19 December 2021, 05:00 WIB

Meta Semesta


Adiyanto Wartawan Media Indonesia | Opini

MI/Ebet
 MI/Ebet
Adiyanto Wartawan Media Indonesia

BEBERAPA tahun lalu, saya pernah menemani anak keliling kompleks untuk berburu monster Pokemon. Saya senang karena dengan begitu dia jadi sering keluar rumah, tidak mager alias malas gerak. Gim Pokemon Go yang sempat mendunia ialah gim yang menggabungkan realitas di dunia nyata dengan dunia virtual. Setiap pemain gim ini pasti ingin berburu monster Pokemon sebanyak-banyaknya. Hal itu bisa dilakukan dengan cara berjalan-jalan sambil membuka aplikasi Pokemon Go. Selanjutnya, jika ada Pokemon yang ada di dekat kita, otomatis ponsel akan memberikan notifikasi penampakan makhluk virtual tersebut.

Ilustrasi di atas merupakan sekadar gambaran sederhana tentang metaverse (meta semesta) yang kini lagi hangat jadi perbincangan warganet. Apalagi, setelah bos Facebook Mark Zuckerberg berencana mengembangkan platform usahanya di sektor tersebut. "Dalam metaverse, Anda akan dapat hang out, bermain gim dengan teman, bekerja, berkreasi, dan banyak lagi," kata Zuckerberg seperti dikutip Deutch Welle, pertengahan Oktober lalu.

Metaverse merupakan pengembangan generasi berikutnya dari internet sebagai lingkungan virtual yang memungkinkan orang untuk hadir di ruang digital tiga dimensi. Selama ini sebagian dari kita telah mengalami versi sederhananya, seperti rapat lewat Zoom atau mengikuti webinar. Bergabung dan berdiskusi dengan orang yang bahkan sebelumnya tidak kita kenal, tanpa perlu bertemu secara fisik. Begitu pun dalam berbelanja online. Anda tidak perlu berbecek-becek ria ke pasar tradisional atau pusing cari parkir di mal atau supermarket.

Bedanya, kata Bill Gates, dalam metaverse sensasinya lebih canggih lagi. Dalam blog pribadinya, sang pendiri Microsoft itu meramalkan cara orang mengadakan sebagian besar pertemuan virtual bakal berubah dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Nantinya, kata dia, manusia bisa merasakan sensasi nyata avatar 3D saat melakukan pertemuan virtual. Mungkin contoh sederhananya bisa Anda rasakan saat bermain gim The Sims, yakni serial permainan simulasi kehidupan yang telah terjual lebih dari 200 juta di seluruh dunia. Dalam permainan itu, pemainnya dapat melakukan aktivitas layaknya di kehidupan nyata, seperti memelihara tanaman ataupun hewan.

Berkat kecanggihan teknologi, realitas antara dunia nyata dan virtual memang kini semakin cair. Tidak hanya manusia yang dapat hadir di ruang virtual, tapi juga monster Pokemon dapat muncul di dunia nyata. Tahun lalu, mendiang Whitney Houston bahkan bisa menggelar konser keliling dunia. Tentu saja hal ini dimungkinkan dengan bantuan teknologi hologram. Kehadiran sang diva yang wafat pada 2012 itu memang semu, tapi keharuan yang dialami ribuan penggemarnya di konser itu nyata, termasuk uang puluhan hingga ratusan juta yang telah rela mereka keluarkan untuk membeli tiket.

Tidak dimungkiri bila kecanggihan teknologi telah mengubah perilaku manusia, termasuk dalam mengonsumsi dan menikmati kesenangan. Generasi muda kini bersedia membayar uang sungguhan untuk barang-barang yang sepenuhnya virtual, seperti meng-upgrade senjata untuk bermain gim Call of Duty. Jangan heran jika token/voucer Google Play yang dijual di minimarket waralaba yang berjajar di kampung-kampung, laris manis diserbu ABG. Begitu pun aplikasi pemoles kamera/video yang banyak diunduh (tidak gratis tentu saja), lantaran dapat membuat penggunanya terlihat ‘keren’ di Instagram.

Nilai di dunia nyata yang dapat didulang melalui barang-barang digital inilah yang membantu menjelaskan mengapa para perusahaan teknologi raksasa ingin mengembangkan metaverse. Tidak cuma Facebook, Microsoft, Tencent, dan Google pun berencana mengembangkan meta semestanya sendiri. Ujung-ujungnya memang cuan. Namun, itulah bagian dari inovasi agar tidak terdisrupsi di era digital. Siapa yang tidak cepat beradaptasi dia bakal tertinggal dan kesepian, persis seperti yang dikhawatirkan Menteri Keuangan Sri Mulyani pada acara Indonesia Fintech Summit, akhir pekan lalu.

BERITA TERKAIT