15 November 2021, 05:10 WIB

Merayakan Keberagaman


Dody Wibowo Direktur Advokasi dan Pemberdayaan Masyarakat Yayasan Sukma | Opini

Dok. Pribadi
 Dok. Pribadi
     

TOLERANSI dalam kehidupan masyarakat di Indonesia yang beragam sering dilihat sebagai keadaan ideal yang penting untuk diwujudkan. Kurikulum pendidikan nasional menempatkan toleransi sebagai salah satu nilai dan keterampilan yang perlu dimiliki dan dikembangkan para pembelajar. Toleransi dalam pendidikan di Indonesia dimaknai sebagai 'sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnik, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya' (Pusat Kurikulum Kemendiknas, 2010). Tetapi, apakah definisi ini sudah cukup untuk memahami berbagai masalah intoleransi yang ada di Indonesia? Bermanfaat untuk merancang kegiatan untuk merespons keberagaman? Jika belum cukup, lalu apa yang masih perlu ditambahkan?

 

 

Mengenal (kembali) toleransi

Studi toleransi menyatakan bahwa toleransi hanya bisa dibahas di masyarakat yang beragam dan demokratis. Dalam demokrasi, masyarakat yang beragam saling berinteraksi di berbagai sektor, menunjukkan perbedaan, dan mungkin terlibat dalam konflik antar mereka (Vogt, 1994; Baruch, 2008). Di sini, konflik dimaknai sebagai situasi ketika ada perbedaan atau ketidaksesuaian tujuan antarpihak yang perlu dikomunikasikan.

Dalam masyarakat yang beragam, kita juga perlu memahami relasi kuasa antarmereka. Relasi kuasa yang tidak setara sangat mungkin terjadi, yang kemudian memunculkan kelompok mayoritas dan minoritas. Di sini perlu diingat, kelompok mayoritas yang memiliki kuasa besar belum tentu memiliki jumlah anggota yang banyak. Begitu juga sebaliknya, kelompok minoritas yang memiliki kuasa kecil belum tentu memiliki jumlah anggota yang sedikit.

Keberagaman dan ketimpangan kuasa ialah dua faktor yang menjadikan toleransi penting untuk dibicarakan. Toleransi memiliki akar dari kata dalam bahasa Latin, tolerare yang berarti penerimaan terhadap tindakan, kepercayaan yang sebenarnya dianggap salah. Dari arti kata tersebut, toleransi mensyaratkan dua hal. Pertama ada hal yang tidak disukai karena hal tersebut dianggap salah. Kedua ada kuasa yang dimiliki untuk melenyapkan hal yang tidak disukai tersebut. Selain itu, yang juga perlu dipahami ialah toleransi tidak terbatas pada hal yang berkaitan dengan identitas agama dan etnik saja. Ada beragam identitas yang juga menjadi subjek keberagaman, seperti jenis kelamin, kemampuan fisik, dan ideologi.

 

 

Respons terhadap keberagaman

Dalam masyarakat yang beragam dan memiliki ketimpangan relasi kuasa, bagaimana sebaiknya masyarakat (terutama bagi masyarakat yang memiliki kuasa besar) bersikap? Dari literatur yang ditulis Walzer (1999) dan Frost (2017), respons terhadap keberagaman dan ketimpangan relasi kuasa bisa dilihat sebagai sebuah tahapan yang terdiri dari lima tahap, dan toleransi berada di tahap paling awal.

Toleransi ialah kondisi minimal yang bisa dilakukan masyarakat, dan bukan kondisi yang ideal. Dalam toleransi masih ada unsur ketidaksukaan dan perasaan merasa paling benar, tetapi kemudian pihak tersebut memilih tidak menggunakan kuasa yang dimiliki untuk melenyapkan. Dia membiarkan perbedaan itu tetap ada. Toleransi diperlukan untuk mencegah terjadinya penggunaan kekerasan dalam merespons konflik. Di tahap ini, jika seseorang yang punya kuasa besar merasa batas toleransinya sudah tidak bisa diperluas, ada kemungkinan dia akan menggunakan kuasanya untuk melenyapkan hal yang tidak disukainya dan dianggapnya tidak benar. Manifestasinya bisa dalam bentuk penggunaan kekerasan.

Tahap selanjutnya ialah ketidakacuhan, yaitu keadaan ketika seseorang atau kelompok orang tidak merasa terganggu dengan perbedaan yang ada dan memilih tidak memedulikan ataupun membahasnya (Engelen dan Nys, 2008). Setingkat di atasnya ialah tahap ketika seseorang mengakui dan menghargai perbedaan yang dimiliki semua individu. Di tahap ini seseorang tahu bahwa tiap individu memiliki hak yang sama untuk mengaktualisasikan identitasnya dan mempraktikkan kepercayaan maupun budayanya, tetapi dia belum merasakan suatu kepentingan untuk mengenal atau memahami perbedaan tersebut.

Pada tahap keempat, seseorang bukan hanya mengakui dan menghargai perbedaan, tetapi dia juga merasa perlu untuk mempelajari perbedaan tersebut. Individu yang berada di tahap ini bersikap terbuka dan menunjukkan antusiasmenya untuk mengenal dan memahami hal-hal yang dia anggap berbeda atau sebelumnya dia anggap salah. Di tahap ini, walaupun sudah ada keterbukaan untuk mengenal dan memahami perbedaan, belum muncul sikap kerelaan untuk ikut membela dan memperjuangkan hak mereka yang berbeda. Baru pada tahap terakhir, yaitu pluralisme, seseorang merasakan urgensi untuk tidak hanya menjadi teman bagi mereka yang berbeda, tetapi juga ikut memperjuangkan eksistensi mereka yang berbeda. Di tahap terakhir ini, seseorang atau kelompok melihat perbedaan sebagai keniscayaan dalam hidup yang perlu dijaga dan dirayakan.

 

 

Merancang pembelajaran 

Pemahaman mengenai tahapan dalam merespons keberagaman penting dimiliki para pendidik. Hal itu untuk bisa melakukan penilaian awal kesiapan pembelajar terhadap keberagaman dan menentukan baik pendekatan maupun materi pembelajaran yang bisa mencapai tujuan yang diinginkan. Tiap tahapan memiliki fokus materi pembelajaran yang berbeda. Tahap pertama berfokus pada pemahaman bahwa keberagaman ialah suatu keniscayaan yang harus dihadapi walaupun kita tidak menyukainya. Selain itu, tahap ini bertujuan untuk memahamkan relasi kuasa yang tidak setara antara kelompok mayoritas dan minoritas, serta mengajarkan keterampilan pengelolaan emosi sehingga pembelajar tidak memilih penggunaan kekerasan untuk menyelesaikan masalah. Tahap kedua mengajak pembelajar mengenali berbagai perbedaan yang ada di sekeliling mereka dan mengajarkan keterampilan bersimpati terhadap individu atau kelompok yang berbeda.

Tahap ketiga memberikan pengetahuan mengenai hak-hak tiap individu dan kelompok yang berbeda, termasuk di dalamnya ialah hak sosial, ekonomi, dan juga politik. Di tahap keempat, pembelajar diajak untuk mampu berkomunikasi secara aktif dengan mereka yang berbeda untuk memahami perbedaan secara utuh. Di tahap kelima, pembelajar diajak untuk mengenali posisinya di masyarakat beserta kuasa yang mereka miliki. Kemudian, diajarkan keterampilan yang bisa mereka gunakan untuk bersolidaritas, ikut memperjuangkan perlindungan dan pemenuhan hak bagi mereka yang berbeda serta memiliki kuasa kecil.

Ruang perjumpaan dan diskusi antarindividu yang berbeda harus selalu dibuka dan diperbanyak. Institusi-institusi pendidikan, juga masyarakat dan keluarga perlu mendorong semangat inklusivitas dalam berbagai kegiatan yang dilakukan. Pengeksposan terhadap perbedaanlah yang bisa membuat para pembelajar menyadari keberagaman individu, mengenal perbedaannya, memahami hak-hak individu dan kelompok yang berbeda, serta mengidentifikasi perbedaan kuasa antarindividu dan kelompok. Kemudian, pada akhirnya mampu menjadi individu-individu yang selalu aktif menjaga dan merayakan keberagaman.

BERITA TERKAIT