06 March 2022, 05:00 WIB

Merawat Budaya


Adiyanto Wartawan Media Indonesia | Opini

MI/Ebet
 MI/Ebet
Adiyanto Wartawan Media Indonesia

KITA kini hidup di zaman antroposen, era ketika aktivitas manusia telah memengaruhi ekosistem Bumi secara global. Istilah ini resmi diwacanakan sekelompok peneliti pada Kongres Geologi Internasional di Cape Town, Afrika Selatan, pada akhir Agustus 2016. Menurut mereka, kini hampir tidak ada wilayah di planet ini yang tidak bersentuhan dengan aktivitas makhluk berkaki dua, berotak, dan berjalan tegak yang disebut Homo sapiens (baca: manusia).

Dalam wawancara yang diunggah di situs solidarity.net.au, pada 21 Februari lalu, Jeff Sparrow penulis buku Crimes Against Nature: Capitalism and Global Heating, an Indictment of Capitalism’s Role in the Climate Crisis, bahkan menyebut tumpukan timbal ditemukan jauh di bawah lapisan es di Greenland, wilayah di Kutub Utara yang secara teori seharusnya menjadi salah satu kawasan yang paling steril dari jangkauan tangan manusia. Jangankan Kutub Utara, bulan dan planet di luar Bumi pun kini dieksploitasi. Penulis berkebangsaan Australia yang juga aktivis lingkungan itu menyebut kapitalisme bertanggung jawab atas kerusakan yang terjadi di alam ini.

Atas nama pembangunan dan pariwisata, misalnya, tatanan kehidupan sosial masyarakat sering kali dibuat porak-poranda. Sejumlah desa dan masyarakat adat, dari Lembah Amazon, di Brasil, hingga Pulau Sumba, di Nusa Tenggara Barat, tidak luput terkena imbasnya. Belum lama ini, World Monuments Fund (WMF), organisasi independen yang mengabdikan diri untuk menjaga tempat-tempat paling berharga dan bersejarah di dunia, bahkan menyebut kehidupan di Sumba terancam punah.

Dalam situs resminya yang diunggah, Rabu (2/3), organisasi yang berbasis di New York itu menyebut Sumba bersama puluhan warisan budaya dunia lainnya, patut mendapat perhatian dan perlu direvitalisasi. Pulau Sumba yang dihuni kurang lebih 800 ribu jiwa memiliki kehidupan khas untuk melestarikan tradisi hidup yang tidak ditemukan di tempat lain. Bangunan rumah tradisional berbentuk panggung yang ada di sana bukan sekadar tempat berlindung dan beristirahat, melainkan juga memungkinkan ruang di bawahnya menjadi tempat untuk memelihara hewan. Beberapa tiang penyangga diikat menjadi satu, membentuk sambungan fleksibel yang memungkinkan rumah-rumah tersebut tahan gempa.

Namun, kini kemampuan atau keterampilan masyarakat untuk memperbaiki, merekonstruksi, atau membangun rumah semacam ini, mulai terkikis karena minimnya bahan baku baik akibat perubahan lingkungan maupun tren urbanisasi yang membuat warga, terutama kaum muda, hijrah ke kota. Sementara itu, di sisi lain, rumah-rumah yang lama sangat rentan kebakaran, seperti yang terjadi di Desa Tarung pada 2017 dan di Desa Bondo Morotuo pada 2018 yang menghanguskan puluhan rumah adat.

WMF menyebut untuk menghadapi tantangan global, terutama perubahan iklim, metode inovatif serta penguatan pengetahuan tradisional diperlukan untuk mengurangi dampaknya terhadap warisan budaya dan membantu masyarakat beradaptasi. Oleh karena itu, kearifan lokal yang diwujudkan dalam asitektur bangunan rumah masyarakat Sumba (dan juga di sejumlah wilayah lain), harus terus dipelihara. Strategi berkelanjutan di bidang pariwisata tentunya diperlukan untuk meminimalkan dampak buruknya sekaligus memastikan manfaat yang adil bagi masyarakat lokal sebab aktivitas tersebut tidak jarang menjadi ancaman bagi komunitas setempat dan cara hidup mereka. Belum lagi eksesnya terhadap lingkungan.

Para pemangku kepentingan, terutama pemerintah daerah, kiranya perlu bekerja lebih keras lagi untuk melindungi warisan budaya yang ada di wilayah mereka. Upaya pelestarian yang melibatkan warga dapat berperan membangun ketahanan dan meregenerasi tatanan sosial, tidak hanya di Sumba, tetapi juga di tempat-tempat lainnya yang terdampak krisis. Upaya semacam itu penting agar kekayaan budaya di Nusantara tidak sekadar tinggal cerita.

BERITA TERKAIT