17 February 2022, 05:10 WIB

Korea Utara Jadi Negara Adidaya?


Guntur Soekarno Pemerhati Sosial | Opini

MI/Duta
 MI/Duta
Ilustrasi MI

KETIKA pecah perang Korea pada 25 Juni 1950 antara Korea Utara (Korut) melawan Korea Selatan (Korsel), Amerika Serikat (AS) melakukan intervensi membantu Korsel yang sudah terdesak, bahkan nyaris kalah. Bantuan militer AS dapat memukul mundur pasukan-pasukan Korut. Saat itu Republik Rakyat Tiongkok (RRT) turun tangan membantu Korut dengan mengerahkan pasukan tempurnya hingga pesawat-pesawat MIG-15 untuk melawan pesawat-pesawat Sabre F-86 milik Angkatan Udara AS yang kala itu me nguasai pertahanan udara di semenanjung Korea.

Dengan adanya keunggulan udara Korut memukul mundur pasukan lawan. Atas tekanantekanan dunia internasional, Korsel melakukan gencatan senjata di Panmunjom sampai dengan saat ini. Korut yang berpaham komunis ala Uni Soviet, yaitu Marxis-Leninis me, secara teknis di bawah kepemimpinan Kim Il-sung berubah menjadi sebuah negara komunis ala Korea mengikuti ajaran-ajaran Kim Il-sung yang bernama Juche Idea atau Ide Juche.

Walaupun masih melaksanakan sistem negara diktator proletariat yang ketat, komunisme Korut lebih disesuaikan kepada situasi dan kondisi mereka, yang saat itu belum masuk ke industrialisme sepenuhnya. Bahkan, sebagian terbesar masyarakatnya masih berada di tahap pertanian (agraris). Oleh sebab itu, sistem pemerintahan diktator proletariat diubah oleh Kim Il-sung menjadi diktator kelas pekerja, dan di dalamnya termasuk kelas tani yang merupakan mayoritas rakyat Korea saat itu.

Di bidang ekonomi, Korut di bawah kepemimpinan Kim Il-sung masih sangat lemah jika dibandingkan dengan Korsel yang mendapat bantuan penuh dari AS, sedangkan Korut sesuai Juche Idea lebih melaksanakan sistem ekonomi berdikari di sektor negara. Artinya, pemegang panji-panji ekonomi ialah perusahaan-perusahaan negara dan bukan milik swasta yang kenyataannya masih sangat lemah.

Di kala itu hubungan Korut dengan Indonesia sangat erat terutama antara Bung Karno dan Kim Il-Sung. Untuk menghormati Kim Il-sung, atas usulan Bung Karno, Kebun Raya Bogor menganugerahkan jenis bunga anggrek baru hasil silangan dari beberapa jenis bunga anggrek yang diberi nama Anggrek Kim Il Sung Hwa. Bunga ini dikembangbiak kan secara massal di Korut dan dijadikan salah satu bunga nasional mereka.

Kim Il-sung yang telah meletakkan dasar-dasar Ide Juche kemudian digantikan oleh putranya Kim Jong-il. Di bawah kepemimpinannya, Korut secara pasti setahap demi setahap berkembang maju ke arah masyarakat industri modern dengan kondisi ekonominya yang lebih mantap terkonsolidasi. Di era ini bangsa Korut ditempa dengan perasaan solidaritas patriotik yang sangat tinggi sehingga pemerintah sangat mudah memobilisasi ribuan massa bila diperlukan.

Di kalangan angkatan perang solidaritas korps (esprit de’ corps) dan disiplin baja terbentuk dengan signifi kan. Bila kita menyaksikan paradeparade militer mereka tampak sekali kekompakan gerakan dan langkah tegap, laksana ribuan robot yang sedang melangkah. Demikian pula dengan batalion-batalion perempuan mereka, selain tegap juga cantik.

Perkembangan industri alutsista mereka juga berkembang maju dengan mulai merintis pembuatan roket-roket dan rudal- rudal yang dapat menjangkau jarak jauh. Sebenarnya bila tidak mempertimbangkan adanya bantuan militer AS kepada Korsel, Korut sudah mampu menekuk tubuh Korsel untuk mengadakan unifi kasi Korea.

 

 

Perkembangan

Kim Jong-un yang masa remajanya berhasil menyusup (disusupkan) belajar di suatu universitas terkemuka di AS, setelah lulus kembali ke Korut untuk dipersiapkan mengganti Kim Jong-il bila ayahnya itu sudah tiada. Dengan bekal ilmu dari barat dipadu dengan ide Juche sang kakek, ia berhasil memimpin Korut menjadi sebuah negara yang secara politik maupun ekonomi mampu berdiri di atas kaki sendiri.

Dari segi pertahanan tidak ayal Korut menjadi salah satu negara yang terkuat alutsistanya di kawasan Asia. Sebagai contoh saat ini mereka sudah berhasil meluncurkan stasiun angkasa luar di orbit. Bahkan, sudah memproduksi rudal-rudal hipersonik yang dapat diluncurkan dari darat ataupun kereta api, setara dengan apa yang sudah dicapai negara adidaya Tiongkok.

Sudah barang tentu hal tersebut membuat negara-negara Barat khususnya AS dan negara- negara Uni Eropa tidak nyaman sehingga mereka memperkuat koalisi pakta pertahanan baik SEATO maupun NATO. Berita terakhir menyebutkan Korut berhasil meluncurkan rudal hipersonik yang dapat menjangkau jarak 2.000 kilometer sehingga bisa mencapai wilayah-wilayah AS, Australia, dan lain sebagainya. Rudal ini dapat diberi hulu ledak nuklir yang saat ini juga sedang dikembangkan di Korut. Dengan kondisi seperti ini, Korut sudah dapat dikategorikan sebuah negara adidaya sebagaimana Tiongkok.

 

 

Hubungan dengan Indonesia

Yang menjadi pertanyaan mendasar ialah bagaimana hubungan Korut dengan Indonesia saat ini, yang bila kita ikuti berita-berita di media massa amat minim sekali. Padahal, di era pemerintahan Bung Karno, hubungan kedua negara sangat akrab dan bersahabat. Bahkan, untuk memotong garis hidup imperialisme atas prakarsa Bung Karno, dibentuklah poros antiimperialis, yaitu poros Jakarta, Phnom Penh, Pyongyang, dan Beijing. Di lain pihak, Bung Karno dan Presiden Filipina Diosdado Macapagal (Cong Dadong) mengeluarkan doktrin ‘masalah Asia harus diselesaikan oleh negara-negara Asia sendiri dengan cara-cara Asia’ bebas dari campur tangan negara- negara non- Asia.

Doktrin ini menyangkut masalah penyatuan kedua Korea harus dilaksanakan baik oleh Korea Utara maupun Korea Selatan sendiri, tanpa campur tangan pihak lain no-Asia termasuk PBB. Alasannya, Dewan Keamanan PBB dikuasai negara- negara Barat sehingga setiap rencana penyatuan Korea oleh pihak-pihak yang bertikai selalu diveto dan terkatungkatung hingga saat ini.

Dalam masalah Korea tampaknya Kementerian Luar Negeri RI masih dalam kondisi wait and see dan sangat berhati- hati menentukan sikap. Bahkan, belum bereaksi apa pun dengan masuknya inviltrasi budaya Korsel melalui film berseri dan drama Korea. Bahkan, di kalangan generasi milenial saat ini sedang tergila-gila dengan kemunculan grup breakdance dan rapper BTS yang mempunyai tujuh personel. Secara internasional grup ini sudah diakui prestasinya di bidang seni tari dan vokal. Bahkan, majalah sekelas Times melakukan liputan untuk promosinya.

Sikap Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud- Ristek) juga masih belum terlihat. Bahkan, kelihatannya adem ayem saja walaupun pengaruh grup asal Korsel tersebut di kalangan generasi muda sudah telanjur mendarah daging. Mereka lebih kenal siapa dan apa grup asal Korsel tersebut ketimbang maestro musisi lokal.

Seyogianya pemerintah melalui kementerian-kementerian yang berwenang sudah harus bereaksi terhadap fenomena mendunia ini. Sebenarnya Korut juga punya karya seni budaya yang tidak kalah hebat dengan penampilan grup BTS, seperti atraksi massal ribuan seniman Korut dalam bentuk pertunjukan Arirang yang melibatkan ribuan pekerja seni termasuk di dalamnya pihak militer. Walaupun masih sebatas mimpi, kita kaum patriotik berharap suatu saat pertunjukan massal Arirang dapat ditampilkan di Gelora Bung Karno agar demam BTS dapat diminimalkan secara proporsional.

BERITA TERKAIT