23 January 2022, 05:00 WIB

Kebiasaan Makan


Adiyanto Wartawan Media Indonesia | Opini

MI/Ebet
 MI/Ebet
Adiyanto Wartawan Media Indonesia

MARI kita bertamasya ke masa lalu. Masa ketika manusia belum menemukan api. Kira-kira, bagaimana cara nenek moyang kita itu mencukupi kebutuhan nutrisi mereka? Memangsa hewan dan tumbuhan serta langsung menelannya mentah-mentah?

Menurut sejarawan, kemungkinan besar itu umumnya yang manusia lakukan. Sebagian ada yang bertahan, tidak sedikit yang mungkin mati karena kuman atau bakteri seturut ayam, babi, kodok, serta berbagai jenis tanaman yang mereka konsumsi. Penemuan api sebagai produk kebudayaan, kemudian secara tidak langsung menyelamatkan peradaban manusia karena ia dapat membunuh bakteri saat digunakan untuk memproses makanan.

Seperti halnya api, minyak nabati yang dibuat dari tanaman, juga bagian dari produk kebudayaan. Ia bagian dari inovasi berikutnya yang dibuat manusia dalam memenuhi kebutuhan gizi dan selera makan mereka. Minyak tidak hanya berfungsi sebagai pengantar panas untuk mematangkan, tapi juga agar makanan yang dikonsumsi lezat dan menyehatkan. Makanya, jangan heran jika ada sejumlah produsen yang mengklaim minyak produk mereka mampu meminimalkan risiko penyakit jantung karena mengandung omega-3 dan sebagainya. Namanya juga pedagang.

Kini, para saudagar itu diuntungkan dengan melonjaknya harga minyak goreng, yang konon harganya naik hingga 30% dalam beberapa bulan terakhir. Kenaikan itu antara lain disebabkan melonjaknya harga minyak sawit mentah (CPO) di tingkat global. Para produsen minyak goreng tergantung pada harga CPO. Karena itu, ketika harga minyak sawit mentah melonjak, harga minyak goreng curah dan kemasan sederhana pun ikut meningkat. Akan tetapi, terlepas apa pun penyebabnya, kenaikan harga ini membuat konsumen resah. Pemerintah pun perlu campur tangan dengan mematok harga minyak Rp14.000 per liter, berlaku untuk semua ritel ataupun warung di kampung-kampung.

Saya bukan ekonom dan tidak ingin membahas persoalan ini dari sudut ekonomi, seperti hukum supply-demand dan sebagainya. Saya hanya ingin merenungkan soal ketergantungan manusia pada produk kebudayaan yang mereka ciptakan, terutama kebiasaan mereka dalam mengonsumsi makanan. Mengapa mereka bisa ribut hanya karena harga cabai rawit atau cabai keriting melonjak, misalnya. Memangnya tidak bisa hidup tanpa mengonsumsi sambal? Memangnya bakal mati jika hanya mengonsumsi rebusan sayur dan lalapan?

Tata cara dan selera makan, entah bancakan dengan tangan, pisau, sendok, atau garpu, entah digoreng, direbus, entah disangrai dengan pasir atau dibakar, merupakan produk kebudayaan yang dibuat manusia. Itu yang membedakan mereka dengan hewan yang cara makannya begitu-begitu saja. Namun, kita selaku manusia jangan jemawa dulu. Segala rupa dimakan. Giliran ada flu burung, flu babi, kelabakan. Bukankah wabah korona yang entah kapan akan berakhir ini juga dipicu lantaran ulah sebagian dari kita yang kerap memangsa hewan liar, termasuk kelelawar?

Masa pandemi ini memang kiranya menjadi momen yang tepat bagi kita untuk merenungkan kembali peradaban. Selamat berakhir pekan dan jangan lupa makan.

BERITA TERKAIT