22 December 2021, 05:00 WIB

19 Desember Seruan Kemenangan


Guntur Soekarno Pemerhati Sosial | Opini

MI/Seno
 MI/Seno
Ilustrasi MI

PADA 19 Desember 1961 di alun-alun Yogyakarta, Bung Karno menggelorakan Tri Komando Rakyat (Trikora) dalam rangka membebaskan Irian Barat dari cengkraman kolonialis Belanda. Isi dari Trikora itu ialah: 1. Gagalkan pembentukan Negara Papua bikinan kolonial Belanda, 2. Kibarkan sang ‘Merah Putih’ di Irian Barat Tanah Air Indonesia, 3. Bersiaplah untuk mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air dan bangsa.

Dengan adanya machtsvorming (penyusunan kekuatan) dari seluruh seluruh elemen bangsa Indonesia, terutama angkatan bersenjata dan mobilisasi sukarelawan-sukarelawan yang mencapai jumlah 21 juta manusia, membuat dunia internasional terutama Amerika Serikat, Inggris bahkan Belanda terkejut. Mereka mulai berpikir bahwa kali ini Indonesia tidak lagi bersedia berbicara dengan mulut, tetapi siap untuk berbicara dengan meriam dan bom. Bahkan siap untuk melakukan invasi ke Irian Barat melalui operasi Jayawijaya yang dipimpin Mayjen Suharto. Menghadapi kenyataan ini pihak-pihak barat mulai berubah pikiran dan menekan Belanda agar menyerahkan Irian Barat kepada NKRI. Dalam hal ini peranan Presiden John Fitzgerald Kennedy dan Jaksa Agung Robert Kennedy sangat besar.

Agar pihak Belanda tidak kehilangan muka disepakati adanya masa transisi di mana Belanda menyerahkan kekuasaan atas Irian Barat kepada PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa), untuk selanjutnya menyerahkan kekuasaan dan kedaulatan Irian Barat kepada NKRI. Sebenarnya begitu ada Trikora, pasukan Indonesia sudah diterjunkan ke pedalaman Irian Barat baik melalui udara ataupun laut. Salah satunya dipimpin seorang anggota Resimen Pelopor Brimob Kepolisian dan mantan pengawal pribadi Bung Karno anggota Detasemen Kawal Pribadi (DKP) Hudaya Maria. Yang bersangkutan punya peranan besar ketika mengawal Presiden dan keluarga harus mengungsi ke Desa Kandangan karena Yogyakarta mengalami serangan dari kolonialisme Belanda pada 1947. (Perang Kemerdekaan I).

Para sukarelawan disusupkan ke Irian Barat melalui laut termasuk di dalamnya sukarelawati Herlina Kasim yang belakangan mendapat penghargaan pending emas dari Panglima Tertinggi ABRI, Bung Karno. Mengenai penunjukan Suharto sebagai Komando Operasi Jayawijaya ialah sesuai dengan saran dari Komandan DKP Mangil Martowidjojo. Adapun pertimbangannya ialah peran Suharto pada Serangan Umum 1 Maret yang di bawah kepemimpinannya TNI berhasil menduduki ibu kota Yogyakarta selama 6 jam.

 

 

Peranan Kennedy

Sebagai yang sudah diketahui umum hubungan pribadi antara Bung Karno dan John F Kennedy sangat baik. Mereka punya pandangan-pandangan yang sama mengenai berbagai hal di dunia, khususnya seperti masalah perang dingin, perang Vietnam bahkan masalah Kuba. Atas penjelasan-penjelasan dan saran dari Bung Karno yang mewakili negara-negara Non-Blok 1961 di Beograd, Yugoslavia, Kennedy bermaksud menarik keseluruhan pasukannya dari Perang Vietnam agar Vietnam Utara dan Selatan dapat bersatu menjadi satu negara berdaulat di kawasan Indochina.

Pendapat yang menyatakan bahwa penarikan pasukan Amerika Serikat dari Vietnam Utara akibat adanya tekanan dari kelompok ideologi kiri baru (New Left) yang sedang marak di Amerika Serikat, tidak sepenuhnya benar. Sebab utamanya adalah seperti apa yang sudah dijelaskan di atas. Begitu pula Presiden Kennedy tidak akan melakukan lagi semacam operasi Teluk Babi (Bay Pig)-nya CIA yang ternyata gagal total.

Untuk menyelidiki secara pasti mengenai niat Indonesia melakukan invasi ke Irian Barat, selain mengirimkan pesawat mata-mata U-2, ia juga mengutus sang adik Robert Kennedy yang saat itu menjabat sebagai Jaksa Agung, mengunjungi Indonesia. Selain untuk mengadakan pembicaraan dari hati ke hati dengan Bung Karno, juga untuk melihat secara langsung persiapan-persiapan invasi ke Irian Barat, terutama di bidang kemiliteran. Perlu diketahui saat itu Indonesia ialah negara terkuat di bidang militer di Asia kecuali RRC.

Untuk diketahui Bung Karno/Indonesia saat itu menyiapkan berskadron-skadron pesawat tempur MIG-15, MIG-17, MIG 19, MIG-21 yang berudal. Di samping itu juga pesawat-pesawat pembom jarak jauh TU-16 yang dilengkapi rudal udara ke darat juga pesawat angkut Antonov. Angkatan Laut dilengkapi kapal-kapal perang jenis MTB (motor torpedo boat) fregat, destroyer bahkan penjelajah RI-Irian sebagai kapal bendera. Belum lagi tank-tank amfibi PT-76, peluncur roket Katyusha. Tidak ketinggalan rudal-rudal dari udara, tank-tank berat, dan lain-lain.

Melihat persiapan yang begitu hebat terkait kesiapan Indonesia, Robert Kennedy memberi laporan kepada Presiden John F Kennedy mengenai hal tersebut. Dari 2 informasi di atas, yaitu pantauan U-2 CIA dan Jaksa Agung, Amerika memberikan tekanan lebih masif kepada Belanda agar segera 'hengkang' dari Irian Barat. Maksud Belanda untuk mendatangkan kapal induk andalannya Karel Doorman juga tidak berhasil karena dibuat 'macet' di Terusan Suez oleh Presiden RPA Gamal Abdul Nasser, sahabat kental Bung Karno.

Dengan adanya fakta tadi akhirnya Belanda 'menyerah' dan bersedia menyerahkan kedaulatan atas Irian Barat kepada NKRI. Mengenai nama Irian Barat menurut penuturan Bung Karno ialah dari pahlawan Frans Kaisiepo yang menyatakan bahwa Irian Barat berarti 'sinar yang menghalau kabut', sedangkan Papua berarti 'daerah hitam perbudakan'. Oleh sebab itu, Bung Karno mengganti nama Papua New Guinea menjadi Irian Barat.

Menurut hemat penulis, saat ini nama Papua sebaiknya dikembalikan dengan nama Irian Barat agar semangat 19 Desember 1961, semangat Trikora dapat selalu berkobar di seluruh dada warga Irian Barat sehingga tidak ada lagi teroris kelompok kriminal bersenjata (KKB) dan separatis OPM di Irian Barat. Seorang ahli filosof barat menyatakan what is a name? (apalah artinya nama), tapi menurut Bung Karno, banyak hal di dalam suatu nama. There is many things in the name. Oleh karena itu, bukan Papua, tapi Irian Barat.

BERITA TERKAIT