20 January 2022, 21:27 WIB

Ridwan Kamil Berani Ungkap Niat Maju Capres, Siapa lagi Menyusul?


Eko Suprihatno | Opini

MI/Vicky G
 MI/Vicky G
Jurnalis Media Indonesia Eko Suprihatno

Pemilihan Umum Presiden atau Pilpres 2024 memang masih dua tahun lagi. Tapi suhu politik Tanah Air mulai menghangat dengan tampilnya sejumlah sosok yang merasa pas menjadi suksesor Joko Widodo. Bukan cuma merasa pas, tapi juga yakin bakal dilirik partai politik untuk diusung dalam kontestasi.

 

Sejumlah nama memang digadang-gadang menjadi sosok yang tepat, setidaknya menurut lembaga survei dan para pendukung kandidat masing-masing. Sebut saja Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto, Ketua DPR Puan Maharani, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

 

Ada juga nama lain seperti Menteri BUMN Erick Thohir dan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono. Tapi dua nama ini relatif tenang seperti permukaan air di danau, tak banyak berombak.

 

Tapi, dari semua nama itu, enggak ada yang berani terang-terangan bilang siap maju ke Pilpres 2024. Padahal dalam banyak survei, mereka termasuk yang dibicarakan. Apakah malu-malu kucing, menunggu momentum untuk maju, atau karena sebab lainnya. Cuma mereka yang bisa jawab.

 

Sejauh ini cuma Ridwan Kamil yang tanpa ragu menegaskan kalau dirinya berikhtiar maju ke Pilres 2024. Salut buat Kang Emil. Namanya pemimpin memang harus berani tampil unjuk dada enggak diam-diam tapi kasak kusuk mencari dukungan. Terlepas apakah akan dipilih rakyat atau tidak, waktulah yang akan menjawab.

 

Soal kalah dan menang itu rahasia Tuhan, seperti di PON Papua lalu semua saling smash, bertarung secara bermartabat, namun hasilnya ada yang mendapat emas, perak, atau perunggu, dan semua menerimanya dengan baik. Begitu kata Ridwan Kamil di depan Musyawarah Daerah Angkatan Muda Siliwangi Provinsi Bali, Selasa 18 Januari 2022.

 

Menurutnya, parpollah yang akan menentukan langkah ke depan. Sehingga, walau belum ada kesepakatan, setidaknya masyarakat sudah punya satu kandidat yang berani unjuk diri.

 

Pantaslah Ridwan Kamil percaya diri. Hal ini mengacu pada Pilkada Jabar 2018 saat dia bersama Uu Ruzhanul Ulum dinyatakan sebagai pemenang. Dari 31,73 juta pemilih, pasangan yang diusung NasDem, PKB, PPP, dan Hanura ini meraup 7.226.254 atau 32,88%. Bandingkan dengan runner up Sudrajat dan Ahmad Syaikhu yang diusung PKS dan Gerindra, meraup 6.317.465 suara atau 28,74%. Jadi buat Kang Emil, boleh percaya diri, tapi jangan lupa diri, apalagi sampai tak tahu diri.

 

Kalau Ridwan Kamil begitu percaya diri, tidak demikian dengan internal Partai Golkar. Rendahnya elektabilitas Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto membuat gesekan di internal mereka. Bermula dari kritik Wakil Ketua Umum Melchias Markus Mekeng yang mempersoalkan elektabilitas Airlangga, bahkan meminta sang ketua umum mengurungkan niat maju sebagai calon presiden.

 

Sontak hal itu memicu kubu pembela Airlangga bersuara, seperti dikatakan Wakil Sekjen Samsul Hidayat. Dia meminta Mekeng untuk bersama-sama meningkatkan elektabilitas Airlangga, paling tidak di daerah pemilihan Mekeng. Bukan malah berteriak-teriak di depan media tanpa ada kontribusi. Kalau begitu adanya, kapasitas kekaderan yang bersangkutan perlu dipertanyakan. Begitu kata Samsul.

 

Airlangga kemungkinan menjadi sosok yang disodorkan Golkar untuk bertarung kelak. Dia sudah mengawali dengan memasang banyak baliho di berbagai tempat strategis. Memang sih, dalam baliho-baliho tersebut enggak ada kata atau kalimat yang menyebutkan siap menjadi capres 2024. Jadi kalau nanti akhirnya Airlangga enggak termasuk sosok yang berkontestasi, kubunya bisa berkilah bahwa tidak ada satupun baliho itu menampilkan dirinya sebagai capres.

 

Bagaimana dengan nama-nama lain yang disebut sebagai calon potensial sebagai suksesor Jokowi, setali tiga uang sih kalau mau jujur. Lihat saja bagaimana Ganjar Pranowo yang dilihat sejumlah pihak sebagai saingan serius Puan Maharani dalam internal PDIP. Sejauh ini, elektabilitas Ganjar memang selalu melampaui Puan. Tapi itu bukan harga mati bagi Megawati Soekarnoputri untuk memilih Ganjar menjadi calon dari PDIP. Sehingga, beberapa saat lalu, muncul istilah kubu pendukung Ganjar sebagai celeng yang berhadapan dengan Puan yang disebut sebagai banteng.

 

Mengacu pada ungkapan politisi Partai Golkar Azis Sumual, elektabilitas capres bukan cuma diukur dari survei-survei. Menurut dia, hasil survei tidak lepas dari agenda politik tertentu untuk mengarahkan opini publik. Bahkan Azis mengungkapkan monitoring yang dilakukan Indonesia Indikator pada awal Januari 2022, Airlangga menempati peringkat ketiga setelah Presiden Jokowi dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, sebagai tokoh berpengaruh di media. Jadi jangan terlalu dini mengambil kesimpulan soal elektabilitas, bisa misleading. Begitu kata Azis.

 

Tapi jangan lupa, semua yang terjadi ini juga bagian dari langkah-langkah politik. Simak saja bagaimana kemudian relawan-relawan Ganjar mulai merambah ke berbagai pelosok negeri. Mereka secara aktif memperkenalkan jagoan mereka kepada publik lewat aksi-aksi nyata yang menyentuh kepentingan masyarakat. Apakah Ganjar tak mengakui dirinya enggak tahu soal tersebut? Naif bangetlah kalau sampai tega bilang begitu.

 

Ganjar sendiri juga begitu aktif di media sosial. Bahkan dia juga sering turun ke wilayah kekuasaannya di Jawa Tengah untuk memantau atau bahkan menjadi pamong serta kader parpol yang baik. Salahkah itu? Ya enggak salah dong, karena memang semua masih masuk koridor sebagai kepala daerah dan juga kader PDIP. Semisal, Ganjar merenovasi rumah tidak layak huni Supono, warga Desa Gemuruh, Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara.

 

Hal yang sangat baik. Tapi akan lebih baik lagi kalau bukan cuma Supono saja. Sebab di Jawa Tengah tentu masih banyak Supono-Supono lain yang menanti uluran tangan Ganjar. Akan tetapi, masih lekat di ingatan bagaimana seorang kader PDIP di Jateng, Fajar Nugroho, yang mengembalikan bantuan yang diberikan oleh Ganjar. Ada anggapan, penolakan itu lantaran Fajar Nugroho mendapat tekanan dari pengurus PDIP. Yang pasti, Ganjar berikhtiar tidak berhenti memberikan bantuan. 

 

Begitu juga dengan Anies Baswedan. Sejumlah relawan Anies pun sudah melakukan hal serupa seperti relawan-relawan Ganjar. Para relawannya juga bergerak lincah ke berbagai wilayah. Tapi persoalan Jakarta mungkin terbilang lebih ruwet ketimbang berbagai daerah lainnya. Sebagai Ibu Kota Negara, sekecil apapun kejadian bisa berdampak di dunia internasional.

 

Sejauh ini Anies begitu membanggakan kinerja, seperti mengurangi banjir di DKI Jakarta lewat pembuatan sumur resapan yang harus mengokupasi jalan raya. Atau membanggakan progres Jakarta International Stadium, stadion terbesar di indonesia yang sanggung menampung 82 ribu penonton. Rencananya, stadion ini akan diresmikan pada Maret 2022. Sejujurnya sih, langkah awal pembuatan stadion ini sebenarnya dimulai pada zaman Jokowi ketika menjadi Gubernur DKI Jakarta pada 2012.

 

Tapi ya sudahlah, siapapun pemimpinnya, memang ditakdirkan untuk mengawali atau kemudian kebagian meresmikan. Yang dibutuhkan sekarang adalah bagaimana nama-nama tersebut bersaing secara sehat untuk merebut hati parpol dan juga rakyat. Kalau anda semua lebih sering bersilat kata, jangan lupa ada jejak digital yang setiap saat bisa diungkap nyata.

VIDEO TERKAIT :

BERITA TERKAIT