16 March 2022, 20:05 WIB

Puasa, Konteks, dan Aksi


Feliks Hatam l Tenaga Kependidikan Unika Santu Paulus Ruteng, Peminat Studi Agama dan Budaya | Opini

ISTIMEWA/MI
 ISTIMEWA/MI
Feliks Hatam

GEREJA Katolik universal memasuki masa puasa selama 40 hari. Masa puasa ini disebut juga masa ziarah (Pra-Paskah) menjelang Paskah.

Pada masa ini umat Katolik menyiapkan batin agar pantas merayakan kebangkitan Kristus dan memeroleh rahmat keselamatan. Puasa sebagai refleksi batin dalam terang iman berpijak pada konteks relasi umat beriman itu sendiri.

Realitas itu merupakan konteks tempat manusia membentuk dan menulis sejarah hidupnya. Manusia juga dapat membangun relasi pribadi (interpersonal), relasi pribadi dengan orang lain (relasi sosial), juga berssamaalam (relasi ekologis). Semua relasi ini bersumber sekaligus mengarah pada hubungan umat beriman dengan Tuhan (relasi religius).

Dijelasakan dalam Kitab Hukum Kanon (KHK) nomor 1249—1253,setiap hari semua orang katolik wajib menurut caranya masing_masing melakukan tobat demi hukum ilahi, tetapi agar bersatu dalam suatu pelaksanaan tobat bersama, ditentukan waktu khusus untuk doa, menjalankan karya kesalehan dan amal kasih, pengyangkalan diri sendiri dengan melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara lebih setia sebagai latihan rohani dan terutama dengan berpuasa dan berpantang. Maka masa prapaskah adalah waktu khusus bagi umat katolik bersatu dalam puasa dan patang, sekaligus mendoakan perdamaian dan keselamatan dunia.

Hakikat puasa dan pantang adalah doa disertai aksi nyata mengamalkan cinta kasih dengan karya karitatif dan misioner, sambil terbuka pada realitas. Maka, selama masa prapaskah, puasa dan pantang atau mati raga yang dengan berani dan rela memeriksa batin atau pemeriksaan cara hidup sendiri serta mengorbankan diri untuk melepaskan kehidupan lama yang tidak sejalan dengan ajaran iman, mengakui kesalahan, ikut mengambil bagian dalam usaha perdamian dan mendoakan keselamatan dunia, bersolider dengan orang miskin, ikut memikul salib Kristus dengan cara sabar menempuh jalan halal atas semua pendiritaan hidup adalah jalan pertobatan.

Katekismus Gereja Katolik (KGK) nomor 1430 dan 1431 juga menegaskan, puasa dan mati raga berpusat pada Kristus dinyatakan melalui kegiatan dan karya nyata. Tidakan ini sebagai sikap penataan baru seluruh aspek kehidupan, berani meniti harapan baru ditengah penderitaan pelik dan pahit. Semua itu bermuara pada langkah balik kepada Allah dengan segenap hati.

Prapaskah tahun ini, dirayakan ditengah kembali meningkatnya pandemi covid-19 dan varian omicron di beberapa wilayah di Indonesia. Ini adalah salah satu realitas yang menyebabkan kecemasan dan penderitaan global. Berbagai pihak sedang dan terus berupaya memutuskan rantai penularan, salah satunya dengan mengiatkan vaksinasi.

Diakui, manusia adalah mahkluk lemah, rentan dan terbatas, sehingga perlu membuka diri dan menyerahkan diri kepada Dia yang tidak terbatas, yakni Tuhan. Agar terus membimbing, mununtun dan mencurahi berkat-Nya terhadap semua upaya dan harapan kita.

Puasa dan pantang sebagai pertobatan batin menuntut tindakan nyata melalui latihan rohani hendaknya melampuai batas budaya, agama dan suku. Ini adalah panggilan umat katolik untuk berperan aktif dalam doa keselamatan dan perdamaian dunia, keadilan serta terwujudnya kesejahteraan umum. Untuk dapat melakukan kebajikan ini, setiap pribadi terlebih dahulu mampu merasakan penderitaan disertai kesedihan orang lain masuk kedalam dirinya sebagai kesedihan jiwa (animi cruciantus), dan sanggup merasakan penyelesalan hati (compunctio cordis).

Dengan latihan yang sama, saat ini penting untuk menyalibkan niat berkerumun, menyalibkan sikap dan sifat tidak peduli terhadap berbagai regulasi pencegahan covid-19, menyalibkan egoisme. Sebaliknya tanamkan sikap ketaatan dan kepatuhan terhadap protokol kesehatan, kontekstualisasikan nilai kasih dan solidaritas humanisme yang utuh, sebagai buah dari rekonsilasi diri yang diyakini jalan untuk mendekatkan dan menyatukan diri dengan Tuhan.

Halnya diberbagai instasi pemerintah, swasta, dan dunia usaha atau bidang lainya yang memperkerjakan banyak orang, diharapkan visi dan misi serta target percapaian ideal harus realistis dengan situasi saat ini. Sebab yang lebih tinggi dari harapan itu adalah martabat dan keselamatan umat manusia.

Latihan rohani sebagai aksi puasa melalui kebranian mengambil keputusan yang pantas, seperti menerapkan melaksanakan pekerjaan dari rumah, dan bila perlu mewajibkan untuk melakukan isolasi mandiri kalau satu diantara kolega kerja terkonfirmasi positif covid-19.

Ini adalah bentuk pengorbanan berlandaskan solidaritas kepada mereka yang mendirita. Sehingga pinsip option for the poordimaknai secara luas, tidak terbatas keperpihakan pada orang kecil secara materi dan status sosial. Kontekstualisasi pemaknaan option for the poordengan  berani berpihak kepada mereka yang terpapar covid-19 dan korban musibah lainya.

Dengan mengorbankan harapan ideal sesuai konteks, maka kita ikut memberikan kekuatan dan dukungan utuh agar mereka yang terpapar lekas sembuh, ikut mendukung upaya keselamatan dunia. Sebab kesalamatan dunia dan martabat manusia adalah juga misi Yesus, yang kemudian melebur dalam relasi kita dengan sesama dan berbagai keputusan yang berpihak kepada kesalamatan manusia. Seluruh pengorbanan ini akan menyatu dengan pengorbanan Agung Yesus di kayu salib.

Puasa: Dialog dengan Konteks
Konteks bisa dijelaskan sebagai pengalaman yang dialami oleh sekelompok orang baik di masa lalu maupun yang terjadi saat ini, budaya, dan lokasi sosial (Bevans 2010:230). Konteks juga tidak hanya dimengerti sebagai ruang geografis, tetapi ruang hidup manusia dengan karakteristik sosial dan budaya yang bersifat dinamis, di sanalah semua umat beragama menuliskan kisah mereka, sehingga konteks berkaitan dengan realitas manusia (Manfred Habur, 2019:246).

Maka, konteks berurusan dengan relasi manusia dengan dirinya, relasi dengan sesama, relasi dengan alam, relasi dengan Tuhan. Relasi religus sebagai perjumpaan dan dialog pribadi dengan Tuhan dikonkritkan dalam perjumpaan dengan sesama seturut konteks di mana setiap pribadi menuliskan pengalaman iman dan kisah hidupnya (Bdk.Heryatno,dalam Manfred Habur, 2019:246)

Pandemi covid-19 dimengerti sebagai konteks dan realitas. Wabah ini adalah krisis dan ancaman global. Akibatnya, tidak hanya menyasar pada krisis ekonomi, tetapi juga terjadinya krisis kemanusian dan krisis relasi solidaritas sosial.
Dari sejumlah akibat nyata yang disebabkan covid-19, masa puasa 2022 ini mengundang umat katolik untuk kembali menyatu dengan konteks, lalu berdialog dengan realitas  yang terjadi saat ini.

Konteks dan realitas sebagai locus, dari sanalah makna kehadiran setiap orang beriman bagi orang lain menemukan jalannya, yakni meleburkan nilai kasih melalui aksi nyata. Walaupun sederhana, tetapi bermanfaat bagi orang yang membutuhkannya.

Menjadi bermanfaat bagi orang lain sebagai latihan rohani dan tindakan yang mengalir dari kedalaman batin adalah peleburan nilai pertobatan. Sebab misi pertama dan utama Kristus adalah menyelamatkan dunia, selanjutnya diri-Nya mengundang umat katolik untuk mengambil bagian dalam karya keselamatan dunia melalui doa disertai berdialog dengan realitas manusia, lalu melakukan aksi nyata.  Tindakan dan pengobarnan ini disempurnakan dan dipersatukan dengan pengobarnan Yesus di kayu salib.

Pandemi dan Aksi Solidaritas
Kompendium Ajaran Sosial Gereja artikel 18 menegaskan sebuah humanisme yang terpadu dan solider yang mampu menciptakan sebuah tatanan sosial, ekonomi dan politik yang baru dilandaskan pada martabat dan kemerdekaan setiap pribadi manusia, agar menghasilkan perdamaian, keadilan dan kesetiakawanan.

Cita-cita ini terjadi apabila manusia seutuhnya menyadari diri seutuhnya untuk meyalibkan individuaslitis dan egoisme, sebab humanisme yang uatentik adalah menyadari kehidupan sosial sebagai kumpulan setiap pribadi-pribadi.

Maka, aksi solidaritas sebagai bentuk kontekstualisasi pertobatan holistik bukanlah prasaaan belas kasihan atau karena rasa sedih terhadap nasib buruk orang laian akibat pandemi covid-19 atau musibah lainya. Sebaliknya sebagai tanggungjawab sosial dan moral dari kedalaman batin, disertai tekad yang teguh, kerelaan hati, dan tabah untuk membaktikan diri kepada kesejahteraan semua orang.

Di sinilah kotenstualisasi penghayatan iman yang terbuka pada reasiltas. Bahwasannya, pandemi covid-19 sebagai salah satu kenyataan pelik dan pahit yang terjadi secara global. "Situasi ini momen tepat bagi pemuka agama mengajak umat mendalami iman, tapi tetap terbuka terhadap penjelasan rasional yang melatih rasio agar lebih peka menghayati agama dengan tidak mengabaikan realitas yang dihadapi.

Agama tidak boleh menggoda kita keluar dari realitas. Pemuka agama mesti membantu umat agar tidak jatuh dalam hiburan wacana apokaliptik berupa ramalan penderitaan" (Media Indonesia, 13 Maret 2021).

Aksi solidaritas pada masa pandemik covid-19 dengan harapan agar terciptanya kondisi yang lebih baik. Cita-cita wujudkan realitas yang lebih baik dari sebelumnya adalah mewujudkan karya-karya keselamatan Tuhan dalam dan melalui sesama dengan tindakan konkret, seperti saling menigatkan sekaligus menjadi contoh bagi orang lain untuk memakasi masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menghindari kerumunan, membatasi mobilitas, mengikuti vaksinasi dan mengambil bagian dalam kampaye wajib vaksin. Ini adalah salah satu bentuk panggilan batin dan sikap sakramentali selama masa puasa yang kontekstual.

Tentu, puasa, doa, dan memberi sedekah merupakan tiga bentuk pertobatan batin, yang diaktulisasikan dengan berbagai cara oleh masing-masing pribadi, dengan tujuan sebagai pernyataan tobat terhadap diri sendiri, terhadap sesama dan terhadap alam.

Membuka diri pada realitas, lalu berdilog dengan konteks, selanjutnya merumuskan dan melaksanakan aksi nyata yang menyapa semua orang adalah printah puasa untuk terus terciptanya relasi umat beriman dengan Tuhan. Sebab pertobatan adalah “jalan kembali menuju untuk merasakan kebaikan dan keselamatan diri dan dunia”.

 

BERITA TERKAIT