09 January 2022, 05:00 WIB

Masyarakat Konsumsi


Adiyanto Wartawan Media Indonesia | Opini

MI/Ebet
 MI/Ebet
Adiyanto Wartawan Media Indonesia

DALAM suatu kecelakaan pesawat, Chuck Noland harus bertahan hidup di sebuah pulau tak berpenghuni. Ia satu-satunya penumpang yang selamat. Untuk menemani kesendiriannya di pulau itu, ia menciptakan tokoh khayalan berupa sebuah bola voli yang ia temukan dari puing-puing bagasi pesawat nahas tersebut.

Benda itu ia anggap layaknya manusia. Punya mata, hidung, serta mulut yang ia gambari dengan darahnya. Benda itu ia beri nama Wilson. Wilsonlah yang menjadi teman untuk menemaninya bicara, tertawa, dan menangis selama masa pengasingannya itu. Bahkan, dalam satu kesempatan upayanya menyelamatkan diri, Noland nekat mengabaikan keselamatan dirinya dengan melompat dari rakit buatannya hanya untuk menyelamatkan ‘kawan setianya’-nya itu yang tersapu badai.

Kisah Noland merupakan cerita nyata yang diangkat ke layar lebar dengan judul Cast Away pada 2000. Film yang dibintangi Tom Hanks itu merupakan drama survival yang menggambarkan bagaimana seorang manusia harus berjuang sendirian hampir empat tahun lamanya di sebuah pulau tak berpenghuni. Jika meminjam istilah sekarang, kita mungkin menyebut Noland halu (mengalami halusinasi) karena berbicara dengan benda mati. Namun, justru itulah satu-satunya cara agar dia selamat dari keterasingan dan tidak gila.

Lantas, bagaimana kita membaca fenomena mereka yang memelihara boneka arwah dan memperlakukan layaknya manusia seperti yang marak diberitakan belakangan ini? Apakah mereka juga sudah tidak waras atau kesepian sehingga perlu berteman dengan benda mati kendati hidup di tengah hiruk pikuk peradaban modern? Eits… jangan buru-buru menghakimi. Bukankah sebagian dari kita pun melakukan hal yang sama dalam memperlakukan perangkat teknologi. Lewat unggahan di status Whatsapp, Facebook, Twitter, atau Insta Story, kita tak jarang meluapkan keresahan atau apa pun yang melintas di benak kita, bahkan sering kali tanpa dipikir dulu. Gawai jadi teman curhat dari bangun tidur hingga menjelang mimpi. Seolah-olah dunia harus ikut tahu dan merasakan keresahan dan kegelisahan yang kita alami. Sementara karena saking asyiknya, kadang justru malah mengabaikan orang-orang terdekat di sekitar kita.

Mending bicara dengan bola voli atau boneka daripada status atau unggahan Anda jadi bahan tertawaan atau bahkan malah menyakiti orang lain. Perkara orang membeli boneka (yang konon katanya bisa diisi arwah) hingga jutaan rupiah, menurut saya, itu sih hal yang lumrah. Kata Jean Baudrillard, pemikir Prancis, dalam masyarakat konsumsi apa pun bisa jadi objek yang diperjualbelikan, termasuk kesenangan. Orang yang rela menjual tanah hanya untuk membeli ikan koi seharga Rp1 miliar, ada kok. Begitu juga dengan batu akik, keris, merpati, mainan action figure, dan sebagainya. Bahkan, November tahun lalu, Wilson, bola voli yang pernah dipakai syuting di film Cast Away ada yang beli hingga Rp4 miliar dalam sebuah acara lelang.

Selama kepuasan jiwa-raga sang empunya terpenuhi, ya, biarkan saja. Yang tidak boleh ialah menyembah dan menuhankan benda-benda tersebut. Menurut agama, itu perbuatan syirik namanya.

BERITA TERKAIT