16 May 2022, 10:39 WIB

Ruhut Sitompul versus Meme Anies Baswedan


Soelistijono, Editor Media Indonesia | Opini

MI/RM Zen
 MI/RM Zen
Editor Media Indonesia Soelistijono, 

Rasis. Tudingan itu. Kini tengah disematkan oleh sebagian netizen kepada Ruhut Sitompul. Politisi yang kini berlabuh di PDIP. Karena memposting di akun Twitter miliknya, foto Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengenakan pakaian adat suku Dani, Papua.

Foto Anies yang konon didapat Ruhut dari kiriman temannya itu dia tambahkan kalimat yang juga menyebut-nyebut etnis betawi yang disusun sedemikian rupa,

Pada kenyataannya apa yang diunggah Ruhut di akun @ruhutsitompul itu merupakan imajinasi liar dia yang dipenuhi intensi terhadap seseorang atau etnis tertentu. Karena, Ruhut sebagai politisi membuat narasi politik. Wajar jika penilaian itu juga mengemuka   

Sontak saja ulah Ruhut terhadap Anies yang dikenal berseberangan pandangan politiknya dengan dia itu. Mengundang rekasi dan komentar dari nitizen, atau pihak-pihak yang merasa direndahkan,

Ruhut yang selama ini mengaku pembela NKRI dan Pancasila justru dinilai memiliki sikap rasis. Ruhut juga dinilai menjadikan budaya Papua sebagai bahan lelucon,

Ruhut pun dilaporkan oleh  Panglima Komandan Patriot Revolusi Petrodes Mega ke Polda Metro Jaya pada 11 Mei 2022 atas dugaan pelanggaran Undang-Undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Ketua Bamus Betawi Riano P Ahmad menilai sikap Ruhut itu seakan-akan hendak membenturkan antaranak bangsa yang ada di Indonesia lewat foto Anies dengan busana adat dari salah satu suku di Papua.

Baca juga: Unggahan Ruhut Sitompul Terkait Meme Anies Berujung ke Polisi

Sebagai politisi senior yang suka berpindah-pindah partai. Ruhut seharusnya mengecek dulu apakah foto yang dipostingnya itu apakah hasil editan atau benar - benar foto asli . Jika editan atau hoaks, kenapa berhasrat menyebarkannya di media sosial?

Bagi Riano, Ruhut sepertinya ingin menyudutkan Anies. Untuk itu, Bamus Betawi menyatakan mendukung penuh pihak kepolisian menyelidiki motif di balik kasus penyebaran informasi hoaks itu. Dikhawatirkan apa yang dilakukan Ruhut bisa memunculkan  sentimen rasis.

Menanggapi tudingan dan pelaporan dirinya ke kepolisian, Ruhut mengaku santai. Bagi dia, tidak ada niatan buruk atas postingannya itu. Tetapi Ruhut mengaku tidak tahu bahwa foto yang dia unggah itu sebagai foto hoaks. Ruhut pun mengaku sebagai orang yang paham hukum. Siap menghadapi proses hukum atas pengaduan terhadap dirinya yang dinilai rasis dan melanggar UU ITE.

Baca juga: Ruhut Sebut Unggahannya Soal 'Meme' Anies Merupakan Hal Positif

Memang kenapa dengan postingan Ruhut itu?. Pertanyaan itu sempat disampaikan oleh sebagian nitizen. Apa salah jika Anies memakai busana adat Papua? Apa yang salah jika Ruhut menirukan logat orang Betawi pada narasinya yang mengiringi meme Anies itu?

Pertanyaan yang bersifat netral ini mungkin perlu direnungkan dan dicarikan jawabannya oleh sosiolog atau ahli bahasa. Bisa dilakukan di mimbar akademis atau di pengadilan jika pengaduan terhadap Ruhut  diproses oleh pihak kepolisian.

Jika tidak ada maksud apapun membuat meme Anies dan disebarkan ke media sosial, kenapa Ruhut memilih busana Papua yang diposting. Kenapa tidak busana Aceh, Sulawesi, atau yang lainnya? Kenapa Ruhut hanya menampilkan sosok Anies? Ruhut harus bisa menjawabnya.

Atau, bagaimana bila Ruhut memosting meme orang-orang yang saat ini dinilai tengah berupaya menghimpun simpati  untuk persiapan Pilpres 2024. Sebut saja Erik Thohir, Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo, Puan Maharani, atau Agus Harimurti Yudhoyono. Mereka ditampilkan bersamaan memakai pakaian adat yang sama. Bisa jadi Ruhut justru akan mendapatkan simpati. Alasannya, orang-orang yang ingin jadi pemimpin di negeri ini harus bersedia  memakai pakaian adat nusantara sebagai penghormatan terhadap budaya lokal.

Nah, jika begini bagaimana nih, Bang Poltak sang Raja Minyak? Ruhut mengaku tidak bermaksud apapun terhadap Anies. Yang patut disayangkan foto meme Anies yang anda sebarkan adalah foto hoaks.

Jika begini adanya, biarlah pihak-pihak yang berwenang menanganinya. Melaksanakan tugasnya dengan jujur dan fair. Biar masyarakat menilai bahwa hukum tidak memihak. Namun hukum itu melindungi dan mengayomi semua lapisan masyarakat.

Patut juga direnungkan apa yang disampaikan oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria agar semua pihak saling menghormati satu sama lain. Sebagai warga bangsa harus saling menjaga. Saling menghormati. Riza pun mengimbau dalam menggunakan  medsos menghindari untuk kepentingan-kepentingan tertentu yang tidak sesuai dengan aturan dan ketentuan yang ada.

Sikap politik

Bila karena alasan perbedaan sikap dan pilihan politik, alangkah lebih terhormat  jika Ruhut menyatakan melalui narasi intlektual. Tidak mengkritiknya lewat fisik. Lebih elegan lagi jika Ruhut mengkritik kebijakan Anies sebagai gubernur atau mendebat pemikirannya. Itu akan berdampak mencerdaskan kehidupan berbangsa dan politik nasional.

Ruhut mungkin lupa soal hal-hal ini, etika politik seperti ini . Bukankah bangsa ini telah sepakat bahwa pandangan rasis tidak boleh ada di bumi pertiwi?

Indonesia adalah rumah besar. Sebagai negara yang memiliki keragaman suku dan budaya yang harus dihormati. Bukan untuk dijadikan bahan olok-olok. Pandangan politik tentu boleh beda. Namun bukan berarti bebas mencela fisik orang. Apalagi dikaitkan dengan nilai-nilai adat yang memiliki local wisdom masing-masing,

Semua aktor politik dan anak bangsa seharusnya berpolitik yang sehat dan cerdas. Agar bangsa ini menjadi lebih maju. Tidak menjadi olok-olok bangsa lain.

Di sisi lain, jika itu kekhilafan dan diakui Ruhut, alangkah baiknya pihak-pihak yang merasa dirugikan memaafkannya.

 

VIDEO TERKAIT :

BERITA TERKAIT