12 December 2021, 05:00 WIB

Bijak Berbelanja


Adiyanto Wartawan Media Indonesia | Opini

MI/Ebet
 MI/Ebet
Adiyanto Wartawan Media Indonesia

MINGGU lalu saya mengunjungi kios buku bekas di kawasan Margonda, Depok, Jawa Barat. Pemiliknya orang Batak. Lae, sebut saja demikian namanya (terus terang saya juga tidak tahu nama sebenarnya). Hubungan kami tidak sebatas penjual dan pembeli, tapi sekaligus juga partner diskusi. Pengetahuannya luas. Ia tidak hanya paham seputar isi buku, tapi juga isu-isu terkini, dari musik hingga politik.

Dalam pertemuan yang kesekian kalinya itu, kali ini dia lebih banyak curhat. Dari soal putrinya yang malas membaca hingga kondisi kiosnya yang kini makin sepi pembeli. “Gimana enggak sepi, kampus-kampus di sekitar sini tutup,” keluhnya dari balik meja. Saya hanya mengiakan sembari menyelinap di antara tumpukan buku yang berdebu.

Percakapan kecil ini memang sering terjadi. Kadang kami bisa berlama-lama ngobrol sembari menyeruput kopi. Sesuatu yang tidak mungkin saya temukan jika berbelanja buku di Gramedia, apalagi Amazon. Selain lebih ekonomis, hubungan personal inilah yang membuat saya hingga kini betah berburu buku di lapak-lapak semacam ini. Namun, mungkin kehadiran orang-orang seperti si Lae ini, kelak juga bakal tergerus seiring dengan pesatnya perkembangan zaman. Jangankan pedagang kecil, ritel besar pun banyak yang terpental di era digital.

Kehadiran algoritma pintar membuat para produsen kini semakin mudah menjangkau dan merayu konsumen, bahkan hingga alam bawah sadar mereka. Ditopang mahadata, para produsen tidak perlu mengajak ngobrol apalagi menyuguhkan kopi kepada calon pembeli. Mereka bahkan dapat membaca dan mendikte selera melalui kebiasaan atau perilaku kita di dunia maya. Anda tidak perlu kaget ketika telepon genggam Anda dibanjiri iklan penawaran pinjaman, setelah sebelumnya Anda mungkin mengeklik atau membaca artikel cara mengatur keuangan.

Hal semacam itu juga bisa berlaku untuk produk lainnya, dari otomotif hingga popok bayi, tergantung pada apa yang sedang kita pikirkan dan butuhkan saat itu. Cookiefile kecil yang digunakan situs web untuk menyimpan data kunjungan, salah satu faktor yang memungkinkan itu semua terjadi. Di era big data, kita memang seakan hidup dalam pengawasan ‘Big Brother’ seperti yang digambarkan George Orwell dalam novelnya 1984. Semua tindak-tanduk kita kini selalu diintai, terutama oleh para pengiklan.

Selain makhluk sosial, manusia ialah makhluk ekonomi yang perlu mengonsumsi, dari pangan hingga kesenangan. Dengan perkembangan dan kemajuan teknologi, hal itulah yang kini semakin dieksploitasi. Para produsen kini berlomba-lomba memanfaatkan big data untuk sebanyak-banyaknya meraup laba. Itu wajar dan sah-sah saja. Kini, tinggal bagaimana bijaksananya kita menyikapi itu semua.

Konsumen sebetulnya juga diuntungkan dengan adanya big data. Dengan begitu, mereka bisa dengan mudah membandingkan harga antara satu produsen dan produsen lainnya untuk produk yang sama. Namun, jangan mentang-mentang murah, lantas semuanya dikonsumsi tanpa tahu nilai guna dan manfaat dari barang atau produk tersebut. Bijaksanalah dalam berbelanja, apalagi di Harbolnas (Hari Belanja Online  Nasional) yang dimulai hari ini. Jangan kalap. Hati-hati dengan jari dan juga dompet Anda.

BERITA TERKAIT