusaha agar batinnya penuh ketenangan, kesabaran, keuletan, teguh, dan bahkan penuh kewaspadaan.

Setelah beberapa saat berlalu, Siddhartha melihat bahwa cara–cara ekstrem ini tidak membawanya meraih Penerangan Agung. Seketika tiba-tiba timbul dalam batinnya tiga buah perumpamaan, yang sebelumnya tidak pernah terpikir olehnya.

Perumpamaan pertama. Kalau sekiranya sepotong kayu diletakkan di dalam air, dan seorang membawa sepotong kayu lainnya (yang biasa digunakan untuk membuat api dengan menggosok-gosokkannya), dan ia berpikir, “aku ingin membuat api, aku ingin mendapatkan hawa panas.” Orang ini tidak mungkin dapat membuat api dari kayu yang basah itu, dan ia hanya akan memperoleh keletihan dan kesedihan. Begitu pula para umat manusia yang masih terikat kepada kesenangan nafsu-nafsu indria dan batinnya masih ingin menikmatinya, pasti tak akan berhasil.

Perumpamaan kedua. Kalau sekiranya sepotong kayu basah diletakkan di tanah yang kering, dan seorang membawa sepotong kayu lainnya dan ia berpikir, “aku ingin membuat api, aku ingin mendapatkan hawa panas.” Orang ini tidak mungkin dapat membuat api dari kayu yang basah itu, dan ia hanya akan memperoleh keletihan dan kesedihan. Begitu pula para umat manusia yang tidak terikat lagi kepada kesenangan nafsu-nafsu indria, tetapi batinnya masih ingin menikmatinya, pasti tidak akan berhasil.

Perumpamaan ketiga. Kalau sekiranya sepotong kayu kering diletakkan di tanah yang kering, dan seorang membawa sepotong kayu lainnya dan ia berpikir, “aku ingin membuat api, aku ingin mendapatkan hawa panas.” Orang ini pasti dapat membuat api dari kayu kering itu. Begitu pula para umat manusia yang tidak terikat lagi kepada kesenangan nafsu-nafsu indria dan batinnya tidak terikat lagi, maka umat manusia itu berada dalam keadaan yang baik sekali untuk memperoleh Penerangan Agung.

Tiga perumpamaan ini, menyadarkan Siddhartha dan segera menghentikan praktik-praktik keras yang tidak bermanfaat, dan dapat menghentikan perjuangannya. Beliau kemudian sadar, praktik keras yang dia jalankan dapat menghancurkan kekuatan dan kesehatannya. Jasmani ini dibutuhkan sebagai sarana atau alat untuk meraih cita-cita mulia, bukan sebaliknya. Ibarat menarik senar gitar terlalu kencang atau memasangnya terlalu kendur, keduanya tidak akan menghasilkan suara gitar yang indah. Karena itu, pasanglah senar gitar dengan pandai-pandai menimbang dan mengira-ngira secara seimbang dan bijak sehingga menghasilkan suara yang merdu dan dapat didengar dengan menyenangkan.

Demikianlah hidup itu, tidak boleh terlalu mengikuti hasrat kesenangan nafsu indria dan juga mengikuti praktik penyiksaan diri secara berlebihan. Sikap demikian, kemudian dikenal dengan sikap Jalan Tengah yang kemudian membuka jalan bodhisattha Siddhattha mencapai Penerangan Sempurna (Buddha) dengan usahanya sendiri.

Dalam kehidupan kekinian ini, dengan kecanggihan teknologi, hendaknya kita harus mampu memperlakukan teknologi secara berimbang. Di satu sisi teknologi dipergunakan untuk membantu kehidupan umat manusia. Namun, di sisi lain, manusia sendiri harus mewujudkan kehidupan ini dengan pengembangan kebijaksanaan, kesusilaan, dan juga keteguhan pikiran. Manusia tidak menjadi buta di bawah kekuasaan teknologi, manusia mampu untuk memberikan penilaian, dan tidak menelan mentah-mentah segala hal yang dihadapi. Semuanya dinilai dengan mengedepankan moral, dan juga keteguhan pikiran dalam keseimbangan pemahaman akan kehidupan ini.

Teknologi merupakan alat yang dihasilkan atau diciptakan oleh manusia. Namun, perlu sekali pemahaman yang berimbang dengan Jalan Tengah sehingga manusia tidak terjebak dalam penyalahgunaan teknologi, menjadikan manusia tidak terjebak dengan pandangan yang ekstrem karena dikuasai nafsu keserakahan, kebencian, dan kebodohannya yang berakibat munculnya penderitaan baru.

 

Meneguhkan keluhuran bangsa

Indonesia merupakan negara besar yang memiliki banyak pulau, ragam bahasa daerah, ragam suku, ragam budaya, dan juga ragam akan agama atau keyakinan. Sebagai bangsa yang besar, sikap Jalan Tengah membawa kita untuk berupaya menjalankan nilai-nilai moderasi terhadap segala aspek kehidupan yang beraneka ragam. Saling mengakui adanya ragam perbedaan, dan mau menerima perbedaan ini sebagai kekayaan kehidupan Bangsa Indonesia.

Moderasi beragama dapat menjauhkan sikap ekstrem, bahkan pemikiran primordialisme dan intoleransi terhadap perbedaan yang ada. Jalan Tengah yang diajarkan Guru Agung Buddha, juga meneguhkan nilai-nilai luhur bangsa yang terkandung di dalam Pancasila sebagai ideologi berbangsa dan bernegara.

Marilah umat Buddha sekalian berjuang dan menjalani Jalan Tengah sehingga cita-cita bangsa Indonesia untuk hidup rukun damai, harmoni dalam persatuan dan kesatuan, dan kukuh dalam persaudaraan yang kuat sehingga kita semuanya mampu meraih Indonesia Maju.

BERITA TERKAIT