14 April 2022, 23:00 WIB

Tasbih Untaian Kemuliaan Bagi Warga Mesir


Syahri Helmi Zacky, Mahasiswa Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia | Opini

Dok pribadi
 Dok pribadi
Syahri Helmi Zacky

BULAN suci Ramadan menguatkan kembali semangat keagamaan kita untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Perwujudan usaha dalam peningkatan keimanan dan ketakwaan ini salah satunya dilakukan dengan menghidupkan sunah Rasulullah. Salah satu sunah itu adalah berzikir. 

Hal itu merujuk pada QS al-Ahzab ayat 41 yang artinya 'Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian berzikir (mengingat) Allah, dengan zikir yang sebanyak-banyaknya'. Selain itu, hal ini juga didasarkan pada sebuah hadis HR Muslim: 373 yang artinya 'Aisyah berkata: Rasulullah selalu berzikir kepada Allah dalam setiap kesempatannya'.

Salah satu media dalam menghitung zikir adalah tasbih. Kita tentu sangat familiar dengan tasbih atau subhah. Sebuah untaian biji-bijian atau pernak-pernik yang digunakan untuk menghitung zikir. Penggunaan tasbih di Mesir telah menjadi sebuah tradisi sendiri. Tradisi ini berkembang terutama di kalangan Huseiniyyah yakni kelompok para pecinta Sayyidina Husein ibn Ali. Penyematan gelar Huseiniyyah di Mesir juga terbagi atas dua kelompok, yakni komunitas yang menyandarkan keterikatan nasab kepada Imam Husein yang didominasi oleh kelompok Sunni, dan komunitas yang menyandarkan keterikatan sanad teologi atau keilmuan yang didominasi oleh kelompok Syiah.

Tasbih bagi masyarakat muslim Mesir adalah suatu hal yang melekat dan tidak dapat terlepas dari mereka. Kedudukan tasbih layaknya ponsel bagi masyarakat Indonesia. Kehadiran tasbih sangat penting dan membuat pemiliknya kurang nyaman apabila tertinggal.

Uniknya, perspektif akan kemuliaan tasbih ini tidak hanya tertanam di kalangan yang taat beragama, akan tetapi inklusif kepada masyarakat muslim Mesir terutama pada penganut sufisme. Bahkan, kita dapat melihat fenomena unik yang mana banyak wanita Mesir yang belum memakai kerudung, atau mungkin kerudungnya kurang menutupi rambut berjalan di tengah Kota Kairo dengan gelang tasbih di tangannya.

Namun, tentu saja kedudukan tasbih menjadi hal yang kontroversial bagi masyarakat muslim Mesir. Beberapa kalangan menolak penggunaan tasbih dalam berzikir. Komunitas Salafisme contohnya. Mereka menganggap penggunaan tasbih merupakan bid’ah karena tidak dicontohkan oleh Rasulullah. Penolakan ini juga datang dari beberapa komunitas Sufisme di Mesir seperti komunitas tarekat Naqsabandiyyah. Para pengikut Naqsabandiyyah menganggap penggunaan tasbih dikhawatirkan dapat mencederai pengagunang kepada Tuhan karena pengkultusan berlebih terhadap tasbih.

Penolakan terhadap tasbih didasari oleh sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Umar ibn Khattab yang mengatakan, "Hendaklah kalian senantiasa bertasbih (berzikir), bertahlil dan bertaqdis (yakni berzikir dengan menyebut keesaan dan kesucian Allah). Janganlah kalian sampai lupa hingga kalian akan melupakan tauhid. Hitunglah zikir kalian dengan jari, karena jari-jari kelak akan ditanya oleh Allah dan akan diminta berbicara." (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Berdasarkan hadis tersebut, penggunaan jari dalam menghitung zikir lebih dianjurkan, karena sesuai dengan apa yang dicontohkan Rasulullah. Selain itu, penggunaan tasbih dikhawatirkan dapat mendistorsi keimanan karena melakukan bid’ah dan menyebabkan ketergantungan kepada tasbih tersebut. Sementara itu, tasbih dianggap sebagai sunah yang mulia bagi mereka yang menganjurkan penggunaan tasbih. Penggunaan tasbih dinilai dapat meningkatkan keimanan karena tasbih dapat mengingatkan penggunanya untuk berzikir, memuji-muji Allah.

Kesadaran akan kepentingan berzikir juga dinilai dapat menghindari seseorang dari perilaku yang buruk. Bagi mereka, orang yang selalu ingat Allah akan takut dan malu apabila melakukan kesalahan. Keutamaan akan kebolehan penggunaan tasbih didasari oleh ketetapan Rasulullah. Ketetapan ini terdapat dalam HR At-Tirmidzi yang mengisahkan bahwa sahabat Rasulullah Abu Shofiyyah menggunakan batu-batu kerikil dalam menghitung zikirnya, dan Rasulullah tidak melarangnya.

Tasbih bagi umat muslim Mesir sangat dimuliakan. Perwujudan aksi pemuliaan tasbih ini ditunjukkan dengan berbagai cara, seperti kedekatan tasbih terhadap penggunanya. Bagi mereka yang memuliakan tasbih, gelang tasbih tidak akan terlepas sedikit pun dari tangan penggunanya.

Selain itu, ada pula beberapa orang yang membuat tasbih dari barang-barang berharga. Tidak tanggung-tanggung, beberapa tasbih di Mesir terbuat dari mutiara dan permata. Hal ini menunjukkan bahwa status sosial masyarakat Mesir dapat ditunjukkan melalui tasbihnya. Tasbih tidak lagi berperan sebagai alat hitung zikir akan tetapi lebih dari itu, tasbih digunakan sebagai mode atau fesyen masyarakat Mesir.
 

BERITA TERKAIT