03 January 2022, 12:30 WIB

Dunia Pendidikan dan Kewajiban Provider di Masa Pandemi


Patrick Hutajulu, External Communications Manager Tanoto Foundation | Opini

Dok pribadi
 Dok pribadi
Patrick Hutajulu

PANDEMI covid-19 yang berlangsung sejak Maret 2020 telah mengubah banyak hal dalam kehidupan manusia. Aktivitas keseharian mulai dari cara berkomunikasi, bekerja, hingga belajar mengajar di sekolah dan kampus, berubah total. Keseluruhan didominasi kegiatan berbasis daring. 

Bila sebelum masa pandemi penggunaan internet untuk siswa lebih sebagai penunjang aktivitas belajar mengajar, saat ini internet menjadi kebutuhan utama. Karena hampir sebagian besar kegiatan belajar mengajar dilakukan secara daring dan tentu saja hal itu bergantung pada jaringan internet. 

Menurut BPS ada 68 juta siswa yang harus bergeser pola melakukan pembelajaran secara daring. Hal ini mempengaruhi angka penggunaan internet untuk kegiatan belajar mengajar, di mana di 2020 meningkat 16,64% dari 2018. Angka ini didominasi oleh perguruan tinggi sebesar 95,3%, kemudian SMA/sederajat sebesar 91,01% dan SMP/sederajat sebesar 73,4% serta siswa SD sebesar 35,97%. 

Tidak bisa dipungkiri aktivitas-aktivitas tersebut menimbulkan beberapa masalah baru, seperti;

1. Akses internet
Tidak semua daerah di Indonesia memiliki akses internet yang sama baiknya dengan di kota besar. Kementerian Komunikasi dan Informatika melaporkan pada 2020 ada sekitar 9.113 daerah yang tidak tersentuh jaringan 4G, dan 3.435 daerah non 3T yang juga tidak tersentuh jaringan ini. Jika ditotal, ada sekitar 12.548 daerah blankspot di Indonesia. 

2. Literasi digital
Tingkat pengetahuan perangkat sekolah dan murid akan penggunaan internet dan perangkat digitalnya tidak merata antara satu kota dengan lainnya. Menurut Bank Dunia di 2020 ada 67% guru kesulitan menggunakan internet dan perangkat digital terutama kanal pembelajaran daring. 

3. Kualitas internet dan harga kuota
Tingginya harga kuota internet dan koneksi sinyal 4G yang buruk, turut membuat belajar daring sulit dilakukan sebagian besar siswa dan keluarganya. Berdasarkan Survei Belajar dari Rumah Agustus 2020, 62% guru menggunakan uang pribadi untuk mengakses internet dan pengeluaran mereka naik 69% tiap bulannya. Sedangkan survei SMRC 2020 menyebutkan, 67% masyarakat terbebani dengan biaya dikeluarkan pada program pembelajaran daring atau belajar dari rumah selama pandemi.  

Karena itulah diperlukan kerja sama semua pihak, baik dari pemerintah, swasta, dan masyarakat. Beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai langkah awal mengatasi masalah-masalah baru tersebut adalah sebagai berikut;

1. Pemerataan akses internet
Menurut Ketua Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Jamalul Izza, tantangan utama tidak meratanya penyebaran akses internet di Indonesia adalah faktor geografis. Indonesia dengan puluhan ribu pulau, luas laut, dan banyak pegunungan menjadi alasan sulitnya pemerataan pembangunan infrastruktur. Pemerintah perlu mengeluarkan kebijakan untuk hal ini dengan mewajibkan para penyelenggara jasa internet menambah coverage area, terutama di daerah 3T (terdepan, terluar dan tertinggal). Namun jangan hanya membebani dengan kewajiban, tapi juga diberikan kemudahan dalam pelaksanaannya. 

2. Pelatihan guru, murid, orang tua
Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi dapat mengadakan pelatihan digital kepada perangkat sekolah dan orangtua murid bekerja sama dengan institusi pendidikan seperti kampus. Para mahasiswalah akan memberikan pelatihan yang bisa dimasukan sebagai program magang atau kuliah kerja.
 
3. Paket internet murah
Para penyedia internet sebagian besar selama pandemi memperoleh peningkatan laba karena penetrasi internet yang meningkat drastis. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) menorehkan kinerja keuangan positif di kuartal III-2020. Tercatat hingga September 2020 BUMN ini mengantongi laba bersih Rp16,68 triliun atau naik 1,3%. Sedangkan Linknet mencatatkan adanya penambahan jumlah pelanggan terbanyak di FY2020 sejumlah 171 ribu pelanggan menjadi 839 ribu atau meningkat 25%. 

Dengan fakta gamblang seperti peningkatan laba yang signifikan, para provider dapat disarankan memfokuskan program CSR mereka untuk pemberian bantuan paket internet khusus kepada daerah-daerah 3T.
 
Ini menjadi pekerjaan rumah bersama pemerintah dan masyarakat. Dengan kondisi yang belum memungkinkan untuk dilakukan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka, metode daring sepertinya akan tetap berlangsung dalam beberapa waktu ke depan. Bila hal ini dibiarkan berlarut-larut, kesenjangan pendidikan yang sudah terjadi di Indonesia sebelum pandemi akan semakin buruk dan mengancam masa depan negara Indonesia. Kita bersama untuk Indonesia luar biasa.


Patrick Hutajulu, Peserta Workshop Public Speaking & Content Writing Tanoto Foundation-Media Indonesia


 

BERITA TERKAIT