17 March 2022, 05:00 WIB

Gaming Disorder kian Mencemaskan


Rahma Sugihartati Dosen Isu-Isu Masyarakat Digital Program Studi S-3 Ilmu Sosial FISIP Universitas Airlangga | Opini

MI/Seno
 MI/Seno
Ilustrasi MI

KECANDUAN gawai, khususnya bermain gim online di kalangan anak-anak, belakangan ini makin mencemaskan. Lebih dari sekadar aktivitas mengisi waktu luang selama isolasi di rumah atau selama pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ), saat ini memainkan gawai tampaknya bergeser menjadi kebutuhan utama anak-anak. Para netizen kini tidak lagi menghabiskan waktu luang mereka untuk bertemu dengan peer-group-nya. Mereka lebih banyak memilih mengurung diri di kamar dan menghabiskan waktu untuk bermain gim, bermedia sosial, atau berselancar di dunia maya hingga berjam-jam.

Ketika aktivitas atau kegiatan bersosialisasi di luar rumah makin terbatas, yang menjadi pilihan anak-anak akhirnya ialah aktivitas daring: menghabiskan waktu untuk berselancar dan mencari hiburan di dunia maya. Hasil survei yang dilakukan InMobi berjudul Mobile Gaming Through the Pandemic and Beyond in Southeast Asia 2021 melaporkan, di Indonesia sekitar 46% responden mengaku baru pertama kali bermain gim daring ataupun gim di ponsel saat pandemi. Hal ini menyebabkan jumlah pengguna gim daring meningkat dua kali lipat di Indonesia. Jumlah pemain gim daring di Indonesia pun kini disebut-sebut tertinggi ketiga di dunia.

Jika dibandingkan, para netizen yang lebih banyak bermain gim daring umumnya ialah remaja pria ketimbang remaja perempuan. Jumlahnya mencapai 55%. Mereka tidak hanya bermain gim daring untuk iseng, melainkan sudah pada taraf kecanduan yang menganggu kesehatan jiwa dan perkembangan psikologis remaja di lingkungan keluarga maupun masyarakat. Dari studi yang ada diketahui bahwa satu dari 10 remaja di Indonesia terindikasi mengalami kecanduan gim online. Ini tentu menjadi permasalahan tersendiri karena bukan saja akan memengaruhi pola pergaulan mereka yang makin soliter, tetapi juga berpotensi memicu amarah dan perilaku menyimpang lain yang tidak terkontrol.

 

 

Mental disorder

Saat ini, perilaku anak yang kecanduan gawai dan gim tidak lagi bisa diabaikan. WHO (Badan Kesehatan Dunia) sejak 2018 telah memasukkan kecanduan gim sebagai bentuk gangguan mental (mental disorder). WHO menyatakan kecanduan gim adalah salah satu bentuk gangguan jiwa baru yang disebut dengan istilah gaming disorder, yakni gangguan mental, perilaku, dan perkembangan saraf seperti layaknya kecanduan alkohol atau obat-obatan terlarang. Gangguan mental baru ini biasanya ditandai oleh adanya ketidakmampuan diri dalam mengendalikan hasrat untuk terus bermain gim. Dengan begitu, waktu untuk bermain gim menghabiskan sebagian besar waktu pecandu.

Ciri yang menandai seseorang dikategorikan kecanduan gim biasanya bukan hanya sering menghabiskan waktu yang lama untuk bermain gim. Ada indikasi waktu yang dihabiskan dari waktu ke waktu cenderung makin lama. Pikiran seseorang yang kecanduan gim sering kali terpaku dan bahkan selalu memikirkan keinginan untuk bermain gim meski tengah melakukan aktivitas yang lain.

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang yang kecanduan gim sering tidak bisa mengendalikan emosi dirinya. Mereka biasanya tidak peduli apa konsekuensi atau risiko yang mesti ditanggung akibat bermain gim, dan bahkan menganggap bermain gim sebagai hal yang terpenting dalam hidupnya. Seorang anak yang sudah kecanduan gim niscaya akan marah, bahkan dalam skala yang sangat eksplosif, ketika mereka dilarang bermain gim.

Di berbagai daerah, tidak sedikit ditemukan kasus di mana anak-anak yang sudah kecanduan gim menjadi oversensitif. Mereka biasanya menjadi mudah marah, terutama ketika aktivitas mereka bermain gim dilarang guru atau orangtuanya sendiri sekalipun. Anak yang kecanduan bermain gim tidak jarang lupa diri. Mereka jarang mandi, juga hanya menyediakan sebagian kecil waktunya untuk makan.

Secara garis besar, ada dua hal yang mendorong dan membuat netizen kecanduan bermain gim. Pertama, ketergantungan untuk terus merasakan hati yang bahagia. Seperti diketahui, dari segi psikologis-medis, pada seseorang yang kecanduan gim, biasanya saat bermain gim akan memproduksi hormon dopamin atau hormon yang membuat seseorang merasa bahagia secara berlebihan. Masalahnya hormon dopamin yang dihasilkan biasanya kelewat batas sehingga seseorang yang kecanduan niscaya akan secara psikologis tergantung, selalu kecanduan untuk terus berbahagia. Dari waktu ke waktu, desakan untuk selalu bahagia inilah yang kemudian ditafsirkan orang-orang yang kecanduan untuk selalu berusaha mengulang dan menambah aktivitasnya yang membuat mereka kecanduan.

Kedua, ketika sebagian netizen ingin keluar atau lari dari kehidupan sosial di dunia luring yang menyesakkan perasaannya. Seorang netizen yang pemalu, korban perundungan dan tidak percaya diri dalam kehidupan di dunia nyata, mereka sering kali menjadikan bermain gawai dan gim menjadi bentuk pelarian. Di berbagai daerah, sudah lazim terjadi seorang anak yang di sekolah kerap menjadi korban bulliying, mereka mencari pelarian dengan cara bermain gim atau gawai. Ketika di dunia maya mereka menemukan teman-teman yang dirasa lebih menerima dirinya apa adanya, maka yang terjadi biasanya ialah anak-anak seperti itu akan makin menenggelamkan diri untuk terus memainkan gawai dan gim.

 

Deteksi dini

Untuk mencegah agar kecanduan gawai dan gim di kalangan anak-anak tidak makin parah, tentu tidak semudah membalik telapak tangan. Ketika pengguna gawai makin masif dan ruang gerak di dunia luring dibatasi, memang bermain gawai dan gim menjadi pilihan kegiatan yang menawarkan kesenangan.

Selain kreativitas menawarkan kegiatan alternatif yang tidak kalah menarik di dunia offline, yang tak kalah penting ialah kemampuan orangtua dan keluarga untuk mengembangkan mekanisme deteksi diri terhadap indikasi perilaku anak-anaknya yang bermasalah. Anak-anak yang sering menghabiskan waktu di kamar untuk bermain gawai dan gim, anak-anak yang kerap minta uang untuk membeli paket pulsa, dan anak-anak yang menjadi mudah marah ketika aktivitasnya bermain gawai dilarang, mereka adalah kelompok anak-anak yang membutuhkan perhatian ekstra orangtua.

Perlu diketahui bahwa anak-anak yang mengalami kecanduan gawai atau gim daring umumnya tidak merasa dirinya melakukan hal yang keliru atau bermasalah. Mereka justru sering kali lebih bersikap menyalahkan orang lain yang tidak sesuai dengan pendapat dan keinginannya. Anak-anak yang kecanduan gawai dan gim biasanya bersikap soliter dan tidak banyak berinteraksi dengan komunitas di sekitarnya.

Orangtua yang kritis, mereka tentu memiliki kepekaan lebih untuk melakukan mekanisme deteksi diri, mencegah agar perilaku kecanduan anak-anaknya tidak makin dalam. Hanya orangtua yang peka sajalah yang lebih berpeluang menyelamatkan anak-anaknya dari keterpurukan dan kecanduan gawai secara berlebihan.

 

BERITA TERKAIT